Kronika Pandemi

by -155 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Dalam hari-hari kehidupan, selalu ada saat kegagalan, kekurangan, keterbatasan, kepahitan, sakit, petaka dan kegetiran (Q.S.Al-Ankabut[29] :2-3). Dalam keadaan seperti ini, tampak kelemahan dan keterbatasan manusia. Namun sebagai makhluk rasional-spiritualis, manusia harus melihat karunia Tuhan yang lain, yaitu kekuatan untuk bangkit, daya pikir dan sosial.

Tahap demi tahap, dengan sabar dan ketekunan manusia berusaha mengatasi masalah. Berlakulah hukum sosial berupa kewajiban kolektif yang harus dilaksanakan agar tata sosial dapat ditegakkan, seperti misalnya saling membantu dan menopang (Q.S.Al-Maidah[5] :2). Yang kuat membantu yang lemah; yang sehat membantu yang sakit; yang kaya membantu yang miskin (Q.S. Al-Baqarah[2] :271-274 ;At-Taubat[9] :60)

Seperti halnya di masa sulit pandemi ini. Tak hanya secara lahiriyah, usaha batiniyah pun dilakukan. Banyak orang terbuka hatinya untuk saling membantu serta semakin rajin beribadah dan berdoa agar Allah menghilangkan wabah (Q.S.Az-Zumar[39] :8).; Al-Hajj[22] ;78) Al-Baqarah[2] :45,153)

‘Takdir Buruk” memang sulit diterima. Mustahil 100 % masyarakat memahami situasi dan kondisi. Pasti ada ketidakpercayaan dan apatisme di tengah heterogenitas. Hal ini pun terkait dengan informasi dan edukasi. Maka, kita maklum adanya pendapat bahwa negara lain bermusuhan dengan pandemi saja, sedangkan kita bermusuhan dengan pandemi dan kejahiliyahan. Kemiskinan makanan bisa dibantu dengan sembako, tetapi kemiskinan logika makin mempersulit keadaan. Apatisme, pembenturan antara agama (mungkin juga politik) dan nalar kesehatan semakin membuncah seiring semarak provokasi dan mis-informasi.

Ironisnya, masyarakat meyakini bahwa pandemi adalah takdir Allah. Tetapi, banyak yang sulit diajak bersama-sama menuju takdir Allah yang lain, yaitu keluar dari masalah pandemi. Padahal Allah memerintahkan manusia mengatasi permasalahan dunia (dan akhirat). Yaitu dengan tindakan dan sikap yang mencerminkan keimanan kepada qadrat dan iradat Allah berupa sabar, taqwa, menjauhi bahaya dan menjaga harapan /tidak putus asa.(Q.S.Al-Baqarah[2] :154-156 ;Ath-Thalaq[65] :2 ; Yusuf[12] :87).

Implementasi dari iman tersebut adalah mewujudkan potensi untuk mengatasi masalah, bukan menambah masalah. Saat pandemic nyata di masyarakat luas, tentu memerlukan konsensus usaha keselamatan, kesehatan, pemulihan dan kemaslahatan umat. Yang sakit diobati, yang belum sakit menghindari. Ada prokes, vaksin, bansos dan doa dimana-mana. Hal ini merupakan konsensus untuk mengatasi masalah dan sesuai dengan syariat Allah (syar’an).

Bahkan bila menilik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR), usaha yang dilakukan sudah sangat maksimal. Dokter Friman Abdullah, Sp.OG dalam laman facebooknya tanggal 10 Juli 2021—yang dibagikan oleh Anonim; menulis bahwa walaupun penuh keterbatasan, Indonesia tidak mengalami pandemic seburuk Amerika Serikat (AS). Sehingga kita tetap layak bersyukur. Kutipannya adalah sebagai berikut,”Amerika Serikat GDP-nya 20 kali lebih besar dari GDP Indonesia. Kasus Covid-19 positif di AS adalah 17 kali lebih banyak dari Indonesia Angka kematian Covid-19 di AS adalah 8 kali lebih banyak dari Indonesia jika di hitung per 1 juta penduduknya.“

“Dan jika dihitung dari angka mutlaknya kematian covid 19 di AS adalah 622.708 jiwa dan Indonesia 64.631 jiwa Indonesia negara kita ini dengan segala keterbatasannya, baik dari segi finansial, fasilitas, SDM, (dan) infrastruktur kesehatannya; namun tidaklah mengalami seburuk seperti yang dialami negara Super Power Amerika Serikat yang punya semuanya. “

“Tidak bisakah kita bersyukur atas semuanya ini ?””Tidak bisakah kita berterimakasih kepada semua para pengambil kebijakan yang sudah tunggang langgang mengendalikan pandemi Covid-19 dan sekaligus juga mengupayakan agar rakyatnya tetap bisa makan.”.

Saat pahit, manusia lupa sekian lama mengalami manis. Saat kekurangan manusia lupa sekian lama mengalami kemakmuran. Dan saat makmur, lapang dan manis lupa akan nadzar, janji dan niat baik kepada Allah dan sesama. Allah menyatakan tipikal ini, bahwa manusia secara alami suka berkeluh kesah (menyembunyikan anugerah), kikir dan enggan bersyukur (Q.S. Al-Ma’arij[70] :19-21). Kecuali, orang-orang yang menegakkan shalat dan melakukan tindakan mengasihi sesama manusia (Q.S. Al-Ma’arij[70] :22-25).

Secara gamblang persepktif kitabiyah tersebut menyatakan bahwa tidak seharusnya orang yang sujud (shalat) kepada Allah meninggikan egoisme dan ‘membelenggu tangannya’ dari keadaan kritis masyarakat. Justru dalam situasi kritis sosial, orang-orang yang merasa dekat kepada Allah, seharusnya semakin dekat kepada manusia.
Contoh nyata ada pada orang-orang Madinah saat Nabi dan kaumnya hijrah. Mereka menopang kaum Muhajirin selama masa kritis di Madinah.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (TQ.S. Al-Hasyr[59]:9).

Allah juga menyatakan tipe orang-orang baik (al-abrar) lainnya, yaitu“.Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.[]Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”[]”Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (TQS. Al-Insan[76]:7-10).

Moralitas kitabiyah mengajarkan bahwa orang-orang yang beriman seharusnya ‘dekat‘ kepada sesama manusia. Kedekatan itu bisa wujud dengan berbuat baik saja semampunya saat tidak baik-baik saja serta tidak lupa nadzar, janji dan niat baik kepada Tuhan dan sesama. Nabi pernah menyatakan,”Bertaqwalah meski dengan sebutir kurma.” Hal ini memberi pelajaran untuk tidak menunda tindakan kasih sayang kepada sesama hambaNya. Sesederhana apapun kebaikan, tetap baik di sisi Allah dan rasulNya. Sebutir kurma saja bisa menjadi sarana bertaqwa; maka lebih bertaqwa lagi para pihak yang memiliki lebih dari sebutir kurma.

Setiap peristiwa ada masanya, dan setiap masa ada peristiwanya. Zaman silih berganti. Sebuah negeri yang semula aman, tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat; pun bisa saja ditimpa kekurangan dan ketakutan. Allah perintahkan kita mengambil pelajaran dari semesta ruang dan waktu kejadian (Q.S.Al-Hasyr[59]:2; Al-Baqarah[2]:179; Ath-Thalaq[65]:10). Pada saatnya, Tuhan akan menghilangkan pandemi seiring usaha manusia dhahiran wa batinan. Sebagaimana Tuhan menutup siang dengan malam, demikian pula putaran dari satu keadaan ke keadaan lainnya (Q.S. Ali Imran[3]:140). []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *