Puasa Yang Tak Biasa

by -374 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Di dalam Alkitab termaktub tiga puasa yang tidak biasa; bersifat supranatural dan mustahil bisa dilakukan tanpa campur tangan Allah secara langsung. Puasa yang dimaksud adalah puasa selama 40 hari 40 malam yang dilakukan oleh tiga orang tokoh besar Alkitab, yakni Musa (Keluaran 34:28), Elia (1 Raja-raja 19:8), dan Isa Al-Masih (Matius 4:1-2), Ketiga tokoh (Nabi) tersebut juga ada dalam Alquran.

Musa ‘alaihissalam (Q.S. Al-Baqarah [2]: 49-61 ; Al-A’raf [7)] 103-160 ; Yunus [10]: 75-93 ; Al-Isra’ [17]: 101-104 ; Thaha [20]: 9-97)’ Elia/Ilyas ‘alaihissalam (Q.S.Al-An’am[6] :8; Ash-Shaffat[37] :123-132 ; ‘Isa ‘alaihissalam (Q.S.Al-Baqarah[2] :87 ;253; An-Nisa’[4] :152,171;Al-Maidah[5] :110-116 ; Maryam[19] :34).

Saudara-saudara kita umat Nasrani percaya ; mereka dimampukan hidup tanpa makan dan minum selama jangka waktu yang panjang tersebut. Tidak makan dan minum apa-apa selama 40 hari 40 malam tentu tidak akan bisa membuat seseorang bertahan hidup. Jadi ketiga puasa di atas adalah kasus khusus di dalam Alkitab yang tidak bisa diterapkan secara umum pada masa kini.

Kemampuan mereka berpuasa jauh melebihi manusia pada umumnya. Namun demikian intinya sama, yaitu menahan diri (imsak) dari kecenderungan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi orang yang bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah[2] :183).

Kata ‘puasa’, ditengarai merupakan bahasa serapan bahasa Sansekerta ‘upawasa’ yang bermakna ritual untuk “masuk” ke dalam tendensi Ilahiah. Orang Jawa mengenal istilah ‘pasa’, dan kemudian diucapkan menjadi puasa. Pasa artinya mengekang dan menahan sesuatu. Makna puasa tersebut selaras dengan shaum di dalam ajaran Islam, yang berarti menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual. Jadi, puasa telah dikenal oleh masyarakat baik dalam konteks agama maupun tradisi sebagai latihan untuk mendewasakan iman dan menyehatkan badan.

Makan, minum dan berhubungan seksual merupakan simbol kecenderungan pada segala hal yang duniawi dan keadaan jiwa rendah. Sama dengan hewan ternak yang hidupnya hanya untuk makan, minum dan berketurunan. Mereka mengandalkan insting; tanpa akal, jiwa dan keyakinan kepada Allah.

Kalau sekadar urusan makan, minum dan seksual; hewan saja bisa berpuasa. Maka, puasa bukan sekadar kendali keinginan nafsu dan syahwat jasmani, tetapi aktivitas jiwa untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan dan pemahaman kemanusian. Oleh sebab itu, bila puasa hanya tidak makan dan tidak minum di siang hari, puasanya tidak sempurna. Puasanya biasa-biasa saja.

Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa Allah tidak menerima lapar dan haus seseorang (puasa), apabila berkata dan melakukan dusta, merampas hak orang lain dan sejenisnya. Yang dikehendaki oleh para utusan Allah saat mengajarkan puasa adalah agar jiwa menjadi matang dan dewasa dalam iman. Kematangan dan kedewasan spiritual-iman merupakan energi untuk menaati Allah dan mengelola kehendak-kehendak duniawi sebagai sarana untuk akhirat.

Hal tersebut bisa dimengerti karena seseorang yang mampu menahan diri dari lapar dan haus, belum tentu mampu menahan diri dari kasar, bakhil, egois, rakus, dzalim, dusta, sombong, dan sifat buruk lainnya. Artinya, jiwa belum matang atau iman belum dewasa, maka puasa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh yakin sebagai kewajiban Ilahiah disertai mengharap rahmat Allah. Ramadhan (membakar) semua jenis nafsu rendah (Id) tersebut, berpores menuju Super-Ego (Ilahiah).

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yesaya 58:6-7)

Puasa menghidupkan jiwa kemanusiaan. ‘Kuk’ adalah kayu lengkung yang dipasang pada pedati atau kerbau yang dipakai untuk membajak sawah. Maknanya; kedzaliman, penderitaan dan perbudakan harus diatasi disertai meluaskan karunia Allah kepada sesama, memberikan perlindungan kepada kaum lemah, dan tidak mementingkan diri sendiri.

Tidak masuk akal, orang yang berpuasa; tapi rakus, menghalalkan segala cara, menindas, egois, kasar, suka memicu permusuhan, tak punya empati dan peduli serta membahayakan hidup umat manusia. Puasa yang sebenarnya adalah latihan meningkatkan level rohani, yaitu menaklukkan diri di hadapan Tuhan dan merendahkan hati di hadapan sesama.

“Rendahkan dirimu dengan berpuasa,” kata Tuhan kepada Musa ‘alahissalam (Bilangan 29:7).
Puasa yang tak biasa adalah puasa yang menjadikan pribadi mampu merendahkan diri di hadapan Allah ‘azza wa Jalla serta memberi manfaat duniawi yaitu tersebarnya kebajikan-kebajikan dalam kehidupan sesama hambaNya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *