Masjida Domestika

by -132 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Bisa dimengerti bila para ahli masjid sangat rindu mendatangi masjid. Mereka yang terbiasa shalat berjama’ah, i’tikaf, tadarus, taklim, jumatan dan shalat ‘Id di masjid merasa kehilangan tempat yang nyaman dan teduh dikarenakan pembatasan (sementara) peribadatan di masjid. Bahkan Surat Edaran Menteri Agama No.17 Tahun 2021 menyatakan Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadah. Dan di antara peniadaan tersebut adalah Shalat Idul Adha.

Jalan keluar dari masalah Pandemi covid-19 sejak awal telah dikonstruk sedemikian rupa oleh otoritas Negara dan agama (umara dan ulama). Adapun aplikasinya tentu keyakinan adanya “gerakan takdir Ilahi” sekaligus usaha sungguh-sungguh melaksanakan usaha yang memungkinkan diselesaikannya suatu masalah (Q.S.Ar-Ra’d[13]:11) antara lain dengan protokol kesehatan dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, termasuk di tempat ibadah.

 Hal tersebut harus dilakukan agar memenuhi kaidah sebab aktif (active cause)  dalam perwujudan takdir Allah, yaitu takdir “kesembuhan, keamanan dan keselamatan dan kenormalan.” Artinya, Tuhan tidak serta merta mewujudkan ‘kenormalan, kesembuhan, keamanan dan keselamatan,” tanpa terpenuhinya usaha-usaha hambaNya. Nabi Muhammad saw. adalah orang suci dan imannya kepada Allah mustahil dibandingkan dengan seluruh manusia, tapi saat hendak dibunuh Suraqah, beliau bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu berlari dan berlindung di dalam gua. Demikian halnya saat Khalid bin Walid radiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi sekaligus Panglima perang paling berani; tokh beliau memakai baju perang dan membawa pedang.

Soal ibadah (shalat); setiap orang bisa beribadah di manapun tempatnya. Nabi menyatakan bahwa “Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan bersuci. Barangsiapa dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut” (HR. Bukhari).  Prinsipnya setiap ibadah yang memenuhi syarat, rukun dan fardu adalah sah. Dari sabda Nabi ini juga mengisyaratkan agar bersegera melaksanakan ibadah (shalat dan perkara baik lainnya)..

Maka bisa dimengerti bila adakalanya shalat di masjid, tanah lapang, mushalla, rumah, kendaraan, dan sebagainya. Dahulu sahabat Nabi ada yang shalat di atas onta. Sekarang di Jepang ada mobil besar yang dioperasikan sebagai mobile mosque dan berkeliling di tempat wisata untuk melayani turis muslim yang hendak shalat. Panitia olimpiade di Tokyo juga menyediakan mobil mesjid berkapasitas 50 orang.

Memang ada beberapa ibadah yang sangat dianjurkan dilaksanakan di bangunan khusus yang disebut mesjid seperti misalnya shalat jemaah, tahiyyatul masjid dan i’tikaf. Namun tidak ada larangan shalat, berdoa dan dzikrullah di rumah. Misalnya Shalat Idul Adha. Shalat Id merupakan ibadah sunah muakadah dan tidak wajib dilaksanakan di mesjid, apalagi dalam situasi darurat.

Oleh sebab itu tidak semua ibadah harus dilakukan berkeramaian dan terlihat banyak orang. Ada ahli shadaqah yang membagi sedekahnya secara semubunyi-sembunyi. Tujuannya menjaga perasaan si penerima serta berhati-hati dari nafsu pamer dan pujian (sum’ah dan riya’). Ada juga ahli ibadah yang banyak melakukan shalat sunnah, tadarus kitab suci dan kajian ilmiah di rumah, aula, ruang kelas dan sebagainya.  

Rasulullah saw. bersabda, “Lakukan shalat di dalam rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah ketika dilaksanakan di rumahnya sendiri kecuali shalat jamaah. (HR. Ad-Dârimî). Nabi juga shalat dan tadarus al-Quran di rumah. Hal ini baik karena malaikat akan mendatangi rumah yang digunakan untuk ibadah. Beliau saw. bersabda, “Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca al-Quran.” (HR: Baehaqi) Maka, di rumah pun bisa tetap beribadah kepada Allah. Saatnya rumah tidak seperti hutan (yang kuat yang menang) dan hotel (tanpa tegur sapa, datang dan pergi tanpa peduli). Akan tetapi saatnya rumah bagaikan madrasah (tempat menimba ilmu/kajian) dan mesjid domestik. Di dalam masjid domestik inilah pada hakikatnya sebuah keluarga dibangun. Bila mesjid sebagai tempat suci yang mengantar jemaahnya pada kehambaan diri kepada Allah; maka rumah seharusnya juga menjadi ‘tempat suci’ yang mengantar keluarga menjadi hamba Allah.

Ada ungkapan anything begins the home (segala sesuatunya bermula dari rumah), maka ‘masjida domestika’ bermakna bahwa rumah (keluarga) sebagai pusat iman yang hidup dan meyakinkan; tempat pertama menanamkan iman, aqidah yang benar serta mengajarkan  budi pekerti/akhlak mulia. Rumah menjadi sekolah pertama tentang shalat, doa, kebajikan, tanggungjawab kerasulan dan cinta kasih Ilahiah serta belajar tekun dalam ibadah. Jadi; shalat, takbiran, tahmidan, tahlilan dan ibadah selainnya pun dapat dilaksanakan di rumah atau masjid domestik.

Di “masjid domestik” itulah hendaknya orang-tua menjadi pendidik iman dan peribadatan pertama bagi anak-anak mereka dengan perkataan dan keteladanan. Orang-tua wajib memelihara tanggungjawab  dan panggilan rohani mereka masing-masing sebagai satu kesatuan hamba Allah. Masing-masing anggota keluarga adalah saksi untuk senantiasa mengingat hakikat masjid. Dengan ingatan itu dibangkitkan semangat beribadah  maupun berkehidupan sehari-hari (mu’asyarah) sebagai hamba Allah.

Dalam konteks itu, rumah merupakan tempat dilaksanakannya imamat (kepemimpinan) bersama yang diterima melalui kewajiban individual (fardu a’in) dan kolektif (fardu kifayah)  untuk menerapkan kehambaan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Jadi rumah (keluarga) adalah sekolah kehidupan yang pertama dan suatu tempat pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan

Di rumah orang belajar ketabahan, kekuatan, kesedihan dan kegembiraan, cinta saudara-kerabat, kelapangan hati, jiwa besar, berkemanusiaan, rasa hormat, kerendahan hati dan terutama pengabdian kepada Allah. Pelajaran ini diperoleh dari doa, ibadah dan penyerahan hidup serta mengambil bagian dalam pengorbanan demi mewujudkan kebajikan di antara manusia sebagaimana yang dicontohkan oleh para utusan Allah (Q.S. Thaha[20]:131-32).Al-Baqarah[2]:83).

Segala puji bagi Allah. Adzan masih berkumandang. Shalat masih bisa dilaksanakan, Maka, meskipun ada pembatasan dan prokes, bahkan penutupan semesntara; mesjid tak akan kehilangan kehormatannya. Yang mengerikan adalah saat orang-orang tidak shalat, sehingga mereka dimaasukkan ke neraka Saqar (Q.S. Al-Mudatsir[74]:42-43). Juga apabila seseorang melaksanakan shalat; namun tidak peduli dengan urusan orang lain dan suka cari muka dalam ibadah (Q.S. Al-Maun[107] :4-7) dan akan dimasukkan ke dalam neraka Waiel.

Bila demikian, nilainya sama dengan pendusta, tukang mengumpulkan harta benda namun tak dipergunakan untuk mewujudkan kemaslahatan umat (Q.S. Al-Jatsiyah[45] :7 ; Al-Mursalat[77] :15,19,24,28, 34,37,40), curang dalam menakar dan menimbang (Q.S. Al-Muthaffifin[83] :1), pengumpat dan pencela; serta suka menghitung-hitung harta sehingga  kikir dan tidak membelanjakannya di jalan Allah. (Q.S. Al-Humazah[104]:1-2).

Oleh sebab itu, saat Nabi menyatakan bahwa salah satu kelompok yang akan mendapatkan perlindungan di hari kiamat adalah orang yang hatinya tertambat pada mesjid; maka secara maknawi, adalah orang yang senantiasa ingat sebagai hamba Allah dan menyembah hanya kepada-Nya di manapun berada dan dalam situasi apapun.

Dengan demikian, rumah sebenarnya bukan tempat sembarangan karena di dalamnya kewajiban Ilahiah dan sunnah kerasulan pun dilaksanakan. Dan niscaya Allah akan hadir dalam diri hamba yang beriman dan tulus menyembah-Nya meskipun di dalam rumah. Tak peduli seperti apa rumahnya, Allah juga mendengar doa setiap hamba. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (TQ.S,Qaf[50]:16]. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *