Nabi Yang Menyembuhkan

by -101 views

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Seluruh sejarah manusia menggambarkan pilihan dialektis antara tata sosial yang adil dan tidak adil. Ketika para Rasulullah hendak membangun tatanan yang adil, mereka menghadapi perlawanan, tuduhan buruk dan penindasan. Setelah nabi berhasil membangun tatanan, pun di kemudian hari banyak pengikut mengabaikan risalahnya. Maka kebutuhan akan nabi lain yang menyusun kepingan-kepingan tatanan dan membangun tata sosial baru, berlangsung seiring dengan perkembangan kultural masyarakat.

Akhirnya diutus Nabi Muhamad saw. sebagai rasul terakhir untuk seluruh umat (Q.S.Al-Baqarah[2]:213; Al-Ahzab[33]:40, Al-Maidah[5]:3, Al-Anbiya[21]:107; Saba’[34]:28). Beliau memberi kabar gembira dan peringatan (Q.S.Al-Baqarah[2};119; Al-Isra’[17]:105, Al-Furqan[25]:56; Al-Ahzab[33]:45; Saba’[34]:28; Fathir[35]:24). Di samping itu, secara khusus beliau menjadi saksi bagi orang yang menerima risalahnya (Q.S.Al-Fath[48]:8;Al-Baqarah[2]:143).

Pengertian kabar gembira (mubasyir/basyiran) ini semakna dengan Injil. Hal ini bisa dimaklumi sebab inti kerasulan adalah sama yaitu mengajak tauhid, memberi kabar gembira untuk orang yang menaati Allah dan peringatan kepada orang yang durhaka.

Ratusan tahun sebelum Nabi Muhamad saw., Allah mengutus ‘Isa bin Maryam kepada Bani Israil. Bagi sekelompok pendengki, kelahirannya dibenci; apalagi dia lahir dari seorang wanita tanpa suami (Q.S. Maryam[19]:27-28). Namun, Allah menegaskan bahwa Maryam adalah wanita suci dan salihah. Sedangkan kelahiran ‘Isa ‘alaihissalam merupakan kekuasaan mutlak Allah (Q.S. Maryam[19]:29-35).

‘Isa ‘alaihissalam sendiri bersyukur atas kelahiranya. Dia mengungkapkannya dengan permohonan kepada Allah,”Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (TQ.S. Maryam[19]:33).

Kalimat ini semakna dengan ucapan “Selamat Hari Lahirku” atau Happy My Birthday, Nderek bingah dhahiripun…. atau apalah sesuai dengan bahasa masing-masing umat, sebab di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Dia menjadikan umat berbeda bahasa dan warna kulitnya (Q.S.Ar-Rum[30]:22).

Adalah hal yang normal dan manusiawi apabila mensyukuri kelahiran. Apalagi ‘Isa ‘alaihissalam lahir dari wanita salihah yang berada dalam keluarga salih dan bertakwa serta asuhan utusan Allah (Q.S. Ali Imran[3]:36-37; At-Tahrim[66]:12). Ia merupakan saudara perempuan Nabi Harun (Q.S. Maryam[19]:28), suci (Q.S.Ali Imran[3]:47; Maryam[19]:49), takwa dan senantiasa berada di mihrab (Q,S, Maryam[19};11). Ia adalah pilihan Tuhan (Q.S.Ali Imran[3]:42), sedikit bicara, tekun beribadah (Q.S.Maryam[19]:26) dan nadzar sang ibu agar menjadi penghamba Allah (Q.S. Ali Imran[3]:33-35).

Tak ada yang memungkiri ketinggian derajat Maryam ‘alaihassalam di sisi Allah. Ia banyak disebut dalam firman Allah, sangat dikenal penduduk langit dan bumi. Saking mulianya, ia dikaruniai makanan langsung dari Allah Swt. (Q.S.Ali Imran[3]:37), dan memperoleh perintah langsung dari Allah untuk menikmati makanan dan minuman dari-Nya (Q.S. Maryam[19]:25-26).

Kegembiraan atas kelahiran ‘Isa ‘alaihissalam adalah kegembiran munculnya seorang utusan Allah yang bangkit menyembuhkan luka parah sejarah kemanusiaan dan penyakit rohani. Bahkan di saat menjelang kiamat, seluruh umat mengharap kehadirannya untuk melawan Dajjal.

Untuk hal seperti ini, semestinya semakin banyak ibu yang salihah dan anak-anak lahir dari mereka sebagai hamba yang dikenal penduduk langit supaya penduduk bumi semakin riang gembira karena tersebarnya kesalihan dan terangnya dunia oleh cahaya Ilahi. Jadi saat ia melahirkan, kita pun patut bersyukur dan riang gembira. Sekiranya Maryam adalah tetangga kita, kita pun layak menjenguk, berdoa dan mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Maryam bahagia.

Adapun kalau tidak bersyukur dan gembira, setidaknya tidak mencela orang yang mengucapkan kalimat gembira atas kelahirannya. Pun apabila ‘Isa ‘alaihissalam dianggap sebagai sesembahan oleh sebagian umat, kita tidak boleh mencelannya (Q.S.Al-An’am[6]:106).

Kita juga meyakini kebenaran mukjizat Nabi ‘Isa ‘alaihissam antara lain menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati, mengetahui apa yang dimakan dan disimpan kaumnya, menghidupkan burung dari tanah liat (Q.S. Ali Imran[3]:49; Al-Maidah[5]:110).

Di sisi lain, kita boleh memaknai bahwa buta, mati dan berpenyakit secara simbolik menunjukkan keadaan zaman. Sebagaimana mafhum, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam berhadapan dengan Raja Herodes yang dzalim, buta kebenaran, mati hati dan sakit rohani. Maka, ‘Isa ‘alahissalam mendapatkan perlawanan dari raja dan hulu balang termasuk para ahli kitab yang pragmatis dan oportunis (Q.S. Shaf[61]:6; At-Taubat[9]:34).

Permasalahan sosial memang sangat kompleks dan beraneka ragam. Akan tetapi substansinya adalah pertentangan antara golongan yang lemah dan kuat; keadilan dan kedzaliman. Pertentangan ini bersumber pada kesenjangan antara yang kuat dan lemah. Dalam situasi seperti itu tentu dia harus menyembuhkan penyakit akidah, kebutaan terhadap kebenaran dan kematian hati akibat gila dunia dan lalai akhirat.

Permasalahan tersebut sering timbul justru dari kelompok elit-kuat. Semua pertentangan mengarah pada bentuk ketidakadilan atau penindasan dari golongan elit-kuat. Kelompok ini terkadang terdiri dari individu diktator, golongan, strata sosial dan suatu bangsa. Jika golongan elit-kuat tidak memecahkan permasalahan dalam diri mereka, maka akan berubah menjadi masalah sosial yang membencana.

Kelompok elite-kuat, seharusnya dapat menopang kelompok yang lemah (mustad’afin) supaya seimbang. Kesetimbangan ini merupakan cermin di mana perbedaan kelas, bangsa atau goongan tidak digunakan untuk memperkuat diri atau menindas. Sebaliknya, untuk membantu kelompok lemah mendapat keadilan. Dan lebih khusus lagi, hubungan yang selaras antara kelompok kuat dan lemah merupakan manifestasi dari keadilan sosial dan keyakinan kepada Allah.

Tanpa upaya tersebut, pertentangan akan terus berkobar dan kesenjangan sosial tidak akan dapat dicegah. Pada tataran inilah Allah dan rasulNya menyatakan bahwa setiap ketidakadilan harus diberantas. Dengan menegakkan keadilan sosial dan keyakinan kepada Allah, masa depan umat akan harmonis, sentosa dan penuh rahmat.

Jadi, Allah menakdirkan kelahiran dan perutusan ‘Isa ‘alahissalam sebagai suatu cara untuk mendidik kehambaan kepada Allah Swt. sekaligus menguatkan rakyat dari kedzaliman Herodes dan agamawan gadungan. Dia mengobati penyakit dan menghidupkan kepercayaan kepada kuasa Allah. Dia berkorban untuk keselamatan umat serta menumbuhkan suatu nalar bahwa karunia Allah seharusnya digunakan untuk kemanusiaan.

Dia juga berusaha mencukupi kebutuhan umatnya dan berdoa mohon rezeki dari Allah agar umat yang membersamai dan sesudahnya dapat berhari raya/bergembira, adil dan makmur (Q.S. Al-Maidah[5]:112-115). Dia memilih hidup zuhd; menjauhi kemewahan; seimbang antara takut dan harap kepada Allah, berkhidmah untuk makhluk-Nya, halus budi kepada seluruh makhlukNya, fokus pada akhirat, mengenal hakikat dunia, mengenal karakter orang dan sedikit bicara. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.