Waktu Untuk Tuhan

by -101 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Seorang atheis pun, punya rasa berketuhanan. Hal ini bisa dimaklumi sebab saat di alam ruh, manusia berjanji mengakui Allah sebagai Tuhannya (Q.S.Al-A’raf[7]:172). Maka, meskipun seseorang mabuk dunia (Q.S. Al-An’am[6]:130), ada saat di mana dia ingin menyapa Tuhan. Untuk ini banyak orang yang memilih waktu tertentu agar bisa menyapa atau ‘tatap muka’ dengan-Nya.

Para Nabi memilih waktu menjelang pagi hari atau sepertiga malam terakhir. Nabi ‘Isa alaihissalam biasa melakukan doa pada saat hari masih gelap di waktu pagi.  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Markus 1:35). Demikian halnya banyak muslim memilih waktu pagi untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Mereka ingin meraih berkah pagi, sebagaimana dinyatakan dalam doa Rasulullah saw,”Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi.” (HR. Muslim).

Dalam Islam dikenal shalat tahajud (Q.S.Al-Isra’[17] :79) dan dilakukan menjelang pagi atau waktu sahur (Q.S.Adz-Dzariyat[51] :18) dilanjutkan shalat shubu, dzikir pagi hingga terbit matahari (isyraq). Bila waktu ini terlewat, biasanya tidak ada lagi waktu khusus untuk-Nya. Hari-harinya penuh kesibukan dan segala macam urusan di dunia, bahkan hingga larut malam. Intinya, sebagai hamba Allah hendaknya tidak hanya istimta’/sibuk dengan urusan duniawinya (Q.S. At-Taubat[9]:67), tetapi harus ada bagian waktunya untuk Tuhan setiap hari.   Yakni waktu yang dikhususkan untuk menjalin hubungan yang semakin dalam dengan Tuhan.

Meskipun idealnya hubungan kita dengan Tuhan terjalin sepanjang hari, tetapi saat ‘tawajjuh” atau berhadapan dengan Tuhan,  menjadi penanda bahwa kita memprioritaskan satu bagian terbaik dari waktu kita dalam sehari untuk Tuhan.

Sebagai orang yang berkeTuhanan, sepantasnya ada waktu untuk Tuhan; meskipun sebentar.  Maka, Nabi mengajarkan umat memanfaatkan waktu tertentu untuk menyapa Tuhan. Bentuknya antara lain dengan membaca Kitab Suci, shalat, dzikrullah dan introspeksi.  Dalam hal ini-lah ketaqwaann mewujud kebaikan duniawi dan bertawajjuh (menyapa dan menatap wajah) Tuhan (Q.S.Adz-Dzariyat[51]:15-18). Jadi, meski sibuk mengurus dunia dan sesama manusia, tetap ada prioritas tawajjuh dengan Tuhan. Hal ini penting, agar kita tidak kehilangan bagian di akhirat (Q.S. Al-Qashash[28]:77).  

Nabi ‘Isa  orang yang sangat sibuk. Beliau mengajar murid-muridnya, membimbing dan melayani umat, mengobati pasien dan sebagainya. Namun beliau mempersembahkan bagian pertama dari hari-nya (pagi hari) untuk Tuhan. Demikian halnya Nabi Muhamad saw. Beliau melakukan hal-hal duniawi sebagaimana umumnya manusia. Namun, tetap mempersembahkan bagian waktu tertentu untuk Tuhan. Beliau bersyukur untuk hari-hari yang dilalui dan rahmat yang tersedia di masa-masa datang. Para orang shalih zaman dulu; mereka adalah saudagar, pemimpin dan pelayan umat yang supersibuk, namun tetap membagi waktu untuk Tuhan.

Jika kita pernah bangun pagi-pagi sekali, kita pasti tahu bahwa pagi hari adalah salah satu saat paling sunyi dalam sehari. Situasi ini membuat kita dapat berkonsentrasi penuh dan bebas dari gangguan. Apa yang kita pikirkan pertama-tama di pagi hari juga seringkali berpengaruh terhadap sikap dan suasana hati kita sepanjang hari. Mengisi hati dan pikiran kita dengan doa dan firman Tuhan akan membantu kita memfokuskan hati dan pikiran pada apa yang baik dan penting di hari itu.

Saat tawajjuh di pagi hari juga dapat melepaskan beban dan kekhawatiran kita, serta tekanan dari hari sebelumnya, karena kita sudah menyerahkan segalanya kepada-Nya di dalam doa. Mengambil waktu untuk Tuhan; tidak lain adalah kita menyadari akan kebutuhan kita untuk selalu dekat dengan Tuhan. Hubungan inillah yang menjadi bahan bakar kita  untuk menghadapi hari yang padat dan penuh tantangan, kemungkinan kegagalan, ekspektasi yang tertunda dan sebagainya. Bahkan ada banyak hal yang tidak kita ketahui yang akan terjadi dan dihadapi (Q.S.Luqman[31] :34).

Boleh saja, saat bangun pagi yang terpikirkan adalah kopi hitam, sarapan, jalan-jalan, olahraga, sumber-sumber keuangan hari itu, bangunan relasi yang akan menambah nama dan kemakmuran. Tidak apa-apa memikirkan hal-hal dunia, namun tidak sepantasnya melupakan-Nya, apalagi menjadikan hal-hal dunia itu sesembahan selain-Nya. Sesekali meluangkan waktu untuk memikirkan berkah-berkahNya, merenungkan siapa diri kita di hadapanNya dan apa jalan menuju dunia yang kekal (akhirat).

Saat di pagi hari menikmati segala karunia sandang, pangan, papan, kesehatan dan sebagainya; siapakah yang menjamin bahwa kenikmatan itu akan kita rasakan hingga siang hari ?

Saat kita menghabiskan waktu pertama kita di pagi hari bersama Tuhan, bukankah itu menunjukkan bahwa kita memprioritaskan hubungan ini di atas hal-hal lainnya dalam hidup ? Jika kita memprioritaskan Tuhan, kita yakin bahwa Tuhan akan memperioritaskan kita. Bila hari ini tidak memperoleh apa yang diinginkan, setidaknya kita telah memperoleh bagian hidup kita bersama Tuhan. Namun, bila sama sekali tidak ada waktu untuk Tuhan, maka bagaimana Tuhan akan memberi waktu untuk kita ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *