Pujian Tuhan di Bulan Sya’ban

by -428 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Di antara keutamaan bulan Sya’ban adalah turunnya perintah bershalawat untuk Rasulullah saw. Allah dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi saw. Allah juga perintahkan orang-orang yang beriman agar bershalawat serta mengucapkan salam penghormatan kepada baginda Rasulullah saw. (Q.S. Al-Ahzab[33]:56).

Allah bershalawat (memuji) Rasulullah saw. di hadapan malaikat. Sedangkan malaikat bershalawat (mendoakan) Rasulullah saw. Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah meninggikan kedudukan nabiNya di hadapan penghuni alam malakut. Dan mereka pun membalas pujian Allah dengan mendoakannya.

Bershalawat kepada Nabi merupakan pengakuan bahwa kita tidak mampu membalas budi Nabi-Nya. Padahal beliau menunjukkan terang benderang iman dan keselamatan dunia-akhirat. Maka, Allah memerintahkan agar membalas jasa beliau dengan bershalawat. Tentu tak ada kebaikan yang lebih utama daripada kebaikan Nabi saw. kepada kita.

Karena kita tak kuasa membalas jasanya maka kita berdo’a (bershalawat) untuknya agar Allah ‘menggantikan’ kita dalam membalas jasanya. Bila kita bershalawat, niscaya Allah akan karuniakan tambahan rahmat-Nya dan pahala shalawat tersebut dilipatgandakan.

Berhubung bulan Sya’ban merupakan bulan perintah bershalawat, maka memeperbanyak shalawat di bulan Sya’ban, niscaya semakin diberkahi. ‘Hal ini juga karena Sya’ban adalah bulan milik Nabi Saw, bulan bershalawat kepadanya. Sabda beliau,”Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan Allah.”

Nabi sendiri telah mengajarkan beberapa kalimat seperti misalnya shalawat yang dibaca dalam tasyahud-shalat. Di luar ini, siapapun boleh saja mengungkapkan pujian dan doa yang disusun sendiri. Tentu saja, ungkapan yang disusun dalam bentuk pujian/shalawat tidak dimaksudkan dalam rangka berlebih-lebihan dalam beragama (ghuluw), atau menganggapnya sama dengan Isa’ bin Maryam yang dipersonifikasi sebagai Tuhan.

Bagaimanapun Nabi Muhammad saw, tidak berhak disembah. Tetapi beliau berhak memperoleh pujian setingi-tingginya. Bahkan sedemikian mulianya Rasulullah saw. sehingga Allah menyematkan sifatNya sendiri, yaitu raufun dan rahimun kepada Rasulullah saw., (Q.S. At-Taubat[9]:128).
Tidak terbilang jasa beliau kepada umatnya. Tidak hanya jasa spiritual (petunjuk keagamaan), tetapi juga material. Lantaran beliau, manusia mendapatkan hidayah dan pertolongan Allah.

Lantaran beliau, Makkah-Madinah dan sekitarnya menjadi makmur. Seluruh umat Islam khususnya tak akan mampu mebalas jasa beliau. Jadi, nabi adalah wasilah dalam urusan dunia dan akhirat.

Allah memuji beliau sebagai pribadi yang berakhlak tinggi (Q.S.Al-Qalam[68]:4), teladan dalam semua hal (Q.S. Al-Ahzab[33]:21), memperoleh wahyu (Q.S.Al-Kahfi[18]:110); diberi otoritas syafa’at (Q.S. Al-Anbiya’[21]:28); ‘Aisyah juga menyatakan bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah Alquran. Kalaupun Nabi enggan dipuji sedemikian rupa, hal ini tidak lain karena sifat rendah hati yang sangat tinggi. Bahkan beliau sama sekali tak mengharap ujrah dari umatnya (Q.S.Asy-Syu’ara’[26]:57,109,127,145,164,180).

Hal tersebut juga tidak lain adalah pelajaran (tarbiyah) kepada kita agar tidak gila nama dan pujian. Sebab kegilaan pada nama dan pujian akan memusnahkan amal ibadah. Lagipula seberapa pun besar pujian kepada beliau dan doa kita untuknya, pada hakikatnya tidak diperlukan. Tapi kita tetap harus mendoakan (bershalawat) sebab doa kepada Allah tanpa adanya shalawat bagaikan orang yang terburu-buru, sehingga sangat mungkin Allah tak menghiraukan doa tanpa shalaawt. Demikian pula, tidak sah ibadah sahalat (dan khutbah) tanpa shalawat.

Beliau pun tidak terpengaruh dengan pujian dan cacian. Untuk apa pujian dari manusia; sedangkan Allah memuji sedemikian tinggi. Pujian Allah tentu tidak ada bandingnya dengan pujian manusia. Maka, bukan beliau yang membutuhkan pujian, akan tetapi umat yang seharusnya memuji dan bershalawat.

Nabi telah mengajarkan shalawat dengan sangat praktis “Allahumma shalli ‘ala Muhamad,”. Namun umat juga boleh memuji dan mendoakan dengan caranya sendiri sebagai ungkapan balas budi sekaligus wasilah kita memperoleh rahmat dari Allah. Kita yakin setinggi apapun umatnya memuji, tidak akan cukup untuk membalasnya.

Setinggi apapun umat menyadari kedudukan beliau di sisiNya; tidak akan menganggapnya sebagai Tuhan atau menjadikannya sesembahan. Akan tetapi tidak lain hanya mengharap syafaat dan serpihan kemuliaan di sisiNya. Oleh sebab itu, keengganan nabi dipuji bukanlah alat untuk menyalahkan dan menyesatkan orang yang memujinya.

Bila orang-orang non-Muslim menghormati dan memuji Nabi Muhammad saw., maka umat Islam paling berhak menghormati dan memujinya. Sebagaimana Allah telah mengajarkan dan memerintahkan orang beriman untuk bershalawat. Nabi pun bilang bahwa siapapun yang bershalawat kepadanya, maka akan kembali dalam 10 kebaikan.
“Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali.” Bahkan berdasarkan riwayat dari Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni disebut bahwa Abu al-Mawahib Asy Syadzily pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad saw..

Saat belaiu menanyakan apakah sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang membaca shalawat disertai dengan hati hadir dan memahami artinya ?. Nabi menjawab “Tidak. Bahkan rahmat itu diberikan bagi siapa pun yang membaca shalawat. Meski tidak paham arti shalawat yang ia baca Allah memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan do’a kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut. Apalagi, jika ia membaca dengan hati hadir, niscaya pahalanya sangat besar.

Bila shalawat bermakna rahmat maka orang yang membaca shalawat pada hakekatnya sedang memohon rahmat Allah untuk dirinya sendiri jauh lebih banyak dari rahmat yang ia mohonkan untuk Rasulullah saw. Semakin banyak ia bershalawat, akan semakin berlimpah pula rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Alangkah baik keadaan orang yang membiasakan diri memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi sesungguhnya tidak hanya mewajibkan mereka memenuhi hak Rasulullah saw.; namun juga sebagai sarana untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan. Dengan demikian, kita maklum bila majelis-majelis shalawat tumbuh di dunia Islam baik di kalangan masyarakat tradisional maupun modern; baik di Negara berkembang maupun maju. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *