Etika Kepada Ulil Amri di Masa Pandemi

by -177 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Salah satu bentuk jihad adalah daf’un ma’shumun ‘an al-daruri, yaitu mencegah orang-orang yang dilindungi (rakyat) terkena bahaya. Pandemi sudah dinyatakan sebagai bahaya di seluruh dunia. Maka, bisa dimaklumi jika ulil amri (pemerinath dan ulama) berusaha sungguh-sungguh mencegah dan mengatasi pandemi.

Namun demikian, ada yang bersikap anti-tesis ulil amri. Mereka melawan dengan berbagai alasan dan asumsi atas penerbitan peraturan. Misalnya terkait dengan penyelenggaraan ibadah, seolah-olah pemerintah memancing keributan umat beragama; dan melarang beribadah.

“Gorengan” informasi berdasar asumsi tidak lebih dari emosi dan paradigma keagamaan yang jungkir balik. Bagaimana mungkin ulil amri mengajak ribut atau melarang beribadah ?. Ajakan ribut justru sangat mungkin muncul dari penikmat kekacauan dengan sebaran hoax atau pun buruk sangka.

Dengan kata lain hal tersebut cenderung pada sekadar perasaan anti-kebijakan/peraturan ketimbang penjelasan logis dan agamis kepada masyarakat. Sehingga yang muncul adalah pernyataan sinis, memancing asumsi negatif,, membingungkan masyarakat hingga muncul hoax. Hoax yang bertubi-tubi, akhirnya menjadi informasi yang “meyakinkan” dan membingkai ketidakpercayaan kepada ulil amri. Namun dengan tabayyun, berpikir rasional dan jernih dari hawa nafsu; niscaya akan berpikir positif dan tidak termakan hoax (Q.S. Al-Hujarat[49]:6).

Peraturan penyelenggaraan ibadah di masa pandemi, tidak hanya ditetapkan oleh pemerintah dan ulama Indonesia. Akan tetapi di seluruh dunia. Di Makkah dan Madinah, dua tempat simbol kesuciaan dan semangat beribadah pun memberlakukan protokol kesehatan beribadah serta pembatasan kegiatan masyarakat. Bahkan dikenakan sanksi keras bagi pelanggar. Namun saat peraturan ditetapkan oleh ulil amri di Indonesia, ada saja asumsi seolah-olah peraturan tersebut adalah kesewenang-wenangan dan tidak berpihak kepada masyarakat.

Siapapun boleh megkritik kebijakan pemerintah dan tidak sependapat dengan ‘ulama, namun tentu sebagai usaha memberikan solusi yang lebih baik (Q.S.Al-Ashr[103]:3). Bukan sekadar menyerang dan mencela seseorang sebagi pribadi dan ulil amri. Namun mesti didasari alasan ilmiah dan faktual; apalagi agama telah mengajarkan tata cara berbicara, menasehati orang lain dan berpendapat.

Mencela dan mengkritik adalah dua hal yang berbeda. Apabila dasarnya adalah kebencian dan kemarahan, maka seberapan pun tinggi tingkat pendidikan (gelar akademik), tidak akan menjadikannya logis dan etis. Bila masyarakat awam terlanjur menerima “mis-informasi  yang meyakinkan,” maka informasi yang salah pun dianggap benar. Tentu hal ini membahayakan, karena nalar akan memudar dan lebih mempercayai hoax daripada yang haq.

Celaan kepada sesuatu/seseorang tidak akan membuahkan maslahat. Bahkan secara personal ; akan membunuh karakternya. Mencela,  identik dengan perilaku jahiliyyah dan kefasikan (dosa). Dahulu kaum jahiliyyah sangat benci dan dengki kepada Nabi Muhammad saw. Mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi adalah tukang sihir (Q.S.Al-Maidah[5] :110), gila (Q.S.Ash-Shaf-fat[37] :36) dan apa yang dikatakan Nabi hanyalah dongeng masa lalu (Q.S Al-An’am[6] :25). Mereka yang mencela nabi, bukan orang sembarangan melainkan para tokoh jahiliyyah. Tujuannya tidak lain untuk menjatuhkan kredibilitas kerasulan Muhammad saw.
Namun Nabi bersikap lapang dada dan teguh melanjukan ajakan baiknya. Tokh, Nabi diutus bukan sebagai pelaknat. Nabi tahu apabila membalas dengan celaan yang sama ; maka nilanya sama dengan kaum pencela.

Sikap ini menjadi contoh untuk teguh (istbat) dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Mencela atau pun menghina, tidak selaras dengan etika masyarakat beragama dan intelektualitas. Rasulullah saw. bersabda, “Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran.” (HR. Bukhari).

Hal yang patut dilakukan sebagai warga beriman  adalah menaati dan menghargai upaya yang dilakukan ulil amri dalam melindungi, menciptakan kemaslahatan dan mencari solusi permasalahan yang sedang dihadapi. Hal ini bisa dimengerti karena mustahil masyarakat tanpa ulil amri. Bagaimana pun  ulil amri sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat. Adanya ulil amri berpengaruh pada keamanan, kemaslahatan rakyat dan stabilitas negara. Jika kondisi aman, maka rakyat dapat beribadah dengan tenang. Sebaliknya, apa yang akan terjadi apabila tanpa ulil amri dan aturan ?

Menelisik kebutuhan adanya keteraturan, ketertiban, perlindungan dan kemaslahatan masyarakat; maka perlu ada peraturan yang memungkinkan teruwjudnya kemaslahatan bersama di masa kini dan akan datang.. Bila tidak, kehidupan akan kacau. Tujuan dan kemaslahatan masyarakat yang lebih luas dan besar pun akan gagal.

Prokes, pembatasan kegiatan dan penanganan pandemi yang massif dan terstruktur seharunya dilihat sebagai upaya ulil amri yang nyata, logis, relijius dan bertanggungjawab dalam mencegah serta melindungi hal-hal yang membahayakan rakyat. Jika tidak ada upaya, tentu bahaya dan kerusakan akan semakin parah.

Mungkin ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak, sehingga berat menaatinya, sekalipun dalam hal ma’ruf (baik). Misalnya menaati prokes dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Namun, tidak seharusnya perkara yang ma’ruf ini ditolak, apalagi dicela. Kita tidak seharusnya melampaui/menantang batas, sebab berakibat.bahaya. Kita perlu memanfaatkan telinga, mata, dan hatinya untuk melihat kebenaran dan kemaslahatan supaya tidak tersesat (Q.S. Al-A’raf[7]:179) serta waktu, kesabaran dan bantuan untuk mengatasinya (Q.S.Al-Baqarah[2]:155-157; Al-Anfal[8]: Az-Zumat[39]:10; Al-Maidah[5]:2)..

Seyogyannya kita menerapkan etika terhadap ulil amri. Di antaranya adalah. mendoakan kebaikan, menghormati, mendengar, menaati dan membantu menciptakan kemaslahatan (Q.S.An-Nisa[4]:59,83). Bila pun menasehati (mengkritik) hendaknya tidak dinyatakan secara vulgar dan ucapan buruk apalagi disertai dengan keinginan menjatuhkan martabat dan derajatnya (Q.S.Al-Baqarah[2]:83; An-Nisa[4]:148; Al-Ahzab[33]:32,70)..

Para ulama dan orang-orang shalih zaman dahulu berpandangan bahwa mendoakan kejelekan kepada ulil amri dikategorikan sebagai pengikut hawa nafsu. Sedangkan mendoakan kebaikan, menghormati, menaati dan menasehati secara baik dikategorikan sebagai pengikut sunnah. Manusia (warga-masyarakat) senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menghormati penguasa dan ulama, karena jika dua pihak ini dihormati, maka dunia dan akhiratnya akan baik. Sebaliknya, jika keduanya dihinakan maka dunia dan akhiratnya akan rusak.

Situasi yang sulit, akan semakin sulit apabila tidak ada kepatuhan. Rasulullah saw. mengajarkan agar saling membantu dan tidak saling mempersulit dalam mencapai kemashalatan. Kepatuhan terhadap peraturan niscaya merupakan kebaikan di sisi Allah. Ikhtiar lahir dan batin yang telah dilakukan oleh ulim amri, akan semakin kuat dan membuahkan hasil dengan partisipasi masyarakat berupa doa (ikhtiar batin) dan kepatuhan (ikhtiar lahir).

Mustahil peraturan yang ditetapkan ulil amri ditujukan untuk menghalangi ibadah; atau mencelakakan dunia dan akhirat serta menjauhkan kemaslahatan. Juga mustahil ulil amri memerintahkan durhaka kepada Allah. Maka, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita menaati ulil amri. Beliau bersabda, “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat tatkala senang maupun benci. Jika disuruh kepada maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat.” (Muttafaq ‘Alaih).
Semoga saudara-saudaraku sehat, aman, damai dan sejahtera. Kita berdoa dan berusaha semoga pandemi segera berakhir. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *