Pagi, Pagi, Pagi…..Yes !!!

by -124 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Ada banyak orang lelap hingga matahari terbit. Mungkin karena banyak pekerjaan di waktu malam atau hal lain. Berbeda dengan para salafusshalih dan ‘ulama, sesibuk apapun di waktu malam, mereka tetap mampu meraih pagi. Bahkan di antara mereka tidur hanya beberapa jam. Kesibukannya tidak  menghambat hubungannya dengan Allah.   

Waktu pagi adalah peluang terbesar untuk membangun hubungan dengan Allah. Sebab, saat beranjak tidur, kita tidak tahu apakah Allah mengembalkan ruh kita untuk menikmati matahari pagi dan bekerja mencari nafakah ataukah tidak. Itulah sebabnya saat bangun tidur, kita mengucap syukur, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanku sesudah kematianku, dan kepada-Nya, kita semua akan kembali.” (HR. Bukhari).

Syukur pertama adalah anugerah hidup setelah ‘mati’ beberapa jam. Dalam tidur, Allah mencabut roh dan mengembalikannya sehingga bisa bangun dari tidur (Q. Az-Zumar[39]:42). Syukur kedua adalah kesempatan bertebaran untuk menjalani kehidupan, melakukan aktifitas dan mewujudkan nilai-nilai Ilahiah di muka bumi sesuai kapasitasnya sebagai khalifah Allah. Dan semua aktifitas itu tiada lain berpijak kewajiban beribadah (Q.S. Al-Baqarah[2]:22; Al-An’am[6]:162).

Dalam kaitan itu,  perlu memprioritaskan Allah. Dia menyatakan, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi,” (TQ.S.Al-Jumu’ah[62]:10-11). Memang ayat ini, secara spesifik terkait kewajiban Shalat Jum’at, namun secara umum adalah shalat wajib yang notabenenya dilaksanakan hanya beberapa menit. Seakan-akan dinyatakan bahwa,”Dahulukan Allah sebentar saja. Setelah itu carilah bekal akhirat sesuai tugas dan fungsimu di dunia.”

“Ada bagian yang lebih besar untukmu di akhirat (Q.S. Al-Qashash[28]:77. Jangan terpukau dengan kehidupan dunia, sehingga melupakan-Nya dan berakibat buruk di akhirat (Q.S.At-Taubah[99]:55; Al-Baqarah[2]:204). ”

Adalah aneh,  bila seorang yang percaya Allah dan Hari Akhir,; baru bangun tidur sudah meributkan dunia; mengkalkulasi hasil yang akan diperoleh bahkan tidak mempedulikan ketentuan Allah atau menghalalkan segala cara.  Berjuang mati-matian meraih dunia, meliarkan ambisi dan melampaui batas demi memperoleh harta benda, nama dan sejenisnya.

Dalam pespektif kenabian, seseorang tidak seharusnya gelisah dan gila dunia hingga melupakan Tuhan dan bernasib buruk di akhirat. Bangun tidur dalam keadaan sehat, aman dan ada bahan makanan yang bisa dimakan sehari saja, merupakan anugerah yang besar. Hal ini bisa dimengerti sebab banyak orang bangun tidur bingung pilih makanan  pakaian dan sebagainya karena saking banyaknya. Apalagi jika terganggu kesehatannya; seluas apapun rumah dan sebanyak apapun varian makanan, tidak ada nikmtnya. Maka Nabi saw. bersabda,

Barangsiapa di antara kalian di pagi hari mendapatkan rasa aman, diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi) Apabila bangun tidur dalam keadaan sehat, aman dan ada bahan makanan, maka sungguh kenikmatan yang sangat besar. Seakan-akan Nabi hendak menyatakan,  “Jangan berpikir seberapa banyak yang akan dipanen (diperoleh), melainkan .seberapa banyak yang ditanam.” Hal demikian bermakna menjalani hidup dengan fokus berjihad mewujudkan kebaikan dan meraih dunia sebagaimana kehendak dan ketentuan Allah serta syukur kepada-Nya (Q.S. Al-Hajj[22]:77; Ibrahim[14]:7; An-Nisa’[4]:147).  

Dengan kesehatan, keamanan dan tersedianya logistik, meski hanya cukup sehari, akan merasankan nikmat dan tenteram lahir-batin serta melakukan aktifitas duniawi-ukhrawi dengan leluasa. Mengapa sehari ? Bisa untuk modal tenaga mencari nafkah dan beribadah. Lagipula tidak ada jaminan, kita masih hidup di hari esok.

Oleh sebab itu, saat bangun tidur sepantasnya seseorang mengingat Allah.  Jika tak kuasa mempersembahkan waktu pagi untuk-Nya, maka setidaknya jangan mengabaikan waktu shalat (Q.S.An-Nisa’[4]:103). Allah tandai sebagai munafik kepada orang yang mengabaikan shalat dan enggan mengeluarkan bagian dunianya untuk kemaslahatan umat (Q.S. At-Taubat[9]:54). Bahkan ada ancaman neraka Wail dan Saqar bagi hamba yang meninggalkan shalat dan mengabaikannya (Q.S.Al-Ma’un[107]:4;Al-Mudatsir[74]:42-43)).

Salut untuk pedagang di sebuah pasar. Mereka pagi sebelum shubuh sudah bersiap-siap dengan dagangannya. Bersama para pedagang lainnya, mereka menumpang mobil bak terbuka menyusuri jalan beraspal yang mengelupas. Tersendat, tetapi mereka bertekad untuk bisa sampai ke pasar. dan mengejar waktu subuh di mushalla. Mereka tidak ingin ketinggalan shalat subuh, berdzikir sejenak dan berdoa. 

Pedagang itu tahu; emas seluruh bumi pun tidak dapat menebus pembangkangan kepadaNya (Q.S.Ali Imran[3]:91), maka dia meluangkan waktu untuk Tuhan. Pagi-pagi sekali dia membaca kitab suci, dzikir dan shalat. Dengan cara ini dia mempersembahkan waktu untuk Tuhan. Kalaupun hari itu tidak memperoleh dunia, maka dia memperoleh kesempatan menaati Tuhan. Bahkan bila mati saat itu, dalam kefakiran (perdagangan yang bangkrut misalnya), dia yakin akan memperoleh keuntungan karena telah melakukan jual beli dengan Tuhan (Q.S.At-Taubat[9]:111; Fathir[35]:29)..

Sedemikian utamanya waktu pagi, maka di belahan dunia manapun manusia secara alamiah menghendaki “pagi yang baik, indah, penuh berkah, bahagia.” Ada ucapan sabah al-khair, sabah al-surur, good morning, sabahiniz xeyir, selamat pagi, shubh prabhaat, dan sebagainya.” Tiada lain adalah harapan baik dan berkah sepanjang hari.  

Jadi, saat Cat Steven (Yusuf Islam) menyanyikan lagu Morning Has Broken (Pagi telah hancur), mungkin saat bangun tidur merasa tidak nyaman dan kehidupannya pun penuh sesak Mungkin juga dia telah merasakan keindahan paginya sebab berkah Tuhan, sehingga dia bersyair “Mine is the sunlight//mine is the morning//Born of the one light//Eden saw play// Praise with elation// praise every morning// God’s recreation of the new day” (Cahaya matahari milikku //pagi hari milikku//Bersumber dari satu cahaya//Surga ‘Adn melihat permainan (keceriaan)//Syukur dengan kegembiraan//syukur setiap hari//Hiburan Tuhan di hari yang baru).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *