Tak Sekadar Bekerja

by -110 views

Oleh. H. Wajihudin Al-Hafesz, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Karena Tuhan menciptakan alam semesta tidak sia-sia (Q.S.Ali Imtan[3]:191; Shad[38]:27) alias bersifat teleologis (bertujuan), maka sebagai khalifatullah fil ardh, manusia memiliki kewajiban ontologism, yaitu menafsirkan dan mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh membuat kerusakan—dalam pengertian hanya mengembanbangkan nafsu kenyang, senang dan menang dengan berbagai keculasan serta mengingkari Tuhan (Q.S.Al-A’raf[7]:56,74,83; Al-Baqarah[2]:60; Hud[11]:65; Asy-Syu’ara[26]:183; Al-Ankabut[29]:36). Sebaliknya manusia harus menggunakan pikiran dan kemampuan  agar dunia bermanfaat sebagai bekal akhirat.

Kalimat “’amal” dalam Alquran pada prinsipnya berhubungan dengan perbuatan manusia dalam semua aspeknya, termasuk bekerja. Secara sederhana ‘bekerja’ dimaknai mencari rezeki atau harta benda, namun substansinya sama, yaitu bersusah payah di dunia. Kalaupun ada kesenangan, hanya sedikit dan sementara. Sedangkan substansinyta adalah bagaimana bekerja mencukupi kebutuhan hidup di dunia dan mencari bekal akhirat.   Bila tidak ‘ngapa-ngapain’ atau ‘tidak bekerja’ maka keberadaan manusia bagaikan mayat hidup (al-maut fi al-hayat).

Dalam ajaran Kristen, pun disebutkan bahwa Allah memerintahkan manusai bekerja dan mereka akan hidup bersusah payah mencari rezeki.

Engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembaali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19).

Kehidupan tidak berhenti sampai di alam kubur (kembali menjadi tanah sebagaimana awal peciptaannya). Akan tetapi akan mengalami penghakiman, sampai akhirnya terpilih siapa yang berhak kembali ke surga atau neraka. Allah memberi kesempatan ‘menanam’ sedangkan hasilnya (sedikit-banyak) akan dituai di akhirat sesuai kuantitas dan kualitas ‘tanaman’nya. Bila tidak memanfaatkan kesempatan ini, maka tidak mendapatkan hasil di akhirat (Q.S. Al-Ashr[103]:1-3)..

Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang mati dan ingin kembali di dunia agar bisa bekerja; melaksanakan perintah Allah, menunaikan amanat Allah dan menggunakan anugerahnya untuk kebaikan (Q.S. Al-Munafiqun[63]:10-11; An-Naba’[78]:41). Meskipun seluruh harta dan jiwanya akan diniatkan untuk Allah, mustahil bisa kembali ke dunia.

Dalam kaitan tersebut, pekerjaan manusia tidak hanya berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar (basic necessary) berupa pangan, sandang dan tempat tinggal. Akan tetapi juga bertanggungjawab ‘melayani’ Tuhan yang telah mencipta dan memberi amanat (Q.S. Al-Ahzab[33]:72) . Bila tidak, maka pekerjaan yang kita lakukan hanya mendapatkan dunia, untuk dunia dan berakhir di dunia. Bila demikian, kita berada dalam kesia-siaan; apalagi bila pekerjaan dilakukan dengan cara illegal dan kufur kepada Allah, maka emas sebesar bumi yang dihasilkan di dunia, tidak akan dapat menebus akhirat (Q.S.Ali Imran[3]:91).

Dalam Al-Qur’an, banyak disebutkan mengenai amal shalih. Hal ini menunjukkan bahwa dunia merupakan “tempat kerja”. Adapun hasilnya, Allah mensegerakannya di dunia; mungkin di akhirat. Yang pasti, Allah mengganjar secara adil setiap amal manusia. Q.S. At-Taubat[9]:70-71; Qaf[50]:18; Az-Zalzalh[99]:7-8).

Oleh sebab itu, ada dua paradigm mendasar di dunia, yaitu pekerjaan dan pelayanan kepada Tuhan (ibadah). Keduanya harus setimbang. Seseorang tidak boleh hanya bekerja dan memperoleh harta benda/hasil yang banyak. Akan tetapi, harus beribadah kepada Tuhan baik yang terkait dengan kewajiban individual seperti misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya maupun kewajiban kolektif (sosial).

Maka, bisa dimaklumi jika seseorang yang tidak shalat dianggap membangkang Allah; dan orang yang malas shalat serta enggan menggunakan harta bendanya untuk kemaslahatan  umat dianggap sebagai kaum hipokrit/munafik (Q.S.An-Nisa’[4]:144, At-Taubat[9]:54, 81-87). Ganjaran bagi golongan ini adalah neraka Wail (Q.S.Al-Ma’un[107]:1-7), Saqar (Q.S.Al-Mudatsir[74]:42-43) dan menghuni dasar neraka (Q.S.An-Nisa’[4]:145).

Beribadah dan bekerja adalah perintah Allah, bukan pilihan, sehingga mengabaikan Allah  dan kemalasan mencari karunia di bumi, merupakan sikap yang tidak benar. Sebab kehidupan orang yang beriman bermula dari dunia menuju akhirat. Prinsipnya adalah, tidak seluruh waktu hidupnya melulu untuk bekerja mencari dan menumpuk harta benda (Q.S. At-Takatur[102]:1-8). Bila demikian, maka justru menimbulkan bahaya akhirat (Q.S. Al-Humazah[104]:1-9).

Dalam setiap agama diajarkan bahwa bekerja merupakan bagian yang utuh dari kehidupan. Misalnya orang Yahudi; bekerja adalah kewajiban kepada Tuhan. Dalam Sepuluh Hukum Allah (Ten Commandements) yang tertulis pada shuhuf/tablet Musa  menjelaskan bahwa mereka harus bekerja selama enam hari untuk mencukupi kebutuhan mereka dan pada hari yang ketujuh harus beristirahat dari segala kesibuhan mereka.

Dari doktrin itu bisa dimengerti bahwa orang Yahudi tidak terlepas dari tuntutan bekerja selama enam hari. Baik nabi, pemimpin, laki-laki dan perempuan wajib bekerja Bagi mereka, menganggur adalah suatu kemaksiatan. William Barclay dalam The Ten Commandments, The Mind of Jesus, memaparkan bahwa “Bagi seorang Yahudi kerja sangat penting. Kerja merupakan inti kehidupan. Orang-orang Yahudi mengenal ungkapan ‘orang yang tidak mengajar anak lelakinya berusaha (bekerja); (sama halnya), mengajarnya mencuri.”

Seorang Rabi (pemimpin agama Yahudi) sama kedudukannya dengan seorang dosen atau guru besar di perguruan tinggi. Tetapi menurut hukum Yahudi ia tidak boleh menerima satu sen pun dari tugas mengajarnya. Dia harus menguasai suatu bidang usaha yang dilakukan dengan tangannya (keahliannya). Dengan demikian dia dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.

Oleh sebab itu,  ada Rabi yang menjadi tukang jahit, sepatu, cukur, roti dan sebagainya. Tetapi dalam perkembangannya, para Rabi banyak yang dzalim. Mereka menyelewengkan hukum, memakan riba dan menumpuk kekayaan secara illegal, sehingga Allah mengancam mereka dengan siksa yang pedih (Q.S. An-Nisa’[4]:160-161). (Q.S. At-Taubat[9]:34).

Terlepas dari ‘penyimpangan’ yang mungkin terjadi; agama mengajarkan bahwa setiap orang harus memlengkapi diri menjadi seorang pekerja yang handal (kompeten, professional dan integritas). Bekerja merupakan kemuliaan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika seseorang tidak bekerja, akan menjadi malapetaka. Sebab, orang yang tidak bekerja tidak akan memperoleh hasil yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan  diri dan keluarganya. Pekerjaan yang dilakukan secara sunguh-sungguh disertai rasa hormat dan taat kepada Tuhan, maka cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya, Allah perintah Yahudi  memuliakan Hari Sabtu agar menjadi kendali keserakahan dan gila dunia. Namun karena melanggar ketentuan tersebut, maka Allah melaknat mereka (Q.S. An-nahl[16]:124; Al-Baqarah[2]:65; An-Nisa’[4]:47,154: Al-A’raf[7]:163:).

 Tuhan tidak asal menetapkan peraturan tetapi Dia tahu  kemanfaatanya untuk manusia. Tuhan melakukan pembatasan dan menganugerahi istirahat supaya manusia tidak melulu berpikir “Seberapa banyak yang aku peroleh di dunia ini,” tetapi agar punya waktu untuk “menanam benih baik yang tumbuh menjulang ke langit dan berbuah di akhirat.”  

Namun sebaliknya jika melanggar ketentuan Tuhan, bekerja keras setiap hari tanpa istirahat pun akan tetap dirasakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Hidupnya semakin susah, dan samakin gila-kerja semakin merasakan bahwa apa yang diperoleh tetap tidak cukup. Dalam perspektif ini, penyebabnya adalah Tuhan tidak memberkahi pekerjaan dan usahanya.

Istirahat dari pekerjaan (semisal Hari Sabtu—dalam agama Yahudi)–memberi peluang untuk mendekat kepada Allah, mengendalikan diri dari keserakahan, mengurus keluarga dan sosial. Sekalipun demikian, agama Islam memberi jalan yang lebih lapang dalam bekerja. Tidak ada hari khusus untuk berhenti dari pekerjaan atau aktifitas duniawi. Namun tidak boleh meninggalkan ibadah pokok (Q.S.Al-Naba’[78]:6-11) seperti misalnya shalat.Setiap orang boleh bekerja tanpa adanya batasan hari-hari tertentu. Bahkan pada hari Jum’at pun boleh bekerja asalkan tetap ingat Allah dan akhirat (Q.S. Al-Jumu’ah[62]:10; Al-Qashash[28]:77). Wallahu a’lam bish-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *