Yang Hilang di Tahun Lalu

by -118 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Di beberapa tradisi, pergantian tahun hampir identik dengan foya-foya, mabuk, perkelahian, tindak kekerasan dan dosa karena alkohol. Hal seperti ini menandai perayaan kaum hedonis dan pertempuran abadi antara manusia versus alkohol. Banyak orang terlena oleh pergantian tahun. Seakan-akan tahun baru adalah pertanda keberhasilan di tahun sebelumnya atau kepastian di tahun berikutnya. Padahal boleh jadi kita telah kehilangan banyak hal.

Di tahun-tahun sebelumnya kita hanyalah korban sesat duniawi. Tidak beribadah, penuh permusuhan, dengki dan tak mensyukuri anugerahNya. Kita menuduh Tuhan tidak memberi apa-apa, padahal kehidupan adalah pemberian Tuhan. Kita merasa tidak punya apa-apa, padahal berTuhan adalah milik sempurna seorang hamba.

Kita kehilangan kenangan manis dengan Tuhan. Kita memutus hubungan dengan Tuhan karena kesombongan, tidak merasa diawasi dan menuntut terlalu banyak kepada-Nya. Kita anggap Tuhan tunduk di bawah kekuasaan kita dengan berbagai permintaan yang mungkin tidak kita perlukan. Kita minta umur panjang, kesehatan, kekuasaan dan kesejahteraan, tetapi untuk apa ? Apakah untuk ibadah dan kemuliaan sesama atau agar kita bisa berfoya-foya, senang, kenyang dan menang ?

Kita mengalami banyak hal; kebangkrutan, kegagalan, kematian orang-orang yang dikasihi, bencana, kehilangan dan sebagainya. Kita mencela dan buruk sangka kepada Tuhan karena banyak target yang tidak tercapai. Kita juga telah kehilangan umur dan kesempatan baik untuk berdekatan dengan-Nya. Kita mengira setiap akhir tahun adalah pertambahan umur, sehingga dirayakan sedemikian rupa dengan harapan mengalami tahun baru yang penuh kelimpahan dan keberhasilan. Padahal belum tentu akan mengalaminya, sebab hari esok adalah misteri (Q.S. Lukman[31]:34).

Tidak hanya itu, kita minta Tuhan mencabut keberkahan yang diterima orang lain. Kita buta terhadap kesusahan orang lain serta sesak-dada karena prestasi dan anugerah Tuhan kepada orang lain. Kita banyak mengeluarkan kata-kata busuk, bohong dan ghibah, maka langit penuh sampah oleh kata-kata kita. Bahkan agama ditelikung untuk memanipulasi kita agar tampak hebat dan mulia. Padahal sesungguhnya zalim dan cela. Kita menghalalkan segala cara dan tak punya malu untuk menggapai dunia dan kuasa sebanyak-banyaknya. Padahal saat kita mati, semua itu bisa menjadi bencana sebab kita tak mampu mempertanggungjawabkan harta, waktu, umur dan hidup kita di hadapan-Nya.

Kemeriahan Tahun Baru bukanlah hal baru. Inskripsi kuno memperlihatkan bahwa peristiwa itu diadakan di Babilon pada permulaan milenium ketiga Sebelum Masehi (SM). Pesta yang dirayakan pada pertengahan bulan Maret tersebut, sangat penting.

”Saat itu, dewa Marduk memutuskan nasib bangsa itu untuk tahun berikutnya,” kata The World Book Encyclopedia. Perayaan tahun baru Babilon berlangsung selama 11 hari dan mencakup pemberian korban, pawai, serta ritus kesuburan.

Selama beberapa waktu, orang Romawi juga memulai tahun mereka pada bulan Maret. Tetapi, pada tahun 46 SM, Kaisar Yulius Caesar menetapkan bahwa tahun baru harus dimulai pada awal bulan Januari. Hari itu telah dibaktikan kepada Janus, dewa asal mula, dan yang sekarang juga menandai hari pertama tahun Romawi. Tanggalnya telah diubah, tetapi suasana ingar-bingarnya tetap ada. Pada awal bulan Januari, orang-orang ”menyerah kepada tingkah laku liar yang kelewat batas”, kata McClintock and Strong’s Cyclopedia, ”dan berbagai jenis takhayul yang tidak beradab”.

Jika begitu, maka perayaan tersebut tidak selaras dengan iman. Agama Kristen menolak perayaan seperti itu. Mereka berpendapat bahwa, “Karena kemeriahan Tahun Baru selalu dicirikan oleh tingkah laku kelewat batas yang dikutuk Alkitab, orang Kristen tidak berpartisipasi di dalamnya.” Berpartisipasi dalam kemeriahan semacam itu dapat menimbulkan ketidaksenangan Allah. (Pengkhotbah 9:11; Yesaya 65:11, 12).

Pandangan ini relevan dengan perihidup sopan, terbatas (sederhana) dan loyal kepada Tuhan.
Semenarik dan semeriah apapun Tahun Baru, tidak sepantasnya orang beragama berkegiatan dengan hal-hal yang melewati batas dan menjadikan Tuhan tidak senang (Q.S. Al-Baqarah[2]:229; Ath-Thalaq[65]:1; An-Nisa[4]:14; Al-Ahzab[33]:36; Al-Jin[72]:23). Sebaliknya, jika kita meletakkan hidup dalam perspektif bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, niscaya kita akan berharap kepada Tuhan untuk senantiasa memberi berkah baik di masa kini dan masa yang akan datang. Hal ini juga bermakna adanya tanggungjawab kepada Allah dan usaha untuk memperbaiki keadaan dan keakraban dengan Tuhan.

Kita mungkin telah banyak kehilangan momentum di tahun sebelumnya. Kita telah menukar tauhid dengan syirik; sebab kita menuhankan kedudukan, harta dan nama. Kita merasa telah beramal banyak, padahal sesungguhnya telah musnah bagaikan debu ditiup angin dan kebun yang berantakan tak ada panenan (Q.S. Al-Baqarah[2]:234; Al-Kahfi[18]:103-104; Az-Zumar[30]:65; Al-Qalam[68]:17-33; Al-Kahfi[18]:32-40).
Namun demikian kita tidak boleh kehilangan Tuhan. Dia-lah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya, tempat berharap segala sesuatu. Tak ada yang mustahil di tangan-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi (Q.S,Yasin[36]:82; Hud[11]:107; Al-Buruj[85]:16). Dalam tempaan takdir, jiwa orang yang beriman tidak boleh terpatahkan, sebab Tuhan mengajari kita harapan.

Bila esok hari masih diberi kesempatan menghirup udara dan nafas masih berhembus; maka itulah kesempatan terbesar untuk menerima nasihat Tuhan, mengkalkulasi apa yang telah diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat (Q.S.Al-Hasyr[59]:18). Tak perlu menunggu esok hari untuk kembali kepada Tuhan. Jangan sampai Dia menganggap kita sebagai binatang yang pekak (Q.S. Al-Baqarah[2]:18; Al-Anfal[8]:22;Al-Furqan[25]:73).
Orang yang menerima firman Tuhan, kritik, melihat fakta, merenungkan diri sendiri dan mendengarkan nasehat, bisa menerobos kungkungan untuk menemukan diri sendiri. Seharusnyalah manusia bertanya siapa dirinya, dari mana asalnya dan kemana akan kembali. Siapapun yang mau menggunakan kekuatan kritik, introspeksi, fakta dan nasehat Ilahiah akan mampu mendobrak dinding hati yang tak tertembus dan terkunci oleh roh iblis (Q.S. Qaf[50]:37; Adz-Dzariyat[51]:21).

Saatnya tauhid yang tertukar syirik dan amal yang pudar; dikumpulkan kembali di sisa waktu. Tahun baru hanyalah waktu sekejap yang dikaruniakan Tuhan untuk menutupi luka lama, kekafiran dan kebusukan kita di tahun sebelumnya. Dan kita tidak akan bisa kembali kepada-Nya dengan tangan kosong. Bila masih ada hembusan nafas, itulah kesempatan untuk memuji Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Syukur dengan kesyukuran kita; yang telah memberi waktu untuk membangun keakraban denganNya. Sesungguhnya segala pencapaian dunia sama sekali tidak berguna melainkan tauhid dan amal salih (Q.S. Asy-Syu’ara[25]:88-89).
Semoga Allah mengampuni kita.[]
.

Leave a Reply

Your email address will not be published.