Dari Mikraj ke Umat

by -862 views

Oleh : H Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Peringatan Isra’ Mi’raj memiliki nuansa tersendiri sesuai dengan daerahnya. Di Kashmir-India misalnya; berlangsung selama seminggu penuh, deperingati dengan bacaan-bacaan puisi penghormatan dan ceramah keagamaan. Di Turki, malam Mi’raj diperlakukan sama dengan malam kelahiran Nabi Muhammad saw. sebagai suatu kandil (candle) atau pelita malam yang terang benderang. Di malam itu, masjid-masjid dihiasi dengan aneka lampu.

Di belahan dunia Barat, para pemusik, ilmuwan, penyair dan filosuf seperti misalnya Goethe, Michael H. Hart, de Lamartine, Annemarie Schimmel, Gibbon dan Drapper juga membicarakan Nabi Muhammad. Unik, pesawat tempur Perancis yang canggih dan sangat mendunia, diberi nama Mirage. Tampaknya Mirage, adalah kata untuk Mi’raj.

Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad saw., adalah suatu periode rohani yang murni dan berlaku khusus bagi seorang manusia suci dan sempurna (insan kamil). Dalam suasana itu, beliau berada pada tingkat dan martabat yang paling tinggi dibanding segala makhlukNya. Sehingga, beliau dapat mengajangkau semua hakikat persoalan agama dan keduniaan serta menyaksikan bentuk-bentuk pahala dan hukuman.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut sangat vital sebagai titik permulaan yang mana aktivitas, dinamika dan pergerakan sosial-budaya segera diaktulisasikan oleh Nabi. Apalagi, tak lama setelah Isra’ Mi’raj, Nabi Muhamad hijrah; menetap dan membangun tata sosial di Madinah.

Rasulullah adalah kekasih Allah. Beliau menerima wahyu dengan tugas mengubah masyarakat. Maka. Nabi tidak asyik menikmati kesucian dan martabat kesempurnaan sendirian di dalam rumah, bahkan di puncak langit (Sidrat al-Muntaha). Nabi bergaul dengan sesama manusia dan mengurus hal-hal yang tampak duniawi. Oleh sebab itu, pengalaman seorang Rasulullah saw., tidak semata-mata ruhani, tetapi duniawi. Artinya, seorang Rasul adalah pribadi yang tidak asyik menikmati kesucian diri dan kedekatan dengan Allah. Tetapi seorang yang mengalami kehidupan duniawi dan mengkonstruksinya agar sesuai dengan nilai-nilai Ilahiah.

Rasulullah saw., juga merupakan gambaran unik dalam kaitan keakrabannya dengan Allah. Rasulullah berhadapan dengan Allah dan dunia. Kedua sisi kehidupannya ini bukan merupakan kehidupan yang berbeda. Artinya, Rasulullah tidak mengalami peniadaan diri, kebersatuan dan kemudian melebur dalam Allah (fana dan wahdatul wujud). Beliau tidak memiliki pengalaman kebersatuan (ittihad) dan tidak mengalami ekstase dengan Allah atau ketidakmampuan mengendalikan nalar (jadzab) dan mabuk Tuhan. Beliau sepenuhnya sadar bahwa kedekatannya dengan Allah, bukanlah akhir perjalanan jiwa dan menghalanginya dengan dunia.

Karena beliau tidak menyatu dengan Allah, maka beliau tidak terpisah dari-Nya. Beliau tidak terserap ke dalam Allah sehingga kehilangan pandangan diri dan dunia. Dan beliau tidak terserap dalam dunia sehingga melupakanNya. Namun cahaya Allah meliputinya, bahkan ketika beliau tampak sedemikian tenggelam dalam dunia; dalam kerja sosial, budaya dan sebagainya.

Perjalanan Nabi ke langit, merupakan pentahbisan sejati sang Nabi. Allah memberi kuasa dan wewenang untuk mengurus dunia. Dalam kaitan ini, kata istawa (Jibril menampakkan diri dengan rupa yang asli.) dalam surat An-Najm[53], ayat 6, bukan sebatas pada apa yang dilihat Nabi saat bersama Malaikat Jibril, tetapi kemuliaan yang terus menerus dengan kesadaran yang senantiasa bertambah; dari Makkah sampai beliau berdiri di tempat yang dua busur jaraknya (Q.S.An-Najm[53]:7-10 dari hadirat Allah. Dalam “sayap” Jibril dari Makkah hingga ke langit yang tertinggi, beliau memperoleh pengajaran Ilahi tentang kerakyatan, kemanusiaan, dunia dan harapan sejati manusia (akhirat).

Sedemikian dekat Nabi berhadap-hadapan (menghadap) Allah. Bahkan mungkin para nabi yang bertemu dengan beliau di setiap lapisan langit, sangat tercengang pada kedekatan Muhammad saw., dengan Allah swt. Akan tetapi hubungan dekat dengan Allah tersebut, tetap merupakan kedekatan yang bergaris antara Khaliq dan makhluk.

Saat turun dari langit hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung percaya. Boleh jadi Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak sekadar mengikuti keimanannya, tapi juga memahami tujuan Nabi Muhammad saw. kembali dari Mi’raj ke bumi untuk memandu kehidupan umat.

Resepsi Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut selaras dengan jalan relijiusitas yang ideal sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhamad saw.. Setelah mengalami berhadapan dengan Allah di tempat tertinggi (Sidrat Al-Muntaha); beliau menyampaikan apa yang diperoleh dari Allah dan berada di tengah masyarakat untuk mengubah kondisi mereka.

Hal tersebut juga menunjukkan secara nyata bahwa kesucian dan kedudukan mulia seseorang tidak menghalanginya untuk kembali ke alam manusiawi. Justru merupakan citra untuk menjadi hamba sejati di hadapanNya. Hal ini berbeda dengan kaum pertapa, sufis atau gnostik yang terkesan anti dunia.

Abdul Quddus berkata,”Muhammad (saw.) dari Arabia naik ke langit tertinggi dan kembali. Demi Allah aku bersumpah; kalau aku seperti dia, tentu aku tak akan kembali.” Ungkapan ini jelas merujuk pada sikap berbeda kaum sufi dan nabi terhadap pengalaman Ilahiah serta konsekuensinya dengan dunia dan umat manusia.

Perjalanan ke langit memperlihatkan bahwa Muhammad saw. dapat berbicara dengan Allah dalam suatu hubungan aku dan Kau (I-You). Hal ini menunjukkann bahwa Allah bukanlah prima-causa yang bisu dan terpencil ; namun satu personal yang dapat disapa. Dan dengan demikian membuktikan bahwa ada kemungkinan dialog personal antara pencipta dan makhluk. (Yakni) suatu dialog dalam doa, ketundukan dan pembacaan kalamNya. Dan dari dialog itu tumbuh aktivitas relijius sejati.
Sesungguhnya, kedudukan tertinggi manusia terletak pada kehambaannya kepada Allah. Hal ini bisa dilihat pada kata ‘abduhu’ dalam surat Al-Isra’[17], ayat 1. Bahwa Allah telah memperjalankan hambaNya (‘abduhu) pada malam hari. Allah berfirman ‘abduhu’ untuk menunjukkan Nabi selama pengalaman relijiusnya yang sangat agung (Isra’ Mi’raj). Oleh sebab itu, bisa dimengerti bahwa ‘abduhu merupakan atribut manusia yang tertinggi dan mulia.

Hal tersebut semakin logis, karena kata ‘abduhu juga digunakan Allah dalam surat An-Najm[53], ayat 10 untuk menggambarkan pewahyuan firman Allah saat puncak perjalanan Nabi ke langit. Pada saat yang sama, penggunaan kata ‘abduhu mengingatkan setiap muslim bahwa Nabi Muhammad tetap seorang makhluk meskipun telah mencapai pengalaman rohani tertinggi dan betapapun Allah sangat memuliakannya di antara semua makhluk.
Akhirul kalam, Nabi yang suci dan sangat mulia saja tetap sebagai hambaNya. Tentu tidak logis bila manusia biasa yang hanya memiliki sehelai benang kemuliaan, asyik dengan kedudukan dan kederajatan di dalam menara gading. Tidak bisa disapa dan tanpa lebur dalam kehidupan sesama manusia.[]

Foto : Ilustrasi Isra Mi’raj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *