Kehadiran Yang Dirahasiakan

by -241 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Ada tiga hal yang kehadirannya dirahasiakan. Pertama, takdir. Allah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (Q.S. Al-Qamar[54]:49; Al-Mursalat[77]:23; Ar-Ra’d[13]:8). Tak seorang pun yang mengetahui ukuran, dan ketetapan Allah yang akan terjadi. Takdir termasuk perkara gaib (Q.S.Al-An’am[6]:59). Namun semua hal yang dikehendaki Allah pasti terjadi (Q.S.Ar-Rad[13]:11;Al-Ahzab[33]:17; Al-Fath[48]:11; Yasin[36]:82). Allah wujudkan semua hal yang dikehendaki-Nya (Q.S.Yasin[36]:87).

Saat takdir nyata dalam kehidupan, kita lebih sering memperhatikan ‘takdir buruk’ daripada takdir baik. Maka kita lebih banyak buruk sangka dan kecewa kepada Allah daripada syukur. Padahal, yang demikian ini adalah perasaan kita. Sedangkan dari sisi perbuatan Allah, takdir-Nya pasti baik. Rasulullah saw. bersabda, “Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidak menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad).

“Jika orang mukmin memperoleh sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur. Dan bila ditimpa sesuatu yang menyusahkan, dia bersabar” (HR. Turmudzi)/

‘Takdir buruk’ diperlukan agar kita mengenal kebaikan, selalu menyandarkan diri kepada Allah, bertaubat, meminta perlindungan kepada Allah dari hal-hal buruk serta kemaslahatan besar di balik kesulitan, atau pun musibah yang menimpa. Takdir buruk diperlukan agar seorang mukmin tidak sombong, ujub dan terlalu gembira (Q.S. Al-Hadid[57]:22-23).

Allah Maha Mengetahui apa yang paling maslahat untuk hamban-Nya. Lagipula, takdir tidaklah tunggal. Dalam ketidaktahuan takdir ini-lah Allah memberi peluang untuk doa dan usaha. Dan dalam tempaan takdir, seharusnya kita semakin kuat iman dan penuh harap kepada-Nya. Yang terpenting adalah tidak menjadikan Allah sebagai sandaran hanya pada saat susah atau ditimpa madarat.

Allah menggambarkan karakter kafir Makkah. Dulu, saat kemarau berkepanjangan— mereka meminta kepada Nabi Muhammad saw., agar memohonkan hujan kepada Tuhan-nya Nabi Muhammad saw. Mereka berjanji jika hujan turun dan kehidupan kembali normal, mereka akan beriman dan beramal salih. Namun setelah Allah menurunkan rahmat (hujan), mereka ingkar janji (Q.S. Yunus[10]:21)

Allah juga menggambarkan alangkah lalai kita kepada-Nya. Adakalanya musibah terjadi di darat, laut dan udara. Ada badai dan gelombang dari segenap penjuru. Dalam kondisi demikian, kita merasa terkepung (bahaya). Kemudian berdoa kepada Allah. Dalam doanya terselip janji,”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (Q.S. Yunus[10]:22).
Namun lalai saat Allah merahmati (memudahkan) dan menggembirakan kita dengan segala macam transportasi di darat, laut dan udara.

Kedua, rezeki. Biasanya kita fokus rezeki adalah harta benda. Rumah bagus, kendaraan, sawah, ladang dan sejenisnya. Kalaupun sudah ada, jika belum sesuai keinginan kita, terkadang dibilang ‘Belum rezeki”. Dengan cara culas, menyimpang maupun lurus, Allah akan memberi reziki sesuai ketentuan dan ukuran-Nya. Dan seberapa banyak kita mengumpulkan harta benda, sama saja; kita akhirnya mati. Bahkan terkadang tidak sampai menikmatinya sudah harus kembali ke hadirat Allah.

Yang miskin sibuk mencari nafkah; yang kaya sibuk mengumpulkan harta. Namun jika akhirnya mati, mengapa harus meninggalkan Allah atau membabi buta ?.

Allah dan RasulNya perintah mencari rezeki dengan cara yang baik (Q.S.Thaha[20]:21; Al-Baqarah[2]:168). “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya…”(HR. Ibnu Majah).

Kita tidak tahu tempat, jumlah, kapan datang dan pergi rezeki. Yang diperlukan adalah tetap usaha dan ikhtiyar sesuai ketentuan Allah. Tidak seharusnya berputus asa ketika rezeki hartanya pas-pasan. Dunia adalah tempat perubahan. Yang hari ini berhasil mengumpulkan uang dan harta banyak; boleh jadi bangkrut esok hari. Yang hari ini susah payah; boleh jadi esok penuh berkah. Maka tidak seharusnya mendzalimi diri di akhirat dengan meraih rezeki secara membabi buta dan menghalalkan segala cara.

Apa yang diperoleh belum tentu kita nikmati, belum tentu banyak, belum tentu memuaskan dan kekal. Sedangkan rezeki yang diperoleh secara illegal adalah musibah. Bahkan rezeki halal pun apabila tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga musibah (Q.S. Asy-Syu’ara[26]:88-89). Adapun orang beriman senantiasa berorientasi dan berjihad meraih karunia-Nya untuk akhirat (Q.S.Al-Isra’[17]:19; Ali Imran[3]:14,185,197; At-Taubat[9]:38).

Ketiga, kematian. Setiap orang pasti merasakan mati (Q.S. Ali Imran[3]:185). Tidak seorang pun bisa lari dari kematian dan Allah merahasiakan waktunya (Q.S. Al-Jumuah [62]:8; An-Nisa[4]:78; Al-Anbiya[21]:34; Ar-Rahman-55:26-27).

Meskipun kematian pasti hadir, banyak yang lupa mempersiapkan kehadirannya. Seorang mukmin percaya manusia bukan makhluk yang muncul tiba-tiba tanpa Pencipta (generatio spontania) sebagaimana anggapan filusuf atheis. Akan tetapi Allah menciptakannya dan pasti kembali kepada-Nya serta mempertanggungjawabkan amanat-Nya (Q.S.Al-Maidah[5]:105; Yunus[10]:23).

Jadi, orang beriman seharusnya mempersiapkan bekal perjalanan ke akhirat (Q.S. Al-Baqarah[2]:281). Jangan sampai menyesal seperti jutaan orang di alam kubur yang ingin kembali ke dunia agar bisa bersedekah, berbuat baik dan menjadi golongan yang salih (Q.S. Al-Mukminun[99-100).

Abdullah Ibnu Umar radiyallahu berkata, “Aku bersama Rasulullah saw., kemudian seorang sahabat Anshar mendatangi beliau. Dia mengucap salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mukmin yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu siapakah mukmin yang paling cerdas?”, Beliau menjawab, “Yang paling banyak ingat mati dan paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya. Mereka-lah yang paling cerdas.”(HR. Ibnu Majah).
Semoga kinakdir baik, rezeki barokah dan husnul khatimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.