Puasanya Mbah Kijo

by -390 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – “Dahar Mbah,” ajak seorang pemuda meledek Mbah Kijo.
“Monggo….,” kata Mbah Kijo.
“Mboten poso mboten nopo-nopo Mbah,” lanjut si pemuda.
Mbah Kijo tersenyum. Namun tampak nyata raut wajah nan lelah.

Maklum. Sejak pagi dia bekerja langsir (memindahkan) pasir dari sisi jalan raya menuju halaman sebuah bangunan. Sesekali dia duduk istirahat di sisi angkong dan bersandar pada dinding. Nafasnya tersengal. Setelah nafasnya reda, dia melanjutkan pekerjaannya.

Pemuda itu mengulang,”Dahar Mbah,…”
“Monggo…” jawabannya sama,”Poso ‘kan mung sedino,”imbuhnya. Dalam benak si pemuda, Mbah Kijo layak tidak berpuasa. Usianya 73 tahun, pekerjaannya berat. Tetapi, dia berpuasa. Bahkan sering melakukan puasa hari-hari putih (yaum al-bidh) tanggal 13,14 dna 15 setiap bulan.

Seraya tersenyum Mbah Kijo berkata,”Mosok dikon poso karo sing gawe urip, aweh rejeki, aweh mata, sikil, tangan lan kesenengan ora gelem.” (Masa’ tidak mau diperintah puasa oleh (Tuhan) Yang Memberi hidup, mata, kaki, tangan dan kesenangan).

Pemuda itu tertegun sejenak. Benar kata orang bahwa ilmu harus diperoleh dari orang yang lebih pandai, tetapi hikmah bisa diperoleh dari siapapun dan dari manapun. Mbah Kijo bukan seorang guru, dosen atau ustadz, tetapi ada pelajaran padanya.

Bila kita obyektif pada apa yang dikatakan Mbah Kijo, akan ditemukan setidaknya dua hal. Pertama, dia bersikap biasa-biasa saja terhadap orang yang tidak berpuasa. Tidak reaktif secara berlebihan. Dia paham bahwa tanggungjawab atas baik buruknya hubungan dengan Allah ada pada diri masing-masing. Kedua, ibadah seharusnya merupakan syukur kepada Allah. Sepantasnya manusia membalas karunia-Nya. Repot dalam ibadah tidak seberapa besar dibanding karunia Allah sepanjang hayat dan akhirat .

“Iya ya….puasa kan tidak sebulan. Puasa ‘kan tidak lebih dari 14 jam,” kata si pemuda.
Mbah Kijo mengangguk, “Lha yo, Maghrib yo wis mangan,”.

Benar. Setelah Maghrib, dihalalkan makan, minum dan berhubungan suami-isteri (Q.S.Al-Baqarah[2]:184). Tidak lagi puasa. Bahkan terkadang seperti balas dendam : makan dan minum melebihi porsi.

Bila menggunakan kalkulasi, maka ibadah yang dilakukan hamba Allah tidak seberapa. Shalat lima waktu, tidak lebih dari 20 menit. Puasa, 13-14 jam. Zakat dikeluarkan setelah cukup nishab dan haul (tidak setiap hari). Dari penghasilan misalnya, cukup 2,5 % zakatnya. Itu pun dengan harapan masuk surga seluas langit dan bumi (Q.S. Ali Imran [2] :133-14) dengan segala macam kenikmatannya.

Bahkan, belum tentu masuk surga pun, sudah merancang makan ini, makan itu ; minum pake gelas emas, duduk di atas kursi bertatahkan berlian, santai-tiduran di atas dipan permata dikelilingi gadis-gadis berusia belasan tahun. Seharusnya, tidak usah terlalu memikirkan apa isinya, tapi bagaimana cara bisa ada di surga.

Memang, semua aktivitas manusia bisa bernilai ibadah selama niat, tujuan, cara, dan hasilnya selaras dengan ketentuan Allah dan rasul-Nya. Namun demikian, aktivitas manusia lebih banyak ditujukan untuk kepentingan hidupnya di dunia. Mencari nafkah mungkin bernilai ibadah, namun lebih dominan unsur keharusan mencukupi kebutuhan hidup; pangan, sandang, papan (yang dimakan, dipakai dan ditempati).

Bila tidak karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang mustahil manusia mendapatkan anugerah tak terkira. Bahkan orang yang paling miskin di dunia pun, tidak layak mengklaim,”kami tidak memperoleh apapun.” Allah bilang manusia tak akan mampu menghitung nikmatNya (Q.S.Ibrahim[14]:34). Allah menyediakan tempat hidup kekal (akhirat). Dunia teramat sedikit, sedangkan harapan dan tujuan manusia teramat banyak.

Mbah Kijo tentu tidak berpikir rumit dalam beribadah. Dia hanya yakin dan merasa perlu berterima kasih atas segala hal diterima dari Allah. Hembusan nafas, rasa nyaman dan aman ketika bangun tidur serta ada bahan makanan untuk dimakan hari itu saja, cukup membuatnya mengenal Keagungan Tuhan sehingga dia berterima kasih. Setelah dia “menerima” dari Allah, maka dia “mengasih” (menghamba) kepada Allah Tuhan Semesta Alam (Q.S.Al-An’am[6]:162).

Orang-orang shalih zaman dahulu sangat malu bila tak bersyukur, maka mereka beribadah. Mereka ahli ibadah baik dari segi kuantitas ataupun kualitanya, yakni keikhlasan, perhatian atau komsentrasi hatinya, dan penyaksian terhadap Allah swt.

Sumber Bihar al-Anwar merekam jejak kehambaan Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata, “Sekelompok manusia beribadah dengan harapan mendapatkan pahala dan ganjaran. Inilah ibadah para pedagang. Sekelompok lainnnya beribadah karena takut kepada siksa. Inilah ibadah para budak. Sekelompok orang beribadah untuk bersyukur kepada Allah. Inilah ibadah orang-orang yang merdeka.”

Imam Ali  juga berkata : “Ya Allah! Aku tidak menyembah-Mu karena takut terhadap siksa dan rakus terhadap pahala, melainkan karena melihat Engkau pantas disembah.”

Sesungguhnya kita tidak tahu apakah Allah berpaling atau menyayangi kita. Kita hanya Ge-eR; merasa Allah menyayangi, mengasihi dan memasukkan kita ke surga. Andai saja kita tahu, dalam kondisi lalai dan sedikitnya syukur, bagaimana keadaan kita kelak di Hari Kiamat ?. “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim[14]:7).

Mungkin terasa naïf mengingat perkataan,”Mosok dikon poso karo sing gawe urip, aweh rejeki, aweh mata, sikil, tangan lan kesenengan ora gelem.” Tapi begitulah; dia tidak saja mengucap syukur, tetapi melaksanakannya. Bila seorang pekerja bangunan ‘melihat’ Tuhan; kemudian melaksanakan syukur; maka bagaimanakah seharusnya dengan hamba yang melebihinya dalam ilmu dan anugerah ?.

Mbah Kijo tak perlu rumit menggunakan logika dan paradigma ibadah. Dia telah melakukan apa yang seharsunya dilakukan sebagai hambaNya. Boleh jadi, dia kelak di akhirat akan berada di barisan depan di hadapan Allah. Dia datang kepadaNya dengan hati yang selamat (Q.S. Asy-Syu’ara[26]:86-88).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *