Guguran Hati di Hari Fitri

by -188 views

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Dalam Kitabiyah, kerukunan adalah saling mengasihi, menghormati, memafkan dan menguatkan tanpa sekat suku, agama, ras maupun golongan. Untuk ini semua umat mendapatkan mandat agar tidak melakukan pemaksaan memeluk suatu agama (Q.S.Al-Baqarah[2]:256) dan tak boleh saling mencaci sesembahannya (Q.S. Al-An’am[6]:108) Sebaliknya harus mengedepankan mandat kemanusiaan, yaitu berbuat baik kepada mereka, meskipun tidak seiman, (Q.S.Al-Mumtahanah[60:8; Al-Kafiru[109]:6); Berbuat baik kepada orangtua, tetangga, kerabat jauh maupun dekat, fakir miskin, orang-orang terlantar dan tertindas (Q.S. Al-Isra’[17]:23; Al-Baqarah[2]:83; An-Nisa’[4]:36; Al-An’am[6]:151; An-Nahl[16]: 128; Al-Anfal[8]:72,73).

Namun demikian, manusia juga cenderung berseteru, dendam, mencela, memburuk-burukkan, berkata dan berbuat kasar serta dzalim. Dalam sejarah perkembangan kemanusiaan, kita menemukan bahwa perdebatan, perseteruan, hingga peperangan dan putus hubungan sering terjadi di antara pribadi, keluarga, masyarakat dan umat.. Mereka yang seriman pun ternyata mengalami kesulitan melaksanakan perintahNya untuk hidup bersama, saling mengasihi, hormat, adil dan damai. Sedangkan keadilan, kedamaian dan persaudaraan lebih baik di sisi Allah (Q.S. Al-Maidah[5]:8; An-Nisa[4]:114, 128; Al-Baqarah[2]:220; Al-Hujarat[49]:10) .

Mengapa demikian ? Mungkin yang satu merasa lebih benar dan besar dari yang lain. Berlebihan dalam dominasi; tersinggung atau merasa tersaingi oleh yang lain. Ada pula yang merasa paling mengenal Allah, sehingga menjadi satu-satunya kelompok yang akan masuk ke surga.

Umat Kristiani mengenal perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.“ (Matius 22:29), Ini menunjukan bahwa belas kasih menjadi landasan dan pedoman dalam membangun kerukunan hidup bersama. Seseorang harus melihat diri sendiri dalam hal perlakuan orang lain. Bila kita lapar, orang lain juga lapar. Bila kita sakit saat dicubit, ya jangan mencubit.

Tanpa belas kasih, manusia akan dzalim., gelap mata dan hati. Demikian pula apabila dia bersahabat dengan dunia. Ketika keterkaitan dengan dunia melebihi keterkaitannya dengan Allah, maka hatinya keras, hilang belas kasih serta ambisinya melebihi hewan yang paling liar. Sehingga lebih sesat dan buruk daripada binatang (Q.S. Al-A’raf[7]:179 ; Al-Anfal[8] :22,55).

Sejatinya; mengasihi, memaafkan dan kelapangan hati merupakan karunia Allah (Q.S.Ali Imran[3[:159, Al-Anfal[8]:63). Hal ini karena Allah adalah sumber terang dunia yang mengaruniakan kelapangan hati kepada kita. Sehingga dengan hati yang lapang dan sukacita dapat melupakan kebencian dan hal-buruk yang menimpa.

Oleh sebab itu, kita harus berdoa memohon karunia tersebut karena Tuhanlah Sang Pemberi kelapangan hati (QS. Al-Syarh[94]:1-4). Tuhan-lah yang memberi petunjuk agar dapat melihat manusia dengan belas kasih (Q.S. Al-A’arf[7] :178 ; Al-Kahfi[18] :17), Bila tidak;, manusia akan penuh dendam, dengki dan kejam. Hal ini akan berlaku di manapun dan siapapun. Jangankan di jalan umum, di tempat ibadah pun kekejaman terjadi seraya mengatasnamakan Tuhan. Jangankan dengan orang yang tidak seiman, dengan sesama iman pun perseteruan tetap berlangsung.

Sesungguhnya belas kasih, meminta dan memberi maaf tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah. Semua ini berat. Ada rintangan hati,“Untuk apa meminta maaf,” dan “Sia-sia memberi maaf, tokh dia pasti terus mengulang.” Meminta dan memberi maaf itu berat. Meskipun salah, ada keengganan meminta maaf. Karena gengsi atau merasa tak bersalah. Yang demikian ini, tidak akan mencapai titik temu. Dan bukan tidak mungkin akan mempersulit keadaan di Akhirat.

Kita tidak mampu mengasihi, meminta dan memberi maaf; jika Allah tidak lebih dulu menyatakan belas kasihNya dan menggerakkan hati hambaNya. Allah memberi contoh atas pengampunan, serta perintah memafkan dan berlapang dada (Q.S.Ali Imran[3]:133-35). Peliharalah hubungan silaturrahim (Q.S. An-Nisa[4]:1),. maafkanlah dan mohonkanlah ampun bagi mereka (Q.S. Ali Imran[3]:159, Al-Maidah[5]:13, Al- Baqarah[2]:109, maafkanlah mereka dengan cara yang baik (Q.S. Al-Hijr[15[:85).

Firman Tuhan itu menunjukkan agar rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Allah memberi ajakan, ajaran, perintah dan hukumNya agar kita segera memohon ampunanNya, hidup rukun dengan lapang dada, memaafkan dan belas kasih. Namun hal ini sulit dilaksanakan jika kita tidak memohon kepada-Nya. Kerukunan tidak tercipta karena kekuatan manusia, tetapi hanya oleh karunia Tuhan.

Dalam surat Al-Anfal[8], ayat ke-63 dinyatakan bahwa seberapa pun besarnya ongkos dan segala upaya untuk menciptakan lapang hati, kelembutan dan persatuan hati, niscaya tidak akan tercapai tanpa campur tangan Allah. Tidak akan pernah dapat diperjuangkan hanya dengan kekuatan kita sendiri. Akan tetapi, perlu kehadiran Allah karena Dia-lah sumber nurani kita.

Tuhan-lah yang melunakkan dan mempersatukan hati (Q.S.Ali Imran[3]: 103; Al-Anfal[8]:63; At-Taubat[9]: 60. Kita perlu doa-doa. Kita sadar akan kekuatan rohani melalui doa untuk menggelorakan semangat hidup rukun, saling mengasihi, memafkan dan lapang dada.. Oleh sebab itu kita harus bersyukur dan tidak menyia-nyiakan karunia rukun-damai, belas kasih dan kelapangan hati yang sudah ada. Sekali cedera dan terluka, kadang sulit menyembuhkannya.

Sesungguhnya silaturahmi dapat terputus. Kekhilafan, perseteruan hingga permusuhan bisa menimpa semua orang disebabkan ghibah, mencela, adu domba, khianat, janji-palsu, menyombongi, menghina, kata-kata tajam, merampas hak, dan sebagainya. Namun bila Allah mendekatkan (melunakkan) di antara hati orang-orang yang sebelumnya bermusuhan, maka tidak  ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkannya.

Saat membicarakan hal teresbut, Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu membacakan surat Al-Anfal[8]:63, yang artinya,”Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan mereka.”

Saat Imam Mujahid bertemu dengan ‘Abdah ibnu Abu Lubabah, dia berjabat tangan seraya berkata, “Apabila dua orang yang saling mencintai karena Allah berjumpa, kemudian salah seorang di antaranya memegang tangan sahabatnya dan tersenyum kepadanya, maka berguguranlah dosanya sebagaimana daun-daun kering berguguran.” Namun sekarang sedang pandemik, kita harus taat protokol kesehatan. Meski tidak bertatap muka, hati tetap menerima. Meski tidak berjabat tangan, kekhilafan tetap berguguran. Bahkan meski diam, persekutuan hati tetap tertanam.

Seperti halnya kesalahan bisa menimpa semua orang, maka memaafkan juga berlaku untuk semua orang. “Sungguh, alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (Mazmur 133:1). Kekhilafan sesama manusia seyogyanya segera diselesaikan. Paling tidak dengan saling meminta maaf, berterus terang atas kesalahan dan tidak mengulanginya; agar luruh bagai dedaunan kering. Tidak harus menunggu Idul Fitri.

Adapun bila mereka tetap dalam kesombongan dan pembangkangan, maka berpalinglah. Biarlah Allah yang mengadili dan menetapkan hukuman (Q.S. Az-Zumar[39]:37; At-Tin[95]:8; Az-Zukhrf[43]:89). Jadi, dalam kondisi di mana kelapangan hati dan pemberian maaf kita sia-sia, maka lebih baik kita memohon ampunan Allah (Q.S. Ali Imran[3]:133-135).

Semoga Allah senantiasai menganugerahi kita kelapangan hati dan belas kasih terutama dalam menghadapi keadaan yang sulit saat ini. Terimalah satu sama lain sebagai sesama hambaNya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *