Untuk Apa Hari Raya Yatim

by -94 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Yatim berarti ‘kesendirian, lemah, letih dan terlepas’. Sebutan yatim merujuk pada seorang anak yang belum baligh (dewasa) dan ditinggal mati ayahnya.. Bila merujuk pada Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, maka seseorang yang berusia di bawah 18 tahun, belum dianggap dewasa. Dari sisi ini, seorang yatim memiliki beban mental dan material yang besar sebab kehilangan sosok yang bertanggungjawab dalam hidupnya saat masih di bawah umur.

 “Yatim” menjadi perhatian yang serius dalam banyak ayat Alquran.  Misalnya tentang pengelolaan harta anak yatim dan ancaman bagi yang menyalahgunakannya (Q.S.An-Nisa’[4]:11; Al-An’am[6]:152), larangan makan hartanya (Q.S.An-Nisa’[4]:2;6 Al-Isra’[17]:14), larangan sewenang-wenang/berlaku kasar dan abai kepadanya (Q.S.Adh-Dhuha[93]:9; Al-Ma’un[97]:2).

Terhadap yatim yang memiliki harta, stressingnya adalah pengelolaan harta secara baik sehingga manfaat dan maslahat untuk dirinya di kemudian hari. Sedangkan terhadap yatim yang tidak memiliki harta, mereka  menjadi tanggungjawab umat Islam, atau kerabatnya yang mampu.

Prinsipnya, umat Islam harus berbuat baik kepada yatim; baik dari keluarga kaya maupun fakir-miskin. Jika mereka dari fakir-miskin, tentu harus lebih memperhatikannya (Q.S. Al-Baqarah[2]:83,177,220; An-Nisa’[4]:36,127; Al-Anfal[8]:41; Al-Hasyr[59]:7). Bahkan mereka adalah prioritas distribusi zakat (Q.S.At-Taubat[9]:60).

Mereka harus memperoleh perhatian dan penanggungjawab baik dari umat Islam atau kerabatnya. Tujuannya untuk menjamin haknya dipenuhi serta memastikan perkembangan mental dan pikirannya. Sehingga saat dewasa mereka mampu mengelola harta (warisan),  mandiri serta menjadi generasi yang tumbuh baik dan tangguh.

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (TQ.S.An-Nisa[4]:9)

Dalam beberapa hadist, Nabi memberi dorongan yang besar kepada para pihak yang mengurus dan berbuat baik kepada yatim. “Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.”   [Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya]. (HR. Bukhari)

Menanggung mereka secara ajeg (mudawamah) akan lebih bermanfaat. Misalnya dengan menanggung biaya satu atau dua orang hingga tuntas pendidikannya. Bentuk kongkritnya adalah menjadi orangtua/wali asuh/orang yang menanggung yatim (kafil) sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi. Hal demikian lebih mendasar dikarenakan kebutuhan yatim bersifat permanen.  

Mereka pun tidak harus ada di panti atau rumah khusus. Mereka  bebas bertempat tinggal dengan kerabat, di pesantren dan sebagaunya. Di manapun mereka berhak memperoleh perlindungan dan pertanggungan. Seseorang bisa menanggung satu-dua orang yatim hingga benar-benar tuntas. Dan apabila mampu mampu menanggung banyak yatim, tentu semakin berguna. Jika belum mampu menanggung sendirian, maka bisa bersekutu dengan orang lain untuk menanggungya. Dalam pakem“yang kuat membantu yang lemah,” maka orang-orang yang kuat secara ekonomi, wajib menanggung mereka yang lemah (mustadh’afin), termasuk di dalamnya adalah yatim. Bahkan bila merujuk pada kenabian Muhamad saw., tindakan mengasihi ‘yatim’ tidak terbatas pada ruang agama, tetapi juga kemanusiaan. Barulah setelah turun wahyu mengenai yatim, menjadi ajaran agama Islam. Saat kecil beliau diasuh Halimah Sa’diyah, Abu Thalib dan Abdul Muthalib. Saat kelahirannya, masyarakat jahiliyyah Makkah pun bergembira. Mungkin di balik kegembiraannya tersebut terselip butiran kasih sayang disebabkan Muhammad saw. adalah yatim.

Sebagai seorang manusia biasa, Nabi Muhamad saw. mengalami pahit getir sebagai yatim (dan piatu). Namun dengan pengasuhan yang tepat, konsisten dan kontinyu; beliau menjadi pribadi yang sempurna dalam berKetuhanan dan kemanusiaan. Maka Nabi Muhamad saw. memiliki perhatian yang sangat besar kepada kelompok yatim. Beliau sangat concern agar umat Islam memperhatikan mereka. Beliau menjanjikan kafil, akan dekat bersamanya di surga.

Mereka yang merasa pahit getir ‘keyatiman’ niscaya pada saat dewasa dan mandiri, akan terbentuk karakter mengasihi orang-orang yang lemah. Ada kalimat bagus di sebuah rumah anak terlantar dan yatim, yaitu.”Kami dilayani untuk melayani”. Mereka dikasihi bukan untuk menjadi lemah dan rasa tuan; akan tetapi agar mengerti hakikat kemanusiaan, sehingga mereka menjadi pelayan umat manusia, rendah hati dan tahu diri di hadapan Tuhan dan sesama. Karakteristik ini penting agar peradaban manusia tidak berwujud “saling memangsa” atau sebatas “kenyang, senang dan menang.” Tetapi peradaban yang mengibarkan bendera kasih sayang, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran bersama.

Jika tanggal 10 Muharam adalah Hari Raya Yatim, maka ‘perayaan’ itu seharusnya menjadi gambaran kegembiraan yang dapat mereka alami hingga dewasa; cukup umur dan sempurna akalnya, mandiri dan sanggup menghadapi kehidupan serta memiliki mental dan pikiran yang tangguh (balagha asyuddah) [Q.S. Al-Ahqaf[56]:14; Yusuf[12]:22; Al-Qashash[28]:14) Sekaligus sebagai retrospeksi bahwa ada anak-anak terlantar yang terlepas dari orangtua, lemah dan berjuang sendirian untuk mempertahankan hidup; meskipun kedua orangtuanya masih hidup.

Maka, orang-orang dewasa dan kuat intelektualitas maupun hartanya perlu mereview pandangan mengenai yatim. Yaitu bahwa tindakan kasih sayang atau santunan kepada mereka memerlukan konsistensi, kontinuitas, dan persekutuan. Tidak sebatas kemanusiaan, tetapi agama; tidak sebatas perayaan tetapi konsistensi dan keberlanjutan. Tidak sebatas rasa iba (filantrophistic), melainkan kewajiban agama. Rasulullah saw. bersabda,  “Amalan yang paling dicintai oleh Allah  adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.”(HR.Muslim).

Saat ini banyak anak yang masih memiliki ayah dan ibu, namun  ‘terlepas’ dari orangtua karena faktor ekonomi maupun perceraian. Mereka kemudian ‘terlantar’. akibat ego-orangtua (pada kasus perceraian) dan ketimpangan-sosial (pada kasus kefakiran). Pada kelompok ‘fakir’ khususnya, mereka berpotensi putus pendidikan. Sedangkan pada kelompok kaya, mereka berpotensi mengalami ketidaktertibatn mental (mental disorder) atau pun sakit mental.

Apabila kenyataan tersebut dibiarkan, maka akan tiba saatnya generasi yang kehilangan orangtua; dukungan, perlindungan, pendidikan dan kasih sayang. Mereka tidak akan tumbuh dan tangguh alias lemah jiwa dan pikirannya. Padahal, Allah mencintai orang mukmin yang kuat (al-mu’min al-qawiyy), dinamis (al-mu’min al-muhtarif) dan bekerja secara cerdas (al-mutqin).

Wallahu a’lam bish-shawab[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *