Cinta Nabi Pada Tanah Air

by -112 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Saat masih di Mekkah, Nabi Muhammad saw. shalat di antara dua rukun (tiang), dengan posisi Ka’bah berada di hadapannya, tetapi tetap menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). Ketika hijrah ke Madinah, beliau tidak dapat menyatukan keduanya sehingga beliau menghadap ke Baitul Maqdis.

Namun, beliau ingin qiblat shalat menghadap ke Ka’bah (Makkah), maka beliau berdoa memohon agar Allah mengabulkan hajat menghadap kiblat Ka’bah. Allah menjawab doanya, dan menurunkan wahyu ketetapan arah kiblat (Q.S. Al-Baqarah[2]:142-144).

Permohonan ketetapan kiblat ke Ka’bah (Makkah) tersebut bisa pula dimaknai sebagai kerinduan dan perhatian Nabi Muhammad atas tanah airnya. Hal ini bisa dimengetti karena lebih dari 40 tahun, Nabi Muhammad saw. merasakan pahit getirnya kehidupan Makkah. Ada intimidasi, kedzaliman, pengucilan dan pencobaan dari kalangan kaum pagan yang sangat keras kepada beliau.

Faktor itulah yang menyebabkan beliau migrasi ke Madinah. Beliau bersabda, “Wahai Makkah, alangkah indahnya dirimu dan cintanya diriku padamu. Seandainya kaumku tidak mengeluarkanku darimu, niscaya aku tidak akan menetap di selain tanahmu.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ketika perjalanan hijrah menuju Madinah, Rasulullah saw. berhenti sejenak di kawasan Hazwarah, seraya bersabda; “Demi Allah, (wahai kota Makkah), sesungguhnya engkau adalah negeri yang paling kucintai! Kalau bukan karena pendudukmu mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu (HR. Ahmad)

Cinta tanah air adalah hal yang manusiawi baik dalam pengertian tanah kelahiran maupun tempat tinggalnya. Nabi mukim dan menjadi warga Madinah. Kedatangannya pun sangat ditunggu, sehingga saat beliau beserta kaum Muhajirin tiba, penduduk Madinah menyatakan syukur. Dan di antaranya mendendangkan thala’a al-badru,. Beliau orang baik dan mulia, maka penduduk Madinah menerima dengan tangan terbuka dan syukur. Bahkan beliau berhasil membangun masyarakat madani (civil society); masyarakat berperadaban baru dan terbuka (open society).

Di dalam masyarakat itulah nyata adanya peran serta mewujudkan tujuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ada istibaq fi al-khair (berlomba dalam kebaikan), bantu-membantu (ta’awun) dan ketaatan hukum (Q.S.Al-Baqarah[2]:148; Al-Maidah[5]:2; An-Nisa’[5]:59) Dengan lain kata, siapapun warga suatu nation-state (negara-bangsa), harus berperan serta sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dalam mewujudkan tujuan.

Nabi Muhamad saw. memiliki karakteristik yang inheren dalam membentuk kebudayaan dan kehidupan normatif suatu umat. Beliau hijrah, tidak sekadar berpindah dari Makkah ke Madinah. Namun hadir di Madinah dengan agama, etika, seni dan filosofi yang berperan penting sebagai dasar nation-state. Ada pengaruh agama pada masyarakat, kepemimpinan dan selanjutnya berhubungan langsung dengan peradaban yang diciptakan manusia (Nabi, kaum Muhajirin dan Anshor).

Saat Nabi memandang tanah kelahirannya (Makkah) dari Madinah kita memaknai perlunya regenerasi system atas pemahaman terhadap masa lalu. Suatu bangsa akan mampu memecahkan kesulitan-kesulitan selama mendayagunakan pemikirannya ke dalam peristiwa aktual dan memahami secara mendalam faktor-faktor yang meruntuhkan peradaban. Jadi, penting melihat masa lalu, tetapi tidak seharusnya mengulang dan terjerembab masa lalu.

Dalam konteks inilah, sejarah (history) suatu bangsa harus dimaknai dalam perspektif historiology (ilmu sejarah). Bukan sekadar historiograf (gambaran sejarah). Jika kita kehilangan jejak sejarah, niscaya kita akan kehilangan ruh bangsa-negara. Maka dari itu, kita memerlukan situs-situs, benda-benda dan orang-orang yang dapat menjadi pelajaran (‘ibrah) dalam merubah kondisi dan membangun suatu bangsa-negara.

Nabi tahu persis berdasarkan wahyu (Q.S.An-Najm[53]:3) dan logiknya bahwa jahiliyyah merupakan hambatan besar untuk membangun masyarakat terbuka (open society) dan berperadaban. Maka, di Madinah Nabi melakukan konstruksi umat dan perubahan dunia dengan sumber daya yang tersedia serta terus menerus mengaktualisasikan kitabiyah dan pengaruh akal (sumber internal) pada dunia yang eksternal (Q.S.Ar-Ra’d[13]:11)..

Meskipun betah di Madinah, beliau menyimpan rindu dan cintanya kepada tanah air (Makkah). Berjarak ratusan kilometer dari tanah kelahiran, tanpa ponsel, medsos dan media komunikasi lainnya; mungkin juga tanpa tegur sapa, beliau merindukan tanah kelahirannya. Kekufuran yang meledak di tanah Makkah diliputi tandus dan bebatuan, tetap tidak memungkirinya sebagai tanah kelahirannya. Beliau rindu dan cinta pada tanah airnya. Untuk ini Allah memerintahkannya menghadap kiblat ke Ka’bah di Makkah; tidak lagi ke Baitul Maqdis (Palestina). Bahkan beliau mendatangi Makkah penuh damai (Futuh al-Makkah) pada tahun ke-8 Hijriyah..

Kembalinya Nabi ke Makkah direspon hiruk pikuk penduduk Makkah, Mereka takut atas kehadiran Sang Nabi. Namun ketakutan mereka sirna, sebab Sang Nabi membawa kedamaian, keselamatan, keberkahan dan keamanan. Allah telah mengisyaratkan kembalinya Sang Nabi ke Makkah, saat beliau bersedih meninggalkannya. Allah berfirman “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah).” (TQS. Al-Qashash[28]:85).

Kecintaan Rasulullah terhadap Madinah juga sangat mendalam. Oleh sebab itu, ketika pulang dari bepergian, beliau memandangi gerbang Madinah dan memacu kendaraannya dengan cepat agar segera sampai. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah. Bahkan beliau berdoa agar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah.“Ya Allah, cintakanlah kepada kami kota Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah, bahkan lebih.” (HR. Bukhari)

Jadi, cinta tanah air baik dalam pengertian tempat kelahiran (das solen) maupun tempat tinggal (das sein) adalah hal yang alamiah. Demikian pula kecintaan kepada sumber-sumber daya, situs, tradisi dan kebudayaan yang ada di tanah kelahirannya. Kecintaan ini kemudian diwujudkan dalam penghormatan simbol negara, tradisi dan kebudyaan. Hingga yang paling kemprhensif, yaitu mewujudkan masyarakat adil makmur, aman damai sentosa, terhormat dan berkedaulatan..

Misalnya, para atlet yang berjuang di arena olimpiade Tokyo 2020. Ada misi Negara (tanah air) di setiap jerih payah mereka. Dan pada saat bendera berkibar diiringi lagu kebabngsaan tanda juara, tampak suatu kehormatan bangsa-negara (nation-state). Betapa pedihnya para atlet Rsuia saat, bendera dan lagu kebangsaannya tidak dikumandangkan. Meskipun mereka meraih medali; namun penghargaan pribadi, tidak lebih utama daripada penghargaan kepada Negara.

Oleh sebab itu, perasaan cinta kepada bangsa-negara atau cinta kepada tanah air, bukanlah suatu kesalahan dalam beragama. Cinta ini, sama sekali tidak akan menghancurkan tauhid kita sebagai orang yang beriman. Justru, bila menyadari cinta ini, seseorang akan bekerja melaksanakan amanat Allah dalam mewujudkan Negara-bangsa yang aman, damai dan sejahtera sehingga bisa beibadah kepadaNya dengan tenang tanpa rasa takut (Q.S. Al-Baqarah[2]:128; Saba’[34]15; Qurasiyin[106]:1-4).

Cinta Nabi kepada Makkah-Madinah menggambarkan sisi alamiah manusia yang mencintai tanah kelahiran dan tempat tinggalnya; sebagaimana, cinta seseorang pada tanah airnya. “Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” kata orang bijak. Jadi berlebihan-lah, bila ada yang menganggap cinta tanah air adalah kafir dan pengikut thaghut. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *