Tadarus Bersama Rasulullah saw.

by -324 views

Oleh Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Ramadhan adalah Syahr Alqur’an (Bulan Alquran), sebab Tuhan menurunkan Alquran dalam bulan Ramadhan (Q.S. Al-Baqarah[2]:185). Namun demikian, Rasulullah saw menerimanya secara bertahap selama kerasulannya kurang lebih 23 tahun.

Selama ini pula, Rasulullah saw. mengajarkan kepada para sahabatnya. Selam kurun itu pula, boleh jadi diantara para sahabat ada yang wafat sebelum masa kerasulan Muhammad saw. usai. Sehingga mereka tidak sempat mengkhatamkan tadarus Alquran bersama Rasulullah saw.. Juga karena keadaan tertentu, ada sahabat yang tidak selalu berkesempatan mendengarkan bacaan Alquran di Majelis Rasulullah saw. .

Any way, alangkah mulia majelis Rasulullah saw. Mereka yang hadir bertemu dalam damai dan sejahtera diliputi rahmat Allah. Tidak ada cercaan, saling merendahkan dan menganggap diri paling benar serta menuding sana-sini. Mereka rendah hati di hadapan Sang Mulia, Rasulullah saw..

Di hadapan para sahabat, Rasulullah saw. membaca firman Tuhan dengan.pengucapan yang sangat jelas dan terang, kata per kata, kalimat per kalimat. Sehingga tidak ada satu kata atau kalimat pun yang terlewat atau terdengar samar-samar. Beliau membaca dengan panjang pendek setiap hurufnya,. Cara ini kemudian melahirkan ilmu tajwid. Rasulullah saw. pun tak memaksa membaca sambung bersambung; namun berhenti sejenak pada setiap ayat.

Terkadang beliau membaca Al-Qur’an dengan suara lantang (jahr), kadang dengan suara lirih. Pada saat penaklukan kota Makkah misalnya, beliau membaca Surat Al-Fath dengan suara yang lantang dan menggema. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar bacaan beliau. Dan Rasulullah saw. membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Maka, seyogyanyang Alquran dibaca dengan ritme dan irama yang indah. Namun bagi yang tidak bersuara merdu, tidak apa-apa. Kalau harus persis Rasulullah saw., tentu tidak semua umatnya bisa.

Para sahabat mendengarkan dengan seksama seorang manusia mulia yang diberi otoritas untuk membacakan, mengajarkan dan menafsirkan firman Tuhan agar pikiran dan hati umatnya menjadi terbuka dan bersih. (Q.S.Al-Baqarah[2]:129; Ali Imran[3]:164; Al-Jumuah[62]:2). Kebersihan hati mereka, mewujud dalam akhlak mulia sehari-hari. Teramat mulianya sehingga musuh dan orang-orang yang tidak seiman pun merasa damai-sejahtera. Mungkin inilah rahmat yang dianugerahkan Allah pada majelis tadarus.

“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya (HR. Bukhari).

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Rasulullah telah menyampaikan wahyu kepada para sahabat dan bersambung dari mereka kepada umat sesudahnya. Mereka mengaji (tadarus) isi Alquran langsung di hadapan Rasulullah saw., Rasulullah saw. menfasirkan dan memerinci kandungannya secara jelas. Itulah sebabnya beliau berperan sebagai bayan tafsir dan bayan tafsil. Tanpa beliau, kita tidak akan mengetahui apa-apa tentang Alquran.

Dan tanpa ulama Alquran, kita tak akan memiliki jalur transmisi (sanad) baik bacaan maupun tafsirannya. Alih-alih memahami Alquran secara tepat, benar dan operasional dalam kehidupan sehari-hari ; justru Alquran dipakai untuk menyombongkan diri sebagai pribadi dan kelompok yang paling benar. Alih-alaih Alquran dijadikan imam kehidupan, hanya diambil seayat-seayat tanpa pernah melakukan interkoneksi ayat dan komparasi tradisi atau pemikiran ; sehingga hanya ayat itu-itu saja yang dipakai untuk membenarkan pemikiran dan perilaku agama diri dan kelompoknya.
Memang, Rasulullah adalah seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun demikian, Rasulullah adalah orang yang paling paham dan paling mengetahui cara ‘membaca’ Al-Qur’an serta paling paham isi dan makna yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an.

Oleh sebab itu, bila dilihat dari kebutuhan kita akan komunikasi dengan Allah, maka membaca Aqluran merupakan ibadah. Dan bila dilihat dari kebutuhan kita akan petunjuk kehidupan, maka Alquran merupakan sumber nilai-nilai Ilahiah. Namun memang dalam perkembangannya, selalu ada tafsir. Pandangan dan perspektif terhadap makna-makna ayat akan selalu berkembang. Tidak mengapa, selama berpijak pada ilmu dan berada di jalur transmisi yang sambung-menyambung hingga ke Rasulullah saw.

Oya, makna membaca Alquran, sebenarnya tidak sekadar melafalkan huruf-hurufnya (tilawah), akan tetapi tafqquh (memahami), maka untuk memahami memang perlu tadarus (mengaji isinya). Bila belum sampai pada tahap ini, Yang pokok adalah Alquran hendaknya dibaca. Jangan biarkan Alquran berselimut debu. Siapa tahu saat kita bangkrut di akhirat, ternyata ada tersisa amal baik berupa bacaan Alquran, dan dia memberi syafaat. Allah bilang akan memberi karunia yang besar kepada orang-orang yang membaca Kitabullah (Q.S. Fathir[35]:29-30).

Seandainya kita bisa tadarus bersama Rasulullah saw. Di hadapan kita manusia agung, tiada pernah mencela dan berlaku kasar. Beliau orang yang paling lembut melebihi hembusan angin. Beliau menghormati orang yang beda agama, mengasihi sesama, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya. Jiwa dan hidupnya Alquran, akhlaknya agung (Q.S.Al-Qalam[68]:4), bahkan beliau menyandang sifat Allah—raufun rahimun (Q.S. At-Taubat[9]:.128). Beliau menyampaikan seluruh firman-Nya. Tak satu huruf pun disembunikan.

“Sesungguhnya hati itu bisa karatan sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan karatan tersebut?.’ Belaiu menjawab, ‘Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an.” (HR Baihaqi).

Seandainya berkesempatan tadarus bersama Rasulullah saw., kita bisa menanyakan segala hal kepada beliau. Namun berabad jarak kita dengan beliau. Tak ada kendaraan yang bisa mengantarkan kepadanya, selain rindu dan cinta sepanjang masa. Dalam diam seraya melafalkan firman Tuhan, tidak mengapa membayangkan kehadiran Rasulullah saw. sebagai guru agung nan penuh hikmah.

Siapa tahu, hal tersebut akan menjadi pengobat hati. Beliau pernah bilang,” “Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Baginda Rasulullah saw., ‘Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?’ Rasul menjawab, ‘Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an’.” (HR Baihaqi).

Betapa indah, duduk mengelilingi Rasulullah saw., seraya memandang dan mendengarkan bacaan dan penjelasan firman Tuhan; nyata tulus tanpa tendensi duniawi dan kepentingan pribadi. Apa yang dikatakan beliau benar.[Q.S.An-Najm[53]:3-4]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *