Guru Terdekat

by -88 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Salah satu hal penting yang dikerjakan oleh seorang guru adalah mengembangkan konsep diri anak didik, yaitu sebagai hamba Allah. Konsep bermakna mengenalkan seperangkat gagasan mengenai diri seseorang sebagai hamba Allah agar mampu mencapai potensi yang sesuai dengan kehendak Allah. Tanpa memahami kedudukannya sebagai hamba Allah, seseorang mustahil mewujudkan nilai-nilai Ilahiah atau pun perintah Allah.

Selama masa kanak-kanak, anak mengembangkan pemahaman mengenai siapakah dan di mana tempat mereka dalam masyarakat serta kedudukannya di hadapan Allah. Pemahaman diri akan terus berkembang seiring dengan nilai-nilai yang diperoleh, terutama dalam keluarga. Namun terkadang ‘waktu dan tempat’ di dalam keluarga kurang memadai, bahkan tidak stabil.

Dalam kondisi di mana media sosial dan teknologi informasi mendominasi anak-anak (misalnya saat pandemi), banyak di antara mereka yang lebih asyik menjelajah media sosial, hiburan, iklan dan sejenisnya dalam waktu yang lama setiap hari. Akhirnya, banyak orangtua yang mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Sekolah yang diharapkan membantu membangun diri anak melalui pendidikan, pelatihan, dan relasi manusia; pun berkurang waktunya karena ada pembatasan. Jadilah anak-anak rumahan dan seolah-olah berada dalam kabin. Mungkin karena relative lama berada dalam ‘kabin’ sehingga mereka sangat tertekan. Kejenuhan yang berlarut-larut, membuat emosi anak tidak stabil. Beruntung, masih ada kelas on-line; sehingga membantu pengalihan anak dari konten jagat maya. Dalam area inilah, terjadi pertempuran besar antara kenyataan belajar dengan kognisi, afeksi dan psikomotorik yang hendak dibangun.

Beruntung pula masih ada guru terdekat, yaitu orangtua. Sekalipun stress, orangtua tetap harus tampil elegan sebagai teladan, pembimbing rohani, dan guru private mata pelajaran. Dengan demikian, orangtua, terutama ibu rumah tangga harus banyak berkorban waktu, pikiran dan tenaga untuk anak-anaknya di rumah (Q.S.Al-Ahzab[33]:33).. Hal ini penting karena anak-anak berada dalam masa pembentukan. Apabila salah desain dan kelola, maka akan salah bentuk.

Konsep diri sebagai hamba Allah akan sangat mewarnai pertumbuhan pribadi anak, termasuk kerohanian dan proses sosialisasinya. Konsep diri ini akan memainkan bagian yang kritis dan dinamis dalam hubungan anak dengan sesama manusia, lingkungan alam dan corak kehidupannya.
Sebagian besar pembentukan konsep diri dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.

Lingkungan pertama yang terdekat bagi anak adalah orang tua. Di dalam proses perkembangannya, seorang anak membutuhkan teladan yang jelas dari orang tuanya. Standard yang jelas dan dilakukan oleh orang tua; akan membekali anak tentang apa yang dilakukan dan apa yang seharsunya dilakukan.
Untuk menemukan konsep dirinya anak membutuhkan figur seorang pemimpin.

Figur pemimpin yang dimulai dari rumah (orangtua) akan sangat membantu anak untuk berkembang secara sehat. Anak-anak sangat memerlukan kepemimpinan, tapi bukan pemimpin yang serba boleh (permissed) yang membiarkan anak-anak bertindak dan berkeinginan semaunya sendiri.

Figur kepemimpinan tersebut juga dapat diperoleh di luar rumah, baik dari guru sekolah, guru ngaji, teman, atau tokoh-tokoh imajinatif yang terdapat dalam buku dan media elektronik. Namun jika orang tua lemah, niscaya anak-anak akan lebih terpengaruh oleh figur di luar rumah. Tragisnya, figure dan nilai-nilai yang mempengaruhi bersumber dari media yang sia-sia dan merusak.

Karena konsep diri berhubungan erat dengan nilai sistem, harapan, dan pola perilaku yang diterima; maka harus kita pertegas bahwa nilai sistem, harapan dan pola perilaku yang paling awal berpengaruh adalah dari orang tua. Nilai sistem yang akan diserap anak adalah yang terjadi dalam pengalaman sehari-hari. Adalah tragedy apabila orang tua (guru) lebih menekankan nilai sistem pada materialisme, kepandaian intelektual, penampilan (good looks), daripada karakter yang saleh (Godly character).

Tentu orangtua (guru) tidak ingin membangun konsep diri anak yang bertumpu pada kemampuan intelektual dan bersifat fisik. Sebab hal ini akan menghasilkan konsep diri yang lebih bernilai duniawi daripada kharakter dan kebisaan yang baik. Maka, di samping ada kenyataan material seperti kecerdasan, penampilan fisik, elisitas (kekayaan, latarbelakang keluarga dan sejenisnya); orangtua (guru) wajib memperhatikan apakah anak-anak berkembang dalam kesadaran sebagai hamba Allah atau tidak ?.

Secara kitabiyah, hal terpenting dalam pembelajaran adalah membentuk diri sebagai hamba Allah. Orangtua harus mengajak, memberi teladan dan ‘menekan’ anak agar mau beribadah, membaca kitab suci, dan menerapkan pengetahuan kesalihan. Sulit memang mengendalikan anak dalam situasi ‘kertegantungan’ media on-line. Tetapi, orangtua tidak boleh kalah dengan kehendak anak yang menghabiskan banyak waktu untuk hiburan dan melakukan hal yang tidak berguna.

Contoh Nabi Ya’kub ‘alaihissalam. Sebagai orangtua, beliau tidak khawatir apa yang akan dimakan (rezeki) anak-anaknya. Tetapi, khawatir apa yang disembah anak-anak sepeninggalnya.

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Allahmu dan Allah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Allah yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (TQ.S. Al-Baqarah[2]:133).

Perkara rezeki atau kedudukan duniawi merupakan rahasia Allah dan tak seorang pun mengetahuinya. Yang sangat utama adalah, “Apa yang disembah anak-anaknya,” maka yang harus menjadi orientasi hidupnya adalah menghamba kepada Allah atau beribadah. Jadi, apakah orangtua tetap berkomitmen mengenalkan konsep diri sebagai hamba Allah atau tidak ?. Hal ini tergantung cara hidup orangtua atau gurunya sehari-hari. Orangtua (guru) adalah buku yang sebenarnya. Sebab dari orangtua (guru) anak-anak membaca banyak hal.Apakah orangtua (guru) akan fokus pada good looks atau Godly character ? Monggo kita renungkan.
SELAMAT HARI GURU. TABAROKALLAH. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *