Idul Qurban, Jangan Ada Korban

by -244 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Peradaban telah melampaui kesadisan terhadap manusia sebagai korban atau persembahan kepada para dewa dan roh. Ribuan tahun lalu, suku-suku seperti Aztec, Inca dan Maya di Meksiko, Ur di Irak dan Tiongkok kuno melakukan pengorbanan. Dengan mengorbankan manusia, mereka beranggapan akan memperoleh berkah dan kesuburan (kemakmuran). Disamping itu, untuk menyenangkan Dewa. Fir’aun juga membunuh bayi laki-laki Bani Israil agar kekuasaannya tidak ada yang mengusik (Q.S. Al-Baqarah[2]:49; Al-A’raf[7]:141; Hud[11]:83; Al-Qashash[28]:4).

Perbuatan tersebut merupakan perbuatan syetan (Q.S. Al-Maidah[5]:90). Zaman jahiliyyah di Makkah, juga ditandai dengan pembunuhan terhadap manusia (Q.S. Al-An’am[6]:140;151; .At-Takwir[81]:9; An-Nahl[16]:58 ). Tradisi gila ini berhenti setelah Nabi Muhammad saw. mengislamkan mereka. Karena sangat iba, seorang pemimpin Bani Tamim, Sha’sha’ah bin Najiyyah Al-Tammam, menebus ratusan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Setiap bayi ditebus dengan seekor onta terbaik. Ini pengorbanan yang sangat besar. Dia mengorbankan harta untuk melawan ‘pembunuhan manusia’ tanpa haq.

Meskipun demikian, di hadapan Nabi dia merasa belum berbuat baik (berkorban) menyelamatkan manusia. Sehingga saat dia masuk Islam, Nabi membacakan surat Az-Zalzalah, ayat 7 dan 8.“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.”[]”Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”(TQS. Az-Zalzalah[99]:7-8).

Ibadah sejati bukanlah mempersembahkan manusia; melainkan mempersembahkan ‘hidupnya’ untuk Tuhan (Q.S.Al-An’am[6]:162; A-Bayyinah[96]:5). Beribadah hanya kepada Allah; diniati menaati perintah Allah, bukan untuk diri diri sendiri (ego) atau lainnya. Dalam konteks ini, ibadah harus dilakukan dengan mengorbankan kepentingan dan keinginan pribadi.

Ibadah korban merupakan ibadah yang paling sulit; sebab harus melawan ego. Egoisme selalu menentang pengorbanan karena terkait dengan melepaskan sesuatu yang disukai dan diinginkan. Saat sedang duduk nyaman di kendaraan, ada orangtua yang tidak kebagian tempat duduk; maka mau tidak mau harus mengorbankan kenyamanan dengan mempersilakannya duduk. Saat sepotong roti yang sangat enak digenggam, ada orang lain yang sangat membutuhkan; tentu sang ego enggan membagi..

Saat hendak membeli hewan qorban; sang ego akan menentangnya. Pun saat hewan disembelih dibacakan siapa pengorbannya; ada godaan ego terkait nama.. Bahkan bagi orang-orang yang terbiasa berkorban setiap tahun; ada perasaan tidak enak apabila tidak berkorban. Padahal, ada orang lain yang lebih membutuhkan bahan pokok (basic necessary) sehari-hari. Akhirnya dia bimbang apakah untuk membeli hewan qurban ataukah sembako.

Ada pula rasa tidak enak dengan tetangga, apabila berkorban di tempat lain (tebar korban), di daerah yang minim. Semua ini adalah kecenderungan ego, padahal berkoban bisa dilakukan di mana pun, apalagi jika di daerahnya sendiri surplus. Teramat surplusnya, terkadang seperti “bagi rata” daging korban. Di sisi lain, banyak kampung yang hanya mencium aroma korban.

Hal tersebut memunculkan paradigma ego-ibadah, yakni “puas dan tidak puas,” atau enak nggak enak dengan pihak lain. Tentu hakikat rasa ini hanya bisa diketahui oleh diri sendiri (Q.S. Al-Qiyamah[75] :14). Namun yang diperlukan adalah melihat seberapa besar ego kita di hadapan Super Ego (Allah, Dzat Yang Mutlak).

Berkorban merupakan peperangan ego terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Ibrahim ‘alaihissalam adalah orang yang patuh kepada Allah, namun saat Allah meminta ‘qurban’ sang anak yang dikasihinya; beliau hampir membangkang. Dan saat Allah mengganti ‘tubuh’ Ismail ‘alaihissalam dengan domba yang terbaik; maka saat itu pula sesungguhnya ‘pengorbanan tubuh manusia’ harus dihentikan. Manusia tidak boleh mengorbankan manusia lain walaupun atas nama keimanan. Tidak boleh menyakiti dan membahayakan manusia, meski atas nama Tuhan. Tidak boleh membunuh manusia tanpa haq (Q.S.Al-An’am[6]:151; Al-Isra’[17]:33; Al-Furqan[25]:68).

Allah tidak butuh darah dan daging (persembahan tubuh), melainkan Allah hanya menerima ketaqwaan (Q.S.Al-Hajj[22] :37). Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.(Q.S. Al-Maidah[5]:27). Hal ini bisa dimaklumi, sebab setiap orang bisa berdzikir siang malam, shalat ratusan rekaat dan puasa tanpa henti. Akan tetapi, saat Allah meminta berkorban demi orang lain; maka akan muncul berbagai alasan untuk menolaknya. Kalaupun melakukannya, sulit menjauhkan diri dari godaan kepentingan dan keinginan ego.

Maka, ketaqwaan yang sejati adalah ketulusan dalam ibadah; kemurnian dalam menyembah Allah, mempersembahkan cinta dan kasih untuk Allah Yang Maha Kasih dan Penyayang. Hal ini telah ditetapkan sejak zaman manusia diciptakan (Q.S. Adz-Dzariyat[51]:56), saat anak-anak Adam ‘alaihissalam (Q.S. Al-Maidah[5]:27) dan Ibrahim alaihissalam (Q.S. Ash-Shaffat[37]:102-107) berkorban. Orang yang sedang berhaji dan umrah namun terkepung oleh musuh atau karena sakit, juga berkorban. Mereka harus menyembelih hewan korban sebagai pengganti amalan wajib haji yang ditinggalkan atau sebagai denda karena melanggar hal-hal yang terlarang mengerjakannya di dalam ibadah haji. (Q.S. Al-Baqarah[2]:196)

Dalam area kehidupan yang lebih luas, berkorban tidak henya menyembelih hewan, tetapi terutama mengikis ego. Esensinya adalah saat seseorang “menginginkan sesuatu semuanya,” kemudian membagi dengan orang lain karena peduli (dan cinta), maka hal ini dapat disebut pengorbanan. Disinilah egoism harus disingkirkan saat mengetahui ada orang lain yang membutuhkan atau ada tujuan kemaslahatan yang lebih besar. Kenyataannya, pengorbanan diperlukan dalam setiap waktu dan ruang kehidupan dengan tujuan tertentu. Ada kebutuhan keselamatan dan kemakmuran bersama yang mustahil terwujud bila mempertahankan ego. Sebaliknya, akan terwujud bila ada ‘pengorbanan,’ mengikis egoism.

Sekecil apapun dan dalam bentuk apapun, seseorang harus berkorban supaya orang lain menerima manfaat dan maslahat. Misalnya saat pandemic sekarang. Tidak selayaknya mendahulukan ego-nya meski dengan alasan Ilahiah. Shalat ‘Id dan berqurban adalah ibadah yang mulia; akan tetapi kemuliaan ini tidak boleh dicemari dengan hal-hal yang mungkin menimbulkan madharat. Jadi perlu melawan keinginan/ego kepuasan dalam beribadah.

Kaum muslim tidak selayaknya bersepakat dalam hal-hal yang madharat. Bila mengabaikan prokes dalam shalat ‘Id dan penyembelihan hewan qurban dan distribusinya dimungkinkan terdapat madharat (karena situasi pandemic yang secara medis terbukti bahaya), maka tidak selayaknya berbondong-bondong atau berkerumun dan menunjukkan (secara isyarat) kesepakatannya dalam pengabaian prokes yang akan mengakibatkan madharat.

Sebaliknya, ketaatan pada prokes adalah suatu kebaikan. Dan apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin, niscaya baik menurut Allah (mā ra-āhu al-muslimūn ḥasanan fahuwa ‘inda Allāhi ḥasanun). Menekan keinginan/ego untuk berkerumun dan menghindari bahaya adalah baik menurut akal budi kaum muslim; maka niscaya baik di sisi Allah. Kita tidak tahu siapa yang tertular dan menularkan. Mungkin kita tidak bisa melawan musuh yang sangat kuat dan tak terlihat; tetapi kita bisa menghindarinya. Dengan demikian kita bisa mengurangi resiko penularan dan munculnya klaster baru yang membahayakan.

Penerapan prokes dalam aktivitas sosial-keagamaan dimaklumi karena dalam kegiatan ini banyak kemungkinan. Shalat ‘Id di rumah dan mendistribusikan daging korban secara door to door, menyediakan infrastruktur seperti tempat cuci tangan, suplai air bersih, Alat Pelindung Diri (APD), mengelola limbah pemotongan adalah baik, maka niscaya baik pula di sisi Allah. Hal ini bisa dipahami karena tingginya ancaman covid-19. Lagipula tidak mengurangi makna shalat dan ibadah qurban. Siapa tahu, dengan menghindari potensi madharat dan bahaya; akan dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah meskipun hanya seberat atom serta memperoleh berkah-Nya.

Selamat berqurban. Dan jangan ada korban covid-19. Semoga sehat selalu, saudaraku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *