Bulan Berpencar

by -320 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Kita berada di bulan Sya’ban. bulan ke delapan dalam kalender hijriyah. Nama Sya’ban berarti ‘pemisahan.’ Disebut Sya’ban karena orang-orang Arab Jahiliyyah, dahulu berpencar mencari sumber air. Maklum, karena tanah Arab kering dan tandus, maka tidak sembarang tempat ada air. Namun ada pula yang berpendapat bahwa mereka berpencar karena perang antar suku.

Orang-orang Arab sangat menghormati bulan Rajab sehingga mereka sepakat untuk tidak melakukan pertengkaran dan peperangan di bulan Rajab. Namun, memasuki bulan Sya’ban, mereka mulai berpencar mencari musuh mereka. Berpencar, baik dalam rangka mencari air atau musuh, dalam bahasa Arab disebut tasya’ba-yatasya’bu. Sangat mungkin, kata Sya’ban berasal dari kata tasya’ba-yatasya’bu.

Mereka juga mensifati bulan Syakban dengan sebutan al-‘azil. Kemudian mereka menyebutnya sebagai Sya’ban al-‘Azil. Secara bahasa  al-‘Azil adalah celaan, karena mereka mencela siapapun yang berdiam diri di rumah dalam bulan Sya’ban. Padahal pada saat itu sedang musim perang dan terjadi saling serang-menyerang antar suku.
Setelah Allah mengutus Nabi Muhammad saw; bulan Rajab tetap merupakan bulan mulia beserta tiga bulan lainnya, yaitu Dzu al-Qa’dah, Dzu al-Hijjah dan Muharram. Keempat bulan ini disebut al-Asyhur al-Hurum/bulan-bulan terhormat dan dimuliakan (Q.S.At-Taubat[9]:36), sehingga diharamkan menodai keempat bulan ini dengan perbuatan dzalim dan tercela semisal peperangan.

Meski tidak termasuk al-Asyhur al-Hurum, namun sejatinya Sya’ban merupakan bulan utama. Hal ini selaras dengan doa Rasulullah saw. “Ya Allah berilah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadan.” (THR. Ahmad).

Terdapat preferensi yang selaras antara “berpencar” mencari air, dan doa Nabi Muhammad saw. tersebut. Tampaknya Nabi mengajarkan agar meninggalkan kebiasaan “berpencar” mencari musuh dan mencela. Tradisi ini direformasi dengan doa dan amal Rasulullah saw. menjadi bulan yang diberkahi,  bersinambung dari Rajab ke Ramadhan. Maka, Sya’ban bisa dimaklumi sebagai bulan berpencar mencari berkah. Tidak lagi bulan penuh celaan, namun aktivitas kebajikan dan persiapan mental (latihan puasa Ramadhan).

Preferensi makna tersebut, menjadi fitur yang menonjol dalam pola reformasi tradisi maupun budaya. Artinya, Rasulullah saw., sahabat dan pengikut sesudahnya, tidak mengganti nama bulan yang melekat dalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala tersebut; melainkan merubah sifatnya Rasulullah saw. meingiternalisasi ruang sosial dengan amal yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah. Sebab mencela, mencari musuh dan ego-suku ( peperangan ) ; merupakan perbuatan buruk. Sebaliknya, beliau banyak berpuasa.

Dengan puasa tersebut, menunjukkan kekhususan bulan Sya’ban sekaligus keutamaan puasa di dalamnya dibanding puasa di bulan lain. Jadi, puasa Sya’ban itu seperti sunnah qabliyah Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawal bagaikan sunnah ba’diyah Ramadhan. Dari sini tampak hikmah memuliakan bulan Sya’ban sebagaimana dalam beberapa riwayat.

Salah seorang sahabat Rasulullah saw,. yang bernama Usamah bin Zaid berkata: “Wahai Rasulullah (saw.), aku tidak melihat engkau banyak berpuasa lebih dari Sya’ban. Beliau bersabda, “Itulah bulan yang dlalaikan manusia, yang terdapat di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan amalan-amalan diangkat kepada Allah, Tuhan semesta alam. Dan aku gembira amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa. (THR. Ahmad).

Seluruh hadist yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk lebih giat dan menambah amal ibadah di saat amal sedang dilaporkan kepada Allah swt.. Sebagaimana jawaban Nabi saw. saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban, Tentunya, nabi tidak hanya berpuasa menahan lapar dan haus, melainkan melakukan amal shalih lainnya.

Maksud puasa beliau adalah, Nabi ingin selalu dalam keadaan baik di hadapan Allah saat moment pengangkatan amal. Hal ini diikuti oleh para orang shalih zaman dahulu (salafus-salih), sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat pengangkatan amal sedang tidak baik. Ibarat seorang pekerja yang tekun, namun saat ada pengawasan dia sedang ngopi, ngeteh dan main handphone atau keluar dari tempat kerja tanpa alasan yang jelas. Tentu keadaan ini merugikannya.
Dari riwayat mengenai Sya’ban tersebut, kaum mukmin berupaya tampak baik di sisi Allah saat pelaporan amal. Maka, di antara mereka ada yang berpuasa awal bulan, tengah bulan, Senin-Kamis dan sebulan penuh serta amal shalih lainnya.. Bagi yang tidak mampu berpuasa, tentu ada kebaikan lain yang layak dilakukan misalnya mengunjungi kerabat, bersedekah, membaca Alquran, berdamai dan sebaganya.

Jadi substansinya, Sya’ban bukan sekadar momentum pelaporan, akan tetapi sebuah motivasi untuk mencari berkah dengan amal shalih. Dan hal ini terlepas dari favoritism. Artinya kita tidak memilih keutamaan bulan Sya’ban dibanding bulan lainnya. Akan tetapi pelajaran bahwa meskipun kita berada di bulan yang utama, namun kita tidak memperoleh keutamannya tanpa berpencar (aktiv dan dinamis ) mencari pahala atau berkah.

Bulan yang utama, menjadi peluang mencari berkah dan pahala. Misalnya puasa, munjung .(mengunjungi sanak keluarga dengan membawa makanan), bersih-bersih lingkungan, sedekah, tadarus Alquran, berziarah kubur, mengunjungi sanak saudara dan amal shalih lainnya, bahkan dikemas dalam tradisi atau event tertentu.

Makanan yang disedekahkan pada bulan Sya’ban, boleh makanan tradisional seperti nasi lemak, nasi kebuli, rendang, tumpeng, kakap merah bakar, opor panggang, blenyik, ketan, wajik dan sebagainya. Minumannya boleh susu onta, susu kurma, teh-susu, bajigur, kopi, sup buah dan sebagainya. Yang penting halal-dan thayyib (Q.S. Al-Baqarah[2]:160,172; Al-Maidah[5]:88).

Jadi ya boleh saja, bulan Sya’ban dimanfaatkan untuk berbagai varian amal shalih. Tokh, amal shalih tidak hanya satu jenis serta terbatas ruang dan waktu.[] []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *