Santri Pancasila

by -50 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Adanya orang atau kelompok yang menolak Pancasila sebagai dasar Negara merupakan tantangan tersendiri bagi santri. Hal ini bisa dimengerti sebab santri memiliki sanad kebangsaan Indonesia dan merupakan garda perjuangan mewujudkan negara-bangsa (nation-state) Indonesia.

Mereka lahir dari ulama pejuang kemerdekaan dengan karakter “cinta tanah air sebagian dari iman”. Sehingga bertumbuh kuat kiprahnya dalam sejarah pergerakan bangsa dan pembumian Pancasila. Sebab bagi mereka Pancasila pun mencerminkan nilai-nilai keagamaan dari falsafah yang diterima melalui pemikiran dan tradisi yang diwariskan sebagai legasi. Dalam konteks ini, mustahil santri anti-Pancasila alias anti-Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyaatan dan Keadilan.

Sebaliknya bila tidak memiliki sanad kebangsaan, budaya dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI) ditambah klaim kebenaran dalam beragama; maka sulit menerima Pancasila, ogah menghormat bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bahkan kesepahaman para pendiri bangsa mengenai Pancasila dibenturkan dengan agama dan diributkan aqidahnya bila ber-Pancasila, menghormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sekelompok kecil sangat mengkhawatirkan terjerumus murtad, musyrik, kafir dan thaghut karena Pancasila, hormat bendera dan menyanyi lagu Indonesia Raya. Istilah keagamaan seperti ini sejatinya merupakan senjata pemusnah cinta tanah air dan pengikis pengakuan kepada kedaulatan Negara-bangsa Indonesia. Sebab, orang beragama tentu sangat takut bila distigma sebagai musyrik, murtad, kafir dan thaghut. Jadi, alih-alih meningkatkan kesepahaman berbangsa dan bernegara justru provokasi ideologis hingga ingin mengganti dasar dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mestinya pembahasan soal ideologi tersebut sudah selesai. Kita tidak akan bisa maju dan justru mundur bila perdebatan tersebut jauh dari semangat konstruktif untuk pembangunan Negara. Bahkan bisa sangat mencelakakan Negara-bangsa Indonesia. Banyak Negara (misalnya Timur Tengah) yang ribut tiada henti akibat rebutan ideologi serta eksklusivitas kelompok dan klan penguasa. Tentu, hal ini tidak kita inginkan, bahkan harus disingkirkan sejauh mungkin.

Pancasila telah disepakati oleh para pendiiri Negara-bangsa sebagai dasar negara Republik Indonesia. Para kyai di seluruh nusantara, juga mendukung penetapan Pancasila sebagai dasar negara. Di antaranya, K.H. A. Wachid Hasyim (putra K.H. HasyimAs’ariy) adalah salah satu dari sembilan anggota tim perumus dasar negara tersebut.

Pancasila mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang dikemas sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Mbah K.H. Achmad Shiddiq berkata,“Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan.”

Pancasila sebagai hasil ijtihad para kyai, memiliki nilai humanisme-religius. Pancasila relevan dan cocok sebagai dasar negara Republik Indonesia yang beranekaragam suku, ras dan agama. Maka, penting untuk tetap menjaganya dengan cara mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Bagi santri, yang diperlukan adalah merawat konsensus para sesepuh guru (ulama) serta pendiri bangsa yang telah susah payah membangun kesepahamaan antar budaya, tradisi, agama, suku, bahkan kerajaaan-kerajaan di Nusantara dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai dasar Negara.
Siapapun yang menganggap sepele dan remeh hal tersebut sungguh tidak memiliki adab dan tata krama kebangsaan-kenegaraan. Pancasila lahir dari pejuang yang mengerti kondisi bangsa Indonesia.

Untuk menerima Pancasila Syeikhuna K.H. Hasyim Asy’ari melakukan puasa, shalat istikharah dan tadarus Alquran. Beliau memohon petunjuk kepada Allah, dan akhirnya beliau ridha. Penerimaannya terhadap Pancasila, tidak merusak sedikitpun keagamaan, keulamaan dan kezuhudannya. Beliau juga tetap berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah Rasul-Nya.

Menelisik jalur ulama Nusantara dan santri dalam bangunan masyarakat serta negara-bangsa Indonesia, santri seharusnya memiliki wawasan kebangsaan Indonesia. Jangan malah wawasan kebangsaan lain serta merusak sejarah, tradisi, budaya dan adab. Santri juga seharusnya berkontribusi besar terhadap arus utama wacana keagamaan yang moderat dan turut menjaga Pancasila.

Sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa, santri dan pesantren mengambil peran yang besar dalam upaya pengamalan Pancasila. Peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mustahil diabaikan. Maka, santri seharusnya menjadikan bangsa ini memahami arti penting mentradisikan suatu ideologi. Mereka setidaknya telah membuktikan bahwa membudayakan cinta tanah akan melahirkan generasi yang rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Tampilnya santri dalam ‘perebutan dan perlawanan’ wacana keagamaan yang mengarah pada puritanisme agama serta membahayakan negara adalah bukti peran santri. Oleh sebab itu, santri sebagai bagian dari bangsa harus mengambil peran dalam menjaga Pancasila dari manapun yang merongrong dasar negara dan kedaulatan NKRI serta paham yang mengancam ideologi dan keutuhan bangsa-negara.

Sebagai santri ; harus menjaga wasiat dan warisan kyai, ulama dan pendiri bangsa-negara. Kita yang membuat, maka kita yang menjaga. Hal ini juga dalam rangka menjaga ilmu, kebangsaan dan kenegaraan ulama agar tidak dirusak oleh orang yang merasa lebih tahu tentang Indonesia dan sempurna dalam beragama. Wallahu a’lam bish-shawab []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *