# Usai Arafah #

by -38 views

Oleh Kang Wajih

Para peziarah yang gelisah,

Menerima khabar Makkah-Madinah

Pandemi masih merambah

Mereka hanya bisa berkata dari luaran saja

Tentang ihram, thawaf, sai, jemarat dan sunyi Padang Arafah

Tentang Ibrahim, bapa para utusan Allah,

Juga tentang putih dan cinta semesta

Suci menjulang ke langit menembus Sidrat al-Muntaha

Ziarah tahun ini beberapa orang saja,

Dan entah tahun-tahun berikutnya,

Namun, dalam tempaan takdir,

Jiwa tak boleh terpatahkan,

Bila saat tiba

Tuhan mewujudkan harapan

Bagi sesiapa yang mengalami ujian dengan kesabaran

Beruntunglah wahai sahabatku,

Engkau salah satu di antara jutaan hamba yang dipanggil menziarahi rumah-Nya

Di tahun ini,

Sungguh lengang perjalanan

Antara cemas dan keyakinan

Antara bukit bebatuan di kanan kiri

Antara angin dan terik matahari  

Aku melihatmu dari mesjid nan sunyi,

Bersama orang-orang yang dikasihi Ilahi

Kau  turun di Padang Arafah,

Masuk satu demi satu ke dalam tenda

Sejenak kau rebah, menerawang dan mengingat kekasihmu yang sedang berjuang di tengah pandemi ; menyatakan doa-doa dan kerelaan sana-sini ; merekam cucuran air mata keluarga yang ditinggal ke alam baqa. Ibu, ayah, anak dan kerabat menangis dalam raungan sirine  ajal. Satu demi satu kematian nyaris menggempur jutaan harapan.

”Adalah iblis berhati api, yang tertawa dalam jutaan kesedihan dan kecemasan bahaya, ujian dan bencana manusia, ” tulis sahabatku.

”Apakah kau baik-baik saja,” tegurku sekadarnya.

 ”Ya,”jawabnya pendek.

Dia hendak keluar tenda.

Tetapi angin mencegatnya.

Lagipula banyak penjaga di sekitarnya.

Hanya ejaan talbiyah satu-satu di dalam hatinya.

Lirih.

Seolah tak ada sapaan,”Selamat Datang Peziarah Cinta,”

Padang Arafah penuh kegetiran.

Seharusnya jutaan manusia hiruk pikuk memanjatkan doa.

Sekarang, beberapa orang saja.

Kesedihan membuat akal terpana dan tidak berdaya.

Dalam kesedihan aku menghibur diri.

Mengingat Socrates yang mengajariku kebajikan.

Dia berpesan,“Ketika kau tertimpa kesedihan, terimalah dia dengan keteguhan hati dan berdayakanlah akal untuk mencari jalan keluar.”

Demi langit yang penuh lintasan jalan

Alangkah indahnya bintang berkelip bergantian

Alangkah cintanya mengecup telapak-Mu,

Menggenggam jemari takdir baik-Mu

Saat ini, masa depan dan kekekalan

Arafah berkedip remang menjelang senja.

Lengang,,,,

Peziarah meninggakannya beranjak ke Muzdalifa.

Dan…..

Malam menggulung siang.

Sahabatku berkata,”Aku mendoakanmu sepanjang hari dan memanggilmu dari segala penjuru. Doakanlah Tuhan menerima hajiku. Aku sungguh takut, kebanggaan menikam hatiku dalam ibadah ini, sebab saat jutaan peziarah tertolak, Allah perkenankan aku masuk rumah-Nya.  ”

Alangkah indahnya perjalanan ziarah dengan pulau-pulau cahaya menerangi kegelapan.

Alangkah teduhnya rumah Allah, dengan malaikat penjaga nan ramah. Mereka mendesir angin mengkhabarkan rahmah. Menyentuh laut terang hati setiap jemaah.

Dari mesjid nan sunyi, di negeri sendiri,

Aku ingin menulis dengan pena air mata pada dinding rumah-Mu

“Allahku, Allahku, Allahku. Engkau mustahil mencintaiku.Tapi aku merindukan-Mu. Engkau tak butuh apa-apa dariku. Tapi aku ingin mengusap pintu rumah-Mu.”

Sungguh, tiada dari setiap hembusan nafas melainkan terdapat takdir Allah yang telah ditetapkan.

Dalam ruang dan waktu.

Mungkin tak berapa lama lagi kita di situ, ditaburi cinta nabi dan melayang-layang ke haribaan Tuhan  berkat syafaat Sang Nabi.

Di sini,

Dalam penantian yang tak berhujung; mari kita menyentuh dengan lembut dan  menyebutNya dengan hormat.

“Aku penuhi panggilan-Mu, Allah-ku, Allah-ku, Allah-ku, Aku penuhi panggilan-Mu.”

Pada saatnya, kita akan tiba di rumah-Nya, mengelilingi Bakka  dan mengembara jejak ayah-bunda para nabi.

Kita akan berlari di tengah gurun gulita

Menembus malam mengantarkan peziarah penuh cinta

Memang, penundaan terkadang sebengis kematian

Namun Tuhan punya jalan

Ada rahasia semesta yang tersimpan di dalam khazanah-Nya.

Tersembunyi di antara semesta takdir;

Tuhan tidak meninggalkan kita

Hanya menguji kesungguhan serta keteguhan rindu dan cinta kepadaNya.  []

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *