Sang Cahaya Dunia

by -95 views

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Masyarakat Makkah sebenarnya tidak bodoh (jahiliyyah) dalam pengertian tidak berpengetahuan. Pada masyarakat Makkah ada orang hebat, penyair, tokoh bahkan terpelajar seperti misalnya Hunain bin Ishaq yang berpendidikan Romawi. Namun mereka jahiliyah dalam pengertian jauh dari sifat-sifat lemah lembut (hilmiyyah). Mereka suka perang, membanggakan klan/keluarga dan suku. Baik atau pun buruk selama satu suku, harus dibela.

Dalam situasi di mana kemanusiaan berubah menjadi srigala liar, kita memerlukan guru agar dapat mempelajari perilakunya. Masyarakat perlu model agar kita belajar sistem etik dalam kehidupan sehari-hari. Dan setelah masa kosong kenabian, Allah memilih Muhamad saw lahir sebagai terang dunia. Kelahiran Nabi Muhammad saw. memberikan suka cita yang luar biasa bagi masyarakat Makkah. Bahkan Abu Lahab dan Abu Jahal yang di kemudian hari sangat memusuhi pun gembira atas kelahirannya. Alam semesta juga sejenak diam merasakan getaran bayi suci—bernama Muhamad (saw).

Kelahirannya memang dramatis dan penuh pesona, apalagi di tengah kegersangan tanah Arabia. Namun yang terpenting adalah makna rohani yang sangat besar atas kelahiran Muhammad saw. Di kemudian hari, Allah mengutusnya agar “menyempurnakan akhlak.”

Jadi ada masalah menadasar dalam kejiwaan manusia yang perlu direparasi agar sesuai dengan ruh kemanusiaan. Kalau masyarakat Makkah sekadar pengin dibuat pintar (ilmiyyah) bisa belajar pada Yahudi dan Nasrani di Madinah, Majusi Persia dan Filosuf Yunani. Bisa juga mendengarkan paparan Plato, Aristoteles dan Ezra (‘Uzair). Akan tetapi persoalan terbesarnya adalah etika manusia yang jauh dari sifat hilmiyyah (lemah lembut).

Maka bisa dimaklumi bila Tosihiko Isutzu berpendapat bahwa jahiliyyah dalam arti bodoh, hanyalah makna sekunde. Adapun makna primerya adalah.jauh dari lemah-lembut, santun dan belas kasih (hilmiyah). Dengan lain kata, saat kita masih mengedepankan amarah, kekerasan, individualistik, sombong, ego-kelompok, suku dan klan; maka kita masih berada dalam ruang jahiliyah nan gulita.

Dari situlah Allah memperlihatkan makna rohani atas kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu kerendahan hati, kesederhanaan, pengorbanan dan keteladanan. Allah menyebut dia memiliki budi pekerti yang tinggi (Q.S. Al-Qalam[68]:4), lemah lembut, pengasih dan penyayang(Q.S. At-Taubat[9]:128), sehingga dia adalah teladan baik (uswatun hasanah) (Q.S. Al-Ahzab[33]:21).

Walaupun uswatun hasanah dan qudwah hasanah mengandung makna teladan yang baik. Namun uswatun hasanah merujuk pada makna kesempurnaan teladan dalam setiap aspek kehidupannya. Adapun qudwah hasanah hanya sebagian. Seseorang bisa menjadi contoh dalam kedermawanan, namun tidak dalam perilaku lainnya. Seseorang dermawan, tapi di sisi lain, suka berdusta dan pemarah. Adapun Nabi ; dalam semua hal adalah contoh baik.

Mialnya saat beliau berbicara tentang kesabaran, beliau adalah orang yang paling sabar. Saat beliua berbicara tentang kesederhanaan, beliau orang yang paling sederhana. Saat beliau bicara tentang kejujuran, beliau adalah orang yang shidiq dan amanat, Saat beliau bicara tentang rendah hati, beliau adalah orang yang paling rendah hati. Sekiranya Michael H. Hart tidak mencamtukan beliau sebagai tokoh nomor satu dunia; pun tidak apa-apa ; sebab Allah sudah melekatkan gelar kehormatan kepadanya. Bahkan saat seluruh dunia menghujat dan menghinakannya, beliau tidak akan berkurang sedikitpun kemuliaannya.

Oleh sebab itu, sekalipun secara fisiologis sama seperti manusia umumnya (basyar), namun beliau tidak sama dengan manusia umumnya. Saat beliau berkata,  “Aku manusia biasa sepertimu,” tidak berarti kita memperlakukannya seperti manusia biasa. Ucapan itu menunjukkan kerendahan hatinya ; sehingga beliau tidak menyebut embel-embel kehormatan. Akan tetapi beliau menyebut wujud fisikalnya sebagai manusia biasa (Q.S.Al-Kahfi]18]:110). Maka firman ini, tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk sembrono kepada Rasuullah saw.

Memang benar beliau manusia biasa dari segi fisik (basyariyah), tetapi beliau memperoleh wahyu dari Allah. Bahkan jasanya bagi kemanusiaan tidak tertandingi, hingga beliau dianugerahi wewenang unutuk memberi syafaat. Nabi tak memerlukan penghormatan dari kita; tetapi kita yang harus menghormatnya; atas perintah Allah (Q.S.Al-Ahzab[33]:56; An-Nur[24]:63).

Maka mereka yang membuka hati bagi kenabian dan kerasulan Muhammad saw, akan tahu keagungan dan tugasnya. Penghormatan kepadanya sebagaimana yang dilakukan umat Islam di seluruh dunia dengan tradisi masing-masing; merupakan satu jalan kecil untuk memahami keagungan, pikiran dan nilai-nianya yang dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang dan waktu kita hidup berbeda dari zaman Rasulullah saw., berabad jarak darinya, namun kita bisa ‘melihat’ pengrobanan ikhlasnya memartabatkan dan menyelamatkan manusia; sedangkan manusia tidak bisa membalas semua jerih payahnya,. Hal seperti ini hanya dapat dinilai secara rohani, yaitu dalam ungkapan cinta kepada Rasulullah saw. Tentu kecintaan dapat diwujudkan dengan mengikuti sunahnya, menyesuaikan hidup sebagaimana yang diajarkan serta mengambil makna yang lebih luas terhadap pikiran, budi pekerti, pikiran dan entitas perbuatannya (Q.S.Ali Imran[3]:31).. Dengan cara ini, niscaya dia berkenan memberi pertolongan (syafaat) untuk umatnya di hari kiamat.

Apabila kita tidak memperoleh syafaatnya, boleh jadi kita tidak akan mendapatkan bagian di akhirat. Amal kita tak seberapa, maka kita membutuhkan syafaatnya. Kelahiran Muhammad saw, adalah wujud nyata kasih sayang Allah yang membawa anugerah keselamatan dan harga diri manusia di seluruh dunia bagi mereka yang beriman padaNya. Muhamad saw. adalah terang (nur) dunia. Dan karena Allah sangat mengasihi manusia, maka Dia pun memberi wewenang kepada Muhammad saw. untuk memberi syafaat. Semoga kita mendapatkan syafaatnya. Shallallhu ‘ala sayyidina Muhammad[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *