Kawasan Dieng Membeku, Pertanda Musim Kemarau Tiba?

by -62 views

WONOSOBOZONE.COM – Kawasan Dataran Tinggi Dieng yang terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo kembali dislimuti embun es atau masyarakat sekitar sering menyebut dengan bun upas, pada Rabu (7/7/2021) pagi tadi.

Berdasarkan unggahan akun instagram salah satu pembuat aplikasi Stasiun Cuaca Dieng @AryadiDarwanto menyebut fenomena munculnya bun upas yang berada di Kawasan kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara itu kembali terjadi untuk kedua kalinya di tahun 2021. Menurutnya kemunculan embun es ini, biasanya ditandai dengan suhu udara sudah terasa dingin 1 hari sebelumnya.

Ia menyebut, suhu udara di dataran tinggi Dieng sudah mulai turun sejak Selasa (6/7) sore. Tercatat pada pukul 17.00 WIB suhu sudah turun hingga 10 derajat Celcius. Kemudian pukul 06.00 WIB suhu minus 1 derajat Celsius.

“Suhu minus 1,2 derajat Celsius tersebut merupakan suhu permukaan tanah. Sedangkan berdasarkan data dari BMKG pagi ini, suhu udara hanya di 5 derajat Celcius,” jelasnya.

Namun, ia mengimbau agar wisatawan untuk tetap tidak datang dulu ke obyek wisata di dataran tinggi Dieng. Mengingat saat ini masih PPKM darurat.

Apakah kemunculan bun upas didataran tinggi dieng tersebut merupakan pertanda akan datangnya musim kemarau?

Melansir kompas.com, Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supari menjelaskan, saat memasuki musim kemarau, udara di malam hari akan terasa sangat dingin dikarenakan bumi melepaskan sebagian besar energi panas yang diserapnya di siang hari.

“Yang membedakan adalah, saat musim kemarau umumnya cuaca cerah, langit bersih dari awan,” ujar Supari.

“Hal ini menyebabkan energi yang dilepaskan oleh bumi di malam hari dapat lepas ke atmofer bebas, tanpa terhalang awan,” lanjut dia.

Sementara itu Peneliti Pusat Sains dan Antariksa Lapan, Andi Pangerang, menyampaikan bahwa Indonesia memasuki musim kemarau yang membuat suhu dingin saat pagi hari. Menurutnya, kejadian suhu dingin akan berlangsung sampai bulan Agustus 2021.

Andi menjelaskan, dinginnya suhu di pagi hari saat musim kemarau dikarenakan tutupan awan yang sedikit. Dengan demikian, tidak ada panas dari permukaan Bumi (yang diserap dari cahaya Matahari dan dilepaskan pada malam hari) yang dipantulkan kembali ke permukaan Bumi oleh awan. (why)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *