Bila Haji Tertunda

by -157 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – “Tinggalkan rumahmu, pergilah ke rumah Allah,”
Itulah bisik halus kepada setiap orang yang rindu Rumah Allah. Tak peduli seberapa besar dan mewah rumah seseorang; bila rindu pada Rumah Allah, niscaya berusaha mengunjunginya. Tak peduli seberapa miskin seseorang, kerinduan mengunjungi rumah Allah membuncah meski dalam derai air mata. Mereka tahu, hanya rumah Allah yang pintunya terbuka untuk dimasuki siapapun.

Kerinduan adalah rasa terikat kepada sesuatu sehingga ingin sampai kepada sesuatu yang dirindukannya. Bila kerinduannya serius dan sungguh-sungguh, niscaya hatinya akan terpaut kepada yang dirindu. Dan rindu mengunjungi rumah Allah, adalah kerinduan setiap muslim. Bahkan menjadi pilar agama. Kata nabi; tak ada tempat yang harus sungguh-sungguh diingini untuk dikunjungi oleh setiap muslim selain Masjid al-Haram, Nabawi dan al-Aqsha.

Semua hambaNya telah dipanggil mengunjungi rumahNya (Q.S. Al-Hajj[22]:27-28). Panggilan senantiasa bergema kepada hambaNya di seluruh dunia. Tidak ada alasan untuk berkata,”belum mendapat panggilan.” Namun kesehatan, biaya, keamanan serta situasi dan kondisi lain (misalnya pandemic covid-19) bisa menjadi hambatan untuk sampai ke rumah Allah. Apalagi, rumah Allah hanya ada di Mekkah dan terkait dengan ijin dari otoritas kerajaan Saudi Arabia. Oleh sebab itu, Allah mewajibkan kunjungan ke rumahNya bagi orang yang mampu saja (Q.S.Ali Imran[3]:97).

Mengunjungi rumahNya adalah menuju kehambaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta manusia. Allah tidak butuh kehadiran kita, tetapi kita butuh mengunjungi rumahNya. Duduk bersimpuh di hadapan ‘tuan rumah’ Yang Maha Mutlak. Kita ingin dekat kepada Sang Pemilik Mutlak. Kita ingin berada di sisiNya; mendengarkan uraian cinta dan sentuhan lembutNya. Tuhan akan mengusap hati kita tanpa melihat status kita. Semuanya berpakaian putih. Menanggalkan pakaian lain (egoism, status-quo atau apapun dunia kita) berganti mengenakan ihram yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Pakaian dan semua hal duniawi yang melekat pada seseorang menjadi ‘pembeda.’ Pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Sombong, percaya diri dan minder bisa bersumber dari pakaiannya.

Pakaian melambangkan pola, preferensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. Tak dapat disangkal bahwa pakaian pada kenyataannya berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau satu kelompok dengan lainnya. Bahkan dengan ‘pakaian’, seringkali terjadi ‘pembedaan.’ Tapi pakaian ihram menanggalkan semua preferensi, perbedaan dan pembedaan. Saat ihram ; semua tampak sama.

Di Miqat, tempat ritual ibadah haji dimulai, pembedaan ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Di Miqat, apapun ras, suku dan status-quo harus dilepaskan. Pakaian psikisnya juga harus dilepaskan. Semua ‘pakaian psikis’ yang dipakai sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan kepada manusia), bidadari (yang melambangkan eksostika) atau jubah keshalihan dan kepangkatan harus ditanggalkan.

Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika mati, seseorang yang melaksanakan ibadah haji merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian tersebut. Ketika memakai pakaian ihram, seseorang merasakan kelemahan, keterbatasan dan pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagaimana bila haji tertunda atau terhalang mengunjungi rumahNya ?
Tentu kesedihan yang luar biasa. Seakan-akan air mata tumpah ruah pada dinding Ka’bah. Menggetarkan langit agar Tuhan berkenan mempersilakan datang mengunjungi rumahNya. Kesedihan yang wajar bagi seorang perindu. Berpuluh tahun merindu, terhalang oleh musibah tak menentu. Allah yang memanggil hamba-Nya, Allah juga yang menentukan waktu yang tepat untuk hadir. Namun Tuhan tidak membiarkan duka lara sang perindu yang tak mampu dan terhalang mengunjungi rumahNya.

Allah akan menganugerahi pahala setara haji dan umrah kepada siapapun yang berbakti kepada orangtua, shalat jama’ah lima waktu, bersimpuh di waktu shubuh seraya dzikir kepadaNya hingga dhuha, bertasbih, bertahlil dan bertahmid dengan sepenuh hati serta mencintai sesama dengan serpihan kasih Ilahi.

Sebagaimana Ali ibn Al-Muwaffaq seorang tukang sol sepatu di Damaskus yang gagal berhaji demi tetangganya yang nyaris mati kelaparan. Meski tak berhaji dia memperoleh derajat haji mabrur. Dia rela tidak mengunjungi rumahNya demi sesama muslim yang terjerat duka lara Sebab tak berguna mengunjungi rumah-Nya tanpa keikhlasan (lillāh). Tiada makna mengunjungi rumah-Nya bila sekadar cari nama, pamer muka dan meninggikan statusnya (lin-nuzhah).

Tuhan mempersilakan para peziarah yang terhalang mengunjungi-Nya untuk bertalbiyah dalam hati atau melafalkannya secara lirih dengan sedikit tetesan air mata pada saat teduh di malam-Nya. “Berhajilah” dalam setiap kesempatan.

Ambillah miqat kehambaan, yaitu merasa bahwa dirimu bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Dirimu hanyalah debu yang menempel pada kertas semesta yang membentang di antara takdir ke takdir. Dirimu hanyalah ikan kecil yang terluka di antara buih harapan yang menggelembung di atas samudera-Nya; Dan…., takdir Tuhan tidaklah tunggal. Bila saatnya, akan sampai juga pada takdir-Nya.
Thawaflah di rumah-rumah fakir miskin, orang-orang tak berdaya dan anak-anak yatim. Jangan berhenti sebelum tuntas putaranmu. Selanjutnya, berlarilah secara teratur dari peradaban ke peradaban berikutnya hingga engkau sampai pada titik ridha-Nya (Q.S. Al-Mulk[67]:2).

Nabi pernah bilang bahwa haji adalah ‘arafah. Bila seseorang berhaji tetapi tidak melaksanakan wuquf., maka hajinya tidak sah. Maka, Wuquf (berhentilah) dari kerakusan, tipu menipu, arogansi, kedzaliman, dan panjang lidah (Q.S. Thaha[20]:131;An-Nahl[16]:92,94; Al-Isra’[17]:37;83; Luqman[31]:18; Shad[38]:74-76; Hud[11]:116; Ali Imran[3]:78; Al-A’raf[7]:176; An-Nahl[16]:62, 116). Berhentilah dari mengkhianati janji, adu domba, hasud, melampaui batas, kikir, buruk sangka (Q.S.Al-Qalam[68] :9-12. Ali Imran[3]:190; An-Nisa’[4]:37; Al-Hadid[57]:24; Al-Hujarat[49]:12)

Berhentilah mengira bahwa seluruh harta benda, nama, status yang dikumpulkan akan dibawa mati (Q.S. At-Takatsur[109]:1-6; Al-Baqarah[2]:200; Asy-Syura[42]:20). Tiada berguna nama dunia, bila di akhirat jauh dari rahmatNya (Q.S.Al-Baqarah[2] :161). Tiada berguna seluruh mata dunia tertuju padamu, tetapi di akhirat Allah berpaling muka (Q.S.Al-Baqarah[2]:162; Ali Imran[87-88’ ; An-Nahl[15]:85; Al-Anbiya[21]:40; As-Sajdah[32]:29)

Saat kau akan mohon diri dari rumah Allah (wada’) menuju kampung halaman, sederhankanlah ‘belanjaanmu’. Ringankanlah bebanmu, sebab perjalanan sangat jauh. Kirimkan belanjaanmu ke akhirat sebelum engkau sampai ke sana. Jangan penuhi kendaraanmu dengan beban yang dapat membahayakan perjalanan ke kampung halaman.

Setelah selesai urusan belanjaan duniamu, pergilah dari rumah-Nya menuju kampung halaman (akhirat) dengan tenang dan ringan ; tiada rasa takut dan khawatir (Q.S. Az-Zukhruf[43] :68,69 ; Fush-shilat[41] :30).) Pulang-lah ke hadirat Allah sebagai kekasih-Nya (Q.S.Al-A’raf[7]:49; Yunus[10] :52). Bila tidak; emas sepenuh bumi penuh pun tidak akan bisa menebus ridhaNya (Q.S.Ali Imran[3] :91). []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *