Dorong Sektor Pertanian, Bupati Ingin Satu Desa Satu Produk Unggulan

by -36 views

WONOSOBOZONE.COM – Di era globalisasi seperti sekarang ini, untuk bisa menjadi petani yang handal ya petani yang mau belajar. Demikian disampaikan Bupati Wonosobo, pada pembukaan Bimbingan Teknis bagi petani, tentang pemupukan berimbang untuk menuju pertanian sehat dan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Komisi IV DPR RI bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanah Balitbangtan Kementan RI dan Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo. bertempat di Hotel Kresna,Rabu (22/9).

Kabupaten Wonosobo dikatakan Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, merupakan daerah agraris, dimana sektor pertanian menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat Wonosobo. Tetapi di era sekarang dimana kondisi alam yang telah berubah, apalagi di era globalisasi ini petani juga dituntut harus terus belajar bagaimana bertani yang baik dan benar, sehingga akan menghasilkan produk produk pertanian yang baik dan berkualitas.

“Saya ingin kedepan kita punya produk unggulan di masing masing desa, One village one produk, kalau itu tidak memungkinkan ya satu wilayah satu produk. Ini tentunya tidak bisa kita hanya melihat pola pola pertanian yang tradisional, kita harus terus melakukan penelitian tentang pertanian dan struktur tanah yang ada di masing masing wilayah di Wonosobo,” terang Bupati.

Terkait untuk peningkatan hasil pertanian yang baik, Bupati menyebut bahwa pemerintah mendorong Dinas pertanian dan perikanan untuk melakukan telaah dan penelitian berkaitan dengan kondisi struktur tanah yang ada di Kabupaten Wonosobo yang digunakan untuk areal pertanian.

“Setelah dilakukan penelitian bagaimana kondisi tanah tiap tiap wilayah maka kita bisa menentukan tanaman apa yang akan ditanam dan cocok di wilayah tersebut. Karena tiap wilayah mempunyai kondisi tanah yang berbeda beda. Misal Leksono berbeda dengan Kejajar, sehingga tanaman yang akan di tanam juga berbeda pula,” jelas Afif.

Memang dalam pertanian setiap wilayah mempunyai tradisi yang berbeda beda dan tingkat kesulitan yang berbeda beda pula. “Seperti tradisi kita terkait pertanian, menanam itu hal yang mudah, tetapi merawat itu yang kurang telaten, seperti yang disampaikan Balitbang bahwa pola pemupukan teratur dan berimbang ini yang agak susah. Semoga dengan kegiatan hari ini para petani bisa memperoleh ilmu. Jadi kalau menanam pohon apapun ya harus dirawat, ya harus dipupuk dan dialiri air. Sehingga pada akhirnya nanti akan menghasilkan produk produk yang bisa memberikan keuntungan bagi petani itu sendiri maupun masyarakat,” tambah Bupati.

Afif berharap semoga dengan diadadkannya bintek ini, mudah mudahan para petani di seluruh Wonosobo dapat menjadi petani yang handal, yang berkualitas dengan pola cocok tanam yang baik, serta petani yang berkelanjutan,” pungkas Afif Nurhidayat.

Sementara pada kesempatan itu Anggota Komisi IV DPR RI, Vita Ervina, SE, MBA, juga menyampaikan bahwa Bimtek pertanian yang dilaksanakan merupakan salah satu strategi program aksi dukungan Pemerintah bersama Komisi IV kepada masyarakat di sektor Pertanian dalam upaya “Membangun Indonesia Tangguh melalui pembangunan pertanian”.

Pemerintah juga terus menerus memberikan dukungan program bantuan yang langsung menyentuh dan berpihak kepada petani, mulai dari sisi hulu, pendampingan budidaya hingga pasca panen. “Semua program ini diberikan sebagai modal awal dalam mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan di negeri kita,” ungkap Vita Ervina.

Fokus Bimtek ini adalah tentang sistem Budidaya pertanian yang berkelanjutan terkait dengan teknologi pemupukan berimbang dan pembuatan pupuk organik dengan teknologi pengomposan. “Kalau berbicara pupuk, pastinya pikiran kita langsung tertuju pada masalah carut marut pendistribusian pupuk bersubsidi. Masalah yang rasa-rasanya klasik (tanpa solusi) yang dihadapi oleh teman-teman petani. Saat ini, kami di Komisi IV DPR RI sedang bekerja berusaha mengurai dan membenahi tata kelola subsidi pupuk, dengan membentuk Panja Pupuk Bersubsidi dan kartu tani. Kita ketahui bersama pemberian pupuk bersubsidi sampai saat ini masih belum menghasilkan titik temu yang mampu memenuhi kebutuhan petani dan tepat sasaran. Minimnya anggaran hanya mampu memenuhi 37,19% kebutuhan alokasi, serta disparitas harga yang sangat tinggi antara pupuk bersubsidi dan non subsidi mengakibatkan berbagai permasalahan yang terjadi,” jelas Vita.

“Selain itu ada beberapa hal yang mempengaruhi terkait pertanian dan pupuk seperti Ketidakvalidan data E-RDKK untuk pupuk bersubsidi, tingginya dosis pemakaian pupuk urea yang dapat merusak kelestarian lahan dan lingkungan hingga rumitnya penebusan pupuk bersubsidi, dan masih banyak hal lainnya yang mempengaruhi,” pungkas Vita Ervina.

Peserta yang hadir pada Bimtek adalah perwakilan Kelompok Tani penerima aspirasi saya di Kabupaten Wonosobo untuk T.A. 2021 yaitu penerima bantuan alsintan sejumlah 17 kelompok, penerima Program UPPO sejumlah 4 kelompok, penerima Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sejumlah 14 kelompok, penerima Kawasan kopi robusta 4 kelompok, penyuluh pertanian kecamatan se kab wonosobo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *