Saat ‘Isa Al-Masih Berpuasa

by -270 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman harus berpuasa sebagaimana umat terdahulu. Tujuannya, agar mampu mewujudkan imannya; menaati perintah Allah dan menjauhi laranganNya (Q.S. Al-Baqarah[2]:182).

Misalnya ‘Isa Al-Masih. Dia berpuasa selama empat puluh hari dan malam di Gurun Yudea. Sebelum pelayanannya kepada umat di Gelilea, Allah mengujinya terlebih dahulu. Sumber Injil Matius, 4:2-11 menyebutkan ada tiga cobaan Iblis terhadap ‘Isa Al-Masih.

Pertama,  Iblis berkata,“Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti,”
Dia menjawab, “Ada tertulis,”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.“

Iblis pun melakukan hal yang sama kepada kita agar kita gila dunia/fokus pada hal-hal yang material sehingga menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dalam hal demikian banyak manusia tidak tahan ‘lapar’ sebab dunia sangat menggiurkan. Takut tidak mulia jika tidak “wah”; takut masa depan anak-anaknya; dan sebagainya, sehingga semakin tidak tahan“lapar”.

Untuk menghadapinya, ‘Isa Al-Masih tahu bahwa yang diperlukannya adalah Firman Tuhan. Manusia juga membutuhkan hidup ruhani. Bila tak ada makanan ruhani, maka manusia mati dalam hidup. Oleh sebab itu firman Tuhan akan menghidupkan jiwa yang mati (Q.S. Al-Anfal[8]:24). Maka dengan cara yang sama, niscaya kita dapat mengalahkan Iblis. Sesuatu yang berasal dari Allah selalu 100% nyata. Sehingga sekalipun di tengah penderitaan, musibah dan cobaan akan selalu ada berkah dan damai sejahtera dari Allah.

Setelah gagal dalam pencobaan pertama, Iblis melanjutkan pencobaan yang kedua
Pada saat ‘Isa Al-Masih berada di Kota Suci (Yerussalem) di bubungan Bait Allah (menara Baitullah yang mengarah ke Lembah Kidron);

Iblis berkata kepadanya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis; Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Dari ucapan di atas, tampak bahwa Iblis juga dapat menggunakan ayat Alkitab. Namun, ia menyalahgunakannya. Secara licik dan sengaja ia memutarbalikkan Firman Tuhan dan menafsirkannya secara keliru.

Memang yang dikutip Iblis adalah ayat Alkitab dari Mazmur 91:11-12. Namun secara licik ia menafsirkannya seakan-akan ayat tersebut berlaku bagi ‘‘Isa Al-Masih (Yesus) bila ia menjatuhkan dirinya dari bubungan (menara) Bait Allah. Dan dengan demikian ia mencobai Allah untuk melihat apakah Allah akan menyelamatkannya. Tentu saja, mencobai Allah tidak termasuk dalam cakupan janji di dalam Mazmur 91:11-12 itu!

“Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
Reaksinya langsung dan tepat mengenai sasaran dalam melawan pencobaan itu. Tidak ada sedikit pun keraguan. Dia tahu dengan pasti Firman Tuhan, menafsirkannya secara benar dan menang atas pencobaan Iblis yang kedua. Pada pencobaan ini mirip sebagaimana termaktub dalam kitab Al-Zuhd, karya Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Iblis pernah menantang Isa Al-Masih melompat dari gunung untuk mengetahui apakah dia mati atau tidak.

Provokasi itu juga menunjukkan ketidakpahaman Iblis bahwa yang berhak menguji hambaNya adalah Allah. Sedangkan seorang hamba tdak berhak menguji-Nya. Artinya, jika dia menuruti tantangan Iblis, berarti dia menguji (taqdir) Tuhan. Padahal hanya Tuhan yang memiliki qadha dan qadar.

Lagipula, tidak masuk akal bila seseorang menjatuhkan diri dari ketinggian pasti akan selamat.
Memang Allah kuasa menyelamatkan, tetapi hal ini bertentangan dengan hukum Allah bahwa siapapun yang mencelakakan diri akan celaka. Sebaliknya Allah menyelamatkan siapapun yang menempuh jalan selamat/hidayah-Nya (Q.S.Al-A’raf[7]:178: Al-Kahfi[18]:17).

Bisa juga yang dimaksud “jatuhkanlah dirimu dari menara Baitullah” menunjuk pada lompatan spektakuler. Bahwa kadang-kadang ketika seseorang sedang berada di puncak karier, prestise, kedudukan, harta dan nama; akan dicoba dengan suatu kesombongan perasaan hebat, menang dan tak mungkin celaka dan gagal. Apalagi dikelilingi para pihak yang seakan mampu membantu dan menolongnya. Perasaan demikian, mengakibatkan lupa hakikat pertolongan, bantuan dan karunia dari Allah (Q.S. Al-Anfal[8]:10).

Oleh sebab itu ‘Isa Al-Masih mengajarkan kepada murid-muridnya mengamalkan ibadah terbaik. “Wahai Ruhullah, apa ibadah terbaik itu ?. Beliau menjawab “ tawadu’ (rendeah hati) kepada Allah Yang Maha Agung dan Tinggi.”

Ketiga, saat dia berada di atas gunung, Iblis memperlihatkan kepada-nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. Iblis berkata, “Semua itu akan kuberikan kepada-mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Di sini, Iblis memainkan kartu terakhirnya. Iblis beranggapan mampu memberi segalanya kepada ‘Isa Al-Masih bila mau ‘sujud’ menyembahnya. Namun, pencobaan ini pun gagal total. Dia berjihad mengusir iblis, sebab dia tahu setan adalah musuh manusia (Q.S. Az-Zukhrf[63]:42). Iming-iming kerajaan dunia dan kemegahannya tidak menarik perhatiannya, sebab beliau tunduk kepada Allah.

“Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis; engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius,4:10)

Banyak orang berkata “Enyahlah, Iblis” ketika mereka merasakan tekanan, kehadiran dan pencobaannya. Namun ‘Isa Al-Masih tidak berhenti di situ. Dia juga menambahkan; “ada tertulis….,” dan menyebutkan secara akurat apa yang Firman Tuhan katakan tentang subyek utama pencobaan itu.

Ujian yang dialami beliau (dan semua manusia) pada pdasarnya berkaitan dengan hedonisme (lapar/kepuasan), egoisme (loncatan spektakuler/kekuatan) dan materialisme (kerajaan/kekayaan). Hal ini bisa dimengerti karena pencobaan-pencobaan di dunia berupa “keinginan mata” (materialisme), “keinginan daging” (hedonisme) dan “kengkuhan hidup” (egoisme) [Q.S.Ali Imran[3]:14’ Al-Isra’[17]:83; Shad[38]:74-76).

Pencobaan-pencobaan itu ditujukan untuk menyesatkan dan menyelewengkan tiga ciri utama manusia; yaitu berpikir, berkeinginan, dan berperasaan yang berada di dalam pikiran, jiwa dan hati. Semua ini terkait dengan transendental atau ideal paling utama dalam tiga area minat manusia; ilmu (kebenaran), seni (keindahan) dan agama (kebaikan).

Sebab mereka tak pernah letih menjerumuskan manusia (Q.S,.Al-A’raf[7]:16-17), maka kekuatan iman dan senantiasa berpijak pada firman Allah itulah, sehingga memperoleh pertolonganNya. Lalu Iblis meninggalkannya (Matius:11). .Seperti yang dikatakan Yakobus 4:7, cara satu-satunya untuk mengusir Iblis adalah dengan melawannya.

Siapapun yang mengaku beriman, tentu terpanggil untuk mencari kebajikan-kebajikan Ilahi; iman, pengharapan dan rahmat yang menghubungkan mereka secara langsung kepada Allah yang Sendiri-Nya adalah Kebenaran, Keindahan, dan Kebaikan.
‘Isa Al-Masih mengajarkan cara melawan Iblis dan pencobaan-pencobaannya. Yaitu, kita harus memahami Firman Tuhan secara akurat dan menerapkannya secara konsisten, beriman, teguh (sabar), ikhlash dan tawakkal (Q.S. Az-Zukhrf[43]:36; Al-An’am[6]:43; An-Nahl[16]:99,100; Shad[38]:82-83; Al-Hjir[15]:42.

Kalimat Isa Al-Masih yang menyebut,”Ada Tertulis……” menunjukkan bahwa berpegang teguh pada Kitab Suci, merupakan reaksi kuat terhadap setiap cobaan dalam kehidupan.

Kita berusaha memilah Firman Tuhan secara benar. Cara pandang kita sering lebih material, duniawi dan manipulative. Sedangkan cara pandang Allah, adalah haq. Bila tidak berdasarkan firman Allah, maka seluruh keinginan manusia akan menghancurkan harapan ukhrawi. Manusia akan terus lapar bila berpijak pada keinginannya.

Memang mencari dunia pasti dapat, tapi dapat pun belum tentu banyak. Kalaupun banyak belum tentu puas. Kalaupun puas belum tentu selamanya. Oleh sebab itu, manusia harus puasa agar keinginan-keinginan duniawinya terkendali.

Kerberhasilan ‘Isa Al-Masih tersebut menjadi dasar dalam pelayanannya kepada umat. Beliau kembali ke Galilea dan melayani umat. Maka, puasa tidak semata-mata menahan lapar untuk diri sendiri, akan tetapi seberapa besar aktualisasinya dalam kemanusiaan. Nabi bersabda,“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (H.R. Al-Hakim).
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *