Prioritas Disabilitas

by -148 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Nilai-nilai universalitas Islam seperti al-musawa/kesetaraan (Q.S. Al-Hujarat[49]:13) dan al-‘adalah/keadilan (Q.S.An-Nisa[4]:135); Al-Maidah[5]:8), menjadi landasan perlindungan penyandang disabilitas sekaligus pnolakan sikap dan tindakan diskriminatif terhadap mereka. Islam memandang semua manusia adalah setara. Yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya. Tak terkecuali para penyandang disabilitas. Mereka berhak mendapat perlakuan istimewa dan prioritas layanan fasilitas, termasuk fasilitas beribadah karena keterbatasan kemampuan yang mereka alami (persons with disabilities).

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas menyatakan, yang disebut penyandang disabilitas adalah orang yanag mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainya berdasarkan kesamaan hak. Adapun menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 70.Tahun 2009 tentang Penddikan Inklusif; mereka adalah kelompok istimewa, yaitu :tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita/retardasi mental, tunadaksa, tunalaras dan sejenisnya.

Berkaitan dengan disabilitas Allah Swt menyebutnya dalam Alquran Surat ‘Abasa[80], ayat 1-10. Ayat ini turun terkait sikap Nabi Muhammad saw. terhadap Ummi Maktum yang hadir dan memotong pemmbicaraan beliau dalam suatu majelis yang sangat penting .

Semula beliau sekejap berwajah masam kurang berkenan atas kehadiran Ummi Maktum di majelis yang kala itu Nabi sedang fokus berdiskusi dengan para tokoh. Namun setelah turun ayat tersebut, beliau sangat menghormati Umi Maktum. Bahkan Ummi Maktum mendapat prioritas di dalam Majelis Rasulullah saw. Beliau menggelar sorban untuk alas duduk Ummi Maktum, dan berkata,”Wahai sahabatku yang menyebabkan Allah menegurku.”
Allah menegur RasulNya dengan halus supaya jangan bermuka masam kepada orang yang datang kepadanya. Hendaklah bermuka manis dan menampakkan simpati sehingga orang-orang; khususnya disabilitas merasa bahwa dirinya dihargai.

Penyebutan orang buta dalam surat ‘Abasa merupakan pemberitahuan tentang uzur/keterbatasan yang harus dimaklumi. Dalam hal adalah Umi Maktum yang buta dan tidak mengetahui adanya situasi majelis sehingga memotong pembicaraan Nabi saw. Hal ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang perlu dimaklumi atas penyandang disabilitas sekaligus perlunya perhatian yang lebih atas mereka. Seolah-olah ayat ini mengatakan.”Karena Umi Maktum buta, maka seharusnya engkau (Muhammad saw.) lebih berbelas kasihan dan berlaku lemah lembut kepada mereka, walaupun engkau sedang dalam situasi yang sangat penting dan krusial.”

Secara khusus Alquran menyebut disabilitas dengan ‘umyun (tuna netra) dan dalam ayat lain, menyebut jenis disabilitas berupa pincang/tunadaksa (Q.S.An-Nur[24]:61). Penyebutan ini disebabkan terdapat peristiwa khusus. Namun apa yang disebutkan dalam Alquran secara juziyah (sebagian/parsial) sering dimnaksudkan untuk menyebutkan secara kuliiyah (keseluruhan/global). Maka, tidak berarti mengingkari disabilitas lainnya.

Allah juga memberi keringan kaum disabilitas apabila tidak mampu melaksanakan kewajiban agama yang tergolong berat (QS. Al Fath{48}:17). Hal ini dimaksudkan bahwa mereka harus memperoleh fasilitas untuk memudahkan dan meringankan mereka dalam beribadah maupun kehidupan sehari-hari. Jadi benar-benar harus memperhatikan dan berakhlak mulia kepada mereka. Sebab hal ini merupakan kewajiban agama.

Dari penafsiran ayat menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. Apalagi diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlak al-karimah. Nabi yang sekejap kurang berkenan saja, seoalah-olah dipersalahakn oleh Allah; apalagi jika menelantarkan dan mengabaikannya secara permanen.

Semakin jelas pula, melihat sebab turunnya Surat ‘Abasa tersebut bahwa mereka harus diperhatikan dan diterima secara setara sebagaimana manusia lainnya, bahkan memprioitaskannya. Dalam hadis disebutkan: “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut” (HR Abu Dawud).
Hadis ini memberi pemahaman bahwa dibalik keterbatasan fisik terdapat derajat yang mulia di sisi Allah. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadikan keterbatasan tersebut sebagai kekurangan, tapi justru sebagai tangga mencapai derajat yang tinggi. Rasulullah saw. juga mengkhabarkan kemuliaan mereka,” Allah berfirman: Barang siapa yang aku hilangkan kedua penglihatannya kemudian dia bersabar dan meminta pahala, maka Aku tidak rela kalau dia mendapat pahala selain surga.(HR. Abu Dawud)

Lebih spesifik Al-Quran secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap penyandang disabilitas: “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (TQ.S An-Nur [24]:61). Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang dan bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan setara dan diterima secara tulus, tanpa diskriminasi dan stigma negatif dalam kehidupan social.

Syaikh Ali Al-Shabuni dalam Tafsir Ayat al-Ahkam (I:406) menjelaskan substansi firman Allah (surat An-Nur ayat 61) bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan (tunanetra, pincang/tunadaksa dan sakit) untuk makan bersama orang-orang yang sehat (normal), sebab Allah membenci kesombongan dan orang-orang sombong. Sebaliknya Allah menyukai kerendahhatian dari para hamba-Nya

Semoga dengan memudahkan mereka di dunia, Allah mudahkan urusan kita di akhirat. Selamat Hari Disabilitas Internasional.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published.