ASN Mengaji…..Mantaaap

by -114 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Mengaji merujuk pada aktivitas membaca Al Qur’an, belajar tulisan Arab atau membahas kitab-kitab. Aktivitas ini dalam agama Islam termasuk ibadah dan orang yang melakukannya akan mendapatkan ganjaran dari Allah. Dalam konteks sebagai warga Negara berk-Ketuhanan Yang Maha Esa, aktivitas mengaji menjadi pintu masuk untuk belajar agama sesuai ajaran yang dianutnya secara merdeka dengan mengedepankan toleransi. Oleh sebab iutu, umat non-muslim pun’mengaji’ yaitu membaca kitab suci dan mempelajarinya.

Yang menarik, beberapa pemerintah kabupaten/kota seperti misalnya Bandung, Depok—dan Wonosobo memberi ruang kepada aparatur untuk mempelajari kitab sucinya masing-masing dalam waktu yang telah ditentukan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Wonosobo, dalam Rakor Persiapan Lomba K3 Mesjid (14/9/21) mengungkapkan bahwa setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) diberi kesempatan 10 menit sebelum memulai kerja untuk ‘ngaji’ atau mendaras kitab suci sesuai agama masing-masing. Kegiatan ini merupakan wujud dukungan Program Wonosobo Pintar.

Keyakinan umat beragama bahwa Kitab Suci merupakan firman Tuhan memberi nuansa pada setiap pembaca untuk ngaji roso, sabdo, lakon dan pikir. Seseorang yang membaca Alquran (dan Kitab Suci lainnya) disertai merenungkan isinya, niscaya akan mengetahui perintah, kehendak dan ketentuan-Nya. Jangan sampai, Allah nyetempel hati kita tertutup karena tidak  mengenal firman-Nya (Q.S. Al-A’raf[7]:179; An-Nisa’[4]:82; Muhamad[47]:24). Maka, mengaji—sangat penting.

Idealnya, membaca Al-Qur’an tidak sekedar kalimatnya (tilawah). Namun memahami (qiraat/tafahum) dan merenungkan (tadabur) maknanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa membaca Al Qur’an dengan tartil dan penuh perenungan lebih utama daripada membacanya dengan cepat. Hal demikian karena tujuan membaca Al-Qur’an (dan Kitab Suci lainnya) adalah memahami dan merenungkan isinya sehingga bisa mengamalkannya.

Penting bagi umat beragama tidak hanya membaca firman-Nya setiap hari. Tidak hanya saat shalat, menjelang dan memperingati kematian atau ritual di tempat ibadah. “Ngajiyo, senajan sak ayat,” demikian kata guru kita. Seorang muslim yang membaca membaca dua ayat setiap hari, niscaya dalam waktu kurang lebih 3.000. hari atau 8 (delapan) tahun dapat mengkhatamkan Alquran satu kali. Apalagi setiap hari membaca dua lembar, niscaya hanya dalam waktu lima bulan sudah khatam.

Keajegan membaca dan mempelajari Kitab Suci setiap hari sangat penting karena manfaatnya sangat luar biasa. Di antaranya adalah :

1, Memperoleh pahala. Banyak sabda Rasulullah saw., terkait pahala memabaca Alquran. Sekalipun tidak mengerti arti dan membacanya pun terbata-bata ; tetap mmperoleh pahala.  Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang mahir membaca Alquran, bersama-sama malaikat yang mulia, dan orang yang terbata-bata membacanya dan kesulitan, maka baginya dua pahala.“ (HR. Muslim).

2. Memperoleh syafa’at dan keselamatan di Hari Kiamat. Kitab Suci menuntun keselamatan sejati (akhirat).  Di samping itu, kebutuhan rohani juga harus dicukupi. Kita makan minum setiap hari meski disibukkan oleh berbagai urusan duniawi. Bahkan tanpa diperintah pun, kita akan makan setiap hari karena tahu makanan memberikan nutrisi untuk kelangsungan hidup kita, serta menghasilkan energi untuk aktivitas kita sehari-hari. Demikian pula, rohani perlu memperoleh asupan makanan, yaitu berupa firman Tuhan.

Dalam ajaran Kristiani disebutkan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius, 4:4). Sabda ini menunjukkan bahwa Kitab Suci merupakan makanan rohani karena ia menuntun dan menjadi energy menempuh jalan meraih keselamatan, kedewasaan iman, harapan dan kehidupan yang hakiki.

Memang hanya Allah yang mampu menyelamatkan kita. Namun, kita perlu mengenal Allah terlebih dahulu untuk memperoleh informasi jalan keselaman. Oleh sebab itu, kita perlu membacanya setiap hari. Rasulullah saw., bersabda,”Bacalah Alquran, karena dia akan mejadi syafaat di hari kiamat bagi orang yang membacanya.” (HR. Bukhari). Alquran diturunkan sebagai petunjuk, rahmat dan berkah kepada manusia (Q.S. Al-Isra’[17]:82, Al-An’am[6]:155;Shad[36]:29; Al-Anbiya’[21]:50).

3. Menguatkan kita dari cobaan.  Allah memberi petunjuk sekaligus kekuatan kepada manusia untuk mengalahkan kejahatan dan kebatilan serta memenangkan ujian atau cobaan.  Tuhan memperkuat jiwa manusia dengan janji, keberserahan diri kepadaNya dan anugerah tak terduga. Firman Tuhan membantu kita mampu melewati seberat apapun cobaan yang datang. (Q.S.Al-Baqarah[2]:155,214; Ali Imran[3]:142; At-Taubat[9]:16; Muhammad[47]:31; Al-Mulk[67]:2; Ali-Isra’[17]:97)..

4. Meneguhkan iman kita tentang hidup kekal.. Semua umat beragama meyakini adanya akhirat dan kehidupan kekal setelah kematian. Informasi mengenai hal ini hanya bisa kita peroleh dari firmanNya. Banyak orang tahu adanya surga, tapi belum tentu tahu jalan menuju surga. Semua orang beragama butuh keselamatan akhirat, tapi belum tentu tahu jalan-Nya. Bahkan tak jarang, menyimpang dari jalanNya (Q.S. Az-Zumar[39]:8; Luqman[31]:6). Maka, rutin membaca Kitab Suci akan membantu meneguhkan iman kita akan adanya kekekalan setelah kematian, serta semakin dekat dengan Allah dan yakin atas janji keselamatan dan kehidupan yang kekal.

5. Membantu kita teguh pada kebenaran. Keteguhan pada kebenaran berarti meyakini dan mengamalkan ajaran agama untuk keselamatan dan kebaikan umat manusia. Hal ini berbeda dengan klaim kebenaran (claim truth) yang berujung pada permusuhan, kebencian dan kekerasan atas nama agama. 

Apabila kita memegang kebenaran kitabiyah, niscaya menjadi orang yang teguh pada kebenaran dan mengalami kematangan rohani. Anugerah Tuhan ini perlu dijaga dengan berperilaku sesuai firman-Nya. Dengan demikian, pada hakikatnya kita tidak mungkin mengetahui  bagaimana kita harus berperilaku sebagai hamba Allah jika tidak mengenal firmanNya. Alih-alih menjadi hamba yang merendah di hadapan Allah dan sesama, justru tak tahu diri di hadapan-Nya.

Banyak orang sibuk berkomunikasi dengan relasi, bekerja dan sebagainya, tetapi melupakan bagian terbaik yang dapat dimiliki, yaitu: “menjadi keluarga Tuhan” dengan membaca Al-Quran. Segala hal di dunia ini dapat tercerabut dalam sekejap. Hubungan dengan teman dan sejawat pun bisa terbengkelai dalam sedetik. Maka, semua kesibukan dunia; tidak seharusnya menyia-nyiakan kesempatan ‘bergabung’ dengan Tuhan di dalam Firman-Nya.

Sesungguhnya, hubungan kita dengan Tuhan adalah harta yang paling berharga dan tidak akan tercerabut dan terbengkelai dari kita. Jadi, “10 Menit ASN-Mengaji”, cukup luar biasa.. Itu berarti kita siap menerima hubungan kitabiyah dalam hidup. Hal ini sekaligus sebagai dorongan agar mengaji hendaknya dilakukan sejak dini. O ya…,.kita punyak banyak waktu, tapi mengapa kita tidak rutin membaca firman-Nya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *