Hari-Hari Putih Nan Istimewa

by -416 views

Oleh : H Wajihudin Al-HAfeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Saat Nabi Adam ‘alaihissalam berada di bumi, beliau terjangkit penyakit kulit. Sekujur tubuhnya penuh bintik hitam. Hawa sangat sedih melihat kondisinya. Ia berusaha mengobati dengan berbagai jenis dedaunan, tapi tidak sembuh. Kesedihan menelikung hari-harinya. Tak seorang pun cs di sekitarnya. Adam ‘alaihissalam menduga penyakit yang dideritanya adalah hukuman dari Allah Swt. atas kekhilafan saat di surga.

Tampaknya itulah cobaan duniawi yang pertama. Namun Allah Maha Pengasih. Dia perintahkan Adam ‘alaihissalam berpuasa agar sembuh dari penyakitnya. Setelah puasa tiga hari berturut-turut; berangsur-sangsur penyakitnya hilang. Kulitnya kembali putih seperti semula. Senyum Hawa meretas terurai penuh bahagia melihatnya.
Menurut saya, apa yang terjadi pada Nabi Adam merupakan satu pelajaran awal tentang kehidupan duniawi. Mungkin benar penyakit tersebut sebagai hukuman. Akan tetapi, tidakkah Allah telah menerima taubatnya. Untuk apa menghukum ? Lagi pula mengapa hanya dia yang dihukum ?. Bukankah Hawa juga melakukan kekhilafan ?

Di balik itu, ada kegelisahan yang mendalam karena berpisah dengan segala kenikmatan surga dan serba mudah (Q.S. Al-Baqarah[2]:35). Tetapi kemudian harus bertempat tinggal di bumi bersama iblis (Q.S. Al-A’raf[7]:24; Al-Baqarah[2]:36; Q.S. Thaha[20]:123). Hidup di bumi, harus bersusah payah. Tidak sekadar mencari nafkah, tetapi juga perlawanan iblis dan melaksanakan tugas kekhalifahn Tuhan di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah[2]:30).. Untuk apa juga berada di dalam surga, jika hanya berdua.

Sebenarnya hal tersebut selaras dengan rencana Tuhan pada manusia dan alam semesta, yakni manusia diciptakan dalam keadaan susah payah (Q.S.Al-Balad[90]:4). Di bumi, manusia harus berpikir dan bekerja menemukan takdir-Nya. Mustahil manusia mengandalkan segala sesuatu yang diberikan begitu saja (taken for granted) dari Allah, tanpa jihad dan ijtihad meraih rahmat Allah. Manusia harus menggunakan potensinya untuk bertahan hidup dan menempuh jalan kembali ke rumah asal (surga).

Memang saat Adam di surga ada malaikat dan iblis, tetapi hal ini pun tidak selaras tujuan penciptaan. Berada di surga sebelum bersusah payah bertentangan dengan tujuan penciptaan (Q.S. Al-Baqarah[2]:214; Ali Imran[3]:142; Adz-Dzariyat[51]:56). Jadi, ya wajar saja Adam ‘alaihissalam diperintah pindah ke bumi untuk beribadah (Q.S. Al-Baqarah[2]:22). Dan kelak, kembali ke surga setelah menunaikan kewajiban Ilahiah (Q.S.Al-Ahzab[33]:72) .

Sekalipun Adam diliputi kesusahan, tetapi Allah mengajarkan tentang cara hidup di dunia. Dengan ilmu, dia mampu bertahan hidup dan mengatasi segala permasalahan duniawi. Bahkan semakin hari semakin berkembang ilmunya, sehingga mampu membuat segala hal yang berguna untuk menopang dan mengatasi masalah kehidupan.

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, Allah mengajarkan kepada Adam pembuatan segala sesuatu.” (HR. Ibnu ‘Asakir).

Dahulu belum ditemukan obat-obatan, maka Hawa menjadi tabib yang mengobati penyakit yang diderita Adam ‘alaihissalam. Pasti saat itu Hawa susah payah juga merawatnya. Sekarang, anak keturunannya mampu memformula berbagai jenis obat-obatan dan permasalahan medis lainnya, termasuk memformula vaksin covid-19 untuk imunitas. Jadi, selalu ada acara mengatasi permasalahan kehidupan.

Di antara susah payah duniawi lainnya yang dialami Adam ‘alaihissalam, adalah harus berpuasa tiga hari agar sembuh. Puasa tiga hari ini kemudian disebut dengan puasa hari-hari putih (ayyam al-bidh). Adam alaihissalam harus menahan diri dari keinginan duniawi agar penyakitnya hilang, terutama adalah penyakit kerakusan (greedy); makan ini-itu dan sebagainya.

Mengapa ? Rakus merupakan sumber keburukan. Rakus harta, nama, kedudukan dan sejenisnya menyebabkan manusia menghalalkan segala cara demi dunia. Akibat gila dunia, manusia fokus pada keinginan dunia yang akan ditinggalkan selamanya dan lupa pada tempat yang akan ditinggali selamanya (akhirat). Sehingga dunia menjadi tujuan, bukan sarana pulang ke rumah kakek moyang di surga.

Oya, disamping terkait dengan ”penyakit” Adam ‘alaihissalam, versi lain menyebutkan bahwa tubuhnya terbakar terik matahari sehingga menghitam. Setelah berpuasa tiga hari, tubuhnya kembali cemerlang-putih seperti sedia kala.
Puasa tersebut kemudian menjadi sunnah Nabi Muhammad saw. dan dilakukan pada tengah bulan (tanggal 13,14, 15) Beliau bersanbda,“Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kaulakukan. Oleh sebab itu, puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh,” (HR Bukhari-Muslim).

Di samping terkait bersih/putih-pulihnya kulit Nabi Adam setelah berpuasa; tanggal 13,14 dan 15 adalah saat rembulan bersinar penuh hingga purnama. Malam terang benderang disinari rembulan. Ia menyinari bumi sejak matahari terbenam sampai terbit kembali. Pada hari-hari pertengahn bulan itu; malam dan siang seluruhnya menjadi putih (terang).

Putih (bidh) menjadi warna yang sering disebut dalam kitabiyah atau terkait dengan keagamaan. Orang Kristen mengenal Kamis Putih sebelum Jumat Agung. Berbagai nuansa warna putih pun disebutkan, misalnya putih kemerah-merahan (Imamat 13:19, 24) dan putih pudar (Imamat 13:39).
Putih adalah simbol kemurnian fisik, intelektual dan spiritual serta menjadi warna cahaya, tanpa modifikasi. Dalam Daniel 12:10 disebutkan “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan (harfiah: dijadikan putih) dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik. Tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, sedangkan orang-orang bijaksana akan memahaminya. Orang Hindu mengaitikan putih dengan Dewa Iswara, yang menguasai dan melindungi arah Timur. Sedangkan orang Budha menjadikan Teratai Putih sebagai lambang sifat Bodhi, keadaan dimana kesadaran dan perasaan telah tercerahkan atau mencapai kesempurnaan.

Putih juga menjadi simbol keadilan, kebenaran dan kebersihan rohani: “…Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya. Mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu (Wahyu 3:4, 18; 7:9, 13, 14). Para malaikat pun biasanya digambarkan berpakaian putih (Markus 16:5; Yohanes 20:12; Wahyu 19:14).

Selain predikat warna benda, Allah Swt. menjadikan warna putih sebagai simbol kebaikan, melambangkan kesucian dan kebahagiaan serta cahaya terang Warna putih bukan hanya dijadikan ilustrasi warna beberapa benda secara denotatif, tetapi juga secara konotatif dijadikan simbol kebaikan sekaligus menempati posisi yang istimewa.

Misalnya kisah mata Nabi Ya’qub yang putih (Q.S. Yusuf[12]:84), keluarnya kabut berwarna putih tatkala langit pecah belah (Q.S. Al-Furqan[25]:25); garis-garis putih di antara gunung-gunung (Q.S. Fathir[35]:27); benang horizon putih waktu memulai dan berbuka puasa (Q.S.Al-Baqarah[2]:187); muka orang beriman putih berseri di surga (Q.S. Ali Imran[3]:106,107); air dari mata air surga yang putih bersih (Q.S. Ash-Shaffat[37]:46); bidadari-bidadari yang bermata indah di surga seperti telur putih (Q.S. Ash-Shaffat[37]:47); .

Allah Swt. juga menggambarkan mukjizat Nabi Musa berupa tangan putih bercahaya ketika berhadapan dengan Firaun (Q.S. Al-A’raf[7]: 108; Q.S. Thaha[20]: 22; Q.S. Asy-Syu’ara[26]: 33; Q.S. An-Naml[27]:12; Q.S. Al-Qashash[28]: 32).

Iya…, ada makna intrinsic dalam penyebutan ayyam al bidh (hari-hari putih). Ada keindahan dan benderang purnama yang melambangkan kesempurnaan warna terang, kebahagiaan serta upaya Nabi Adam terbebas dari penyakit. Ada kesucian, keajaiban dan kekudusan bagaikan menjadi manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kesucian yang sesungguhnya (fitrah).

Untuk ini, saya salut kepada Mbah Kijo (74 th), seorang pekerja bangunan dan berkulit relative hitam yang sering berpuasa di hari-hari putih. Tak ada motivasi lain, selain ingin ‘putih’ di hadapan Tuhan Yang Maha Kasih. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Illustrasi : by Net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *