Bahaya Nikah

by -586 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Salah satu mandat yang diberikan Allah kepada manusia adalah mandat kultur yaitu agar beranak cucu dan bertambah banyak untuk memakmurkan bumi. Hal ini menyiratkan bahwa Allah merencanakan pernikahan bagi manusia. Maka, lembaga pertama yang didirikan Allah di bumi adalah keluarga. Tuhan menciptakan manusia berpasangan, pria dan wanita (Q.S. An-Nisa’[4]:1; Ar-rum[30]:21; Al-Hujarat[49]:13). Keduanya diikat dalam lembaga pernikahan; berketuruan (Q.S. Ali Imran[3]:38; Al-Furqan[25]:74; Al-Ahqaf[46]:15) dan menjadi satu keluarga (Q.S. Ar-Ra’d[13]:38; Ali Imran[3]:33).


Pernikahan adalah ikatan hidup paling serius yang dapat dilakukan oleh sepasang kekasih sepanjang hidup mereka. Tetapi banyak pasangan memasukinya dalam keadaan kurang dewasa dan tidak cukup pengertian. Misalnya, di Kabupaten Wonosobo. Selama tahun 2020 ada 444 calon pengantin usia anak yang mengajukan layanan rekomendsi untuk pengajuan dispensasi nikah di Pengadilan Agama. Hingga Februari 2021, sudah ada 85 catin (Puspaga/22/2/21).

Salah satu tragedi besar pada zaman kita adalah pernikahan atas dasar cinta romantis dan daya tarik seksual. Hal ini tidak saja terjadi pada penrikahn di bawah umur, tapi juga di atas umur. Daya tarik seksual dan cinta romantis adalah hal-hal yang baik untuk dimiliki dalam sebuah pernikahan, tetapi pernikahan tidak bisa dibangun hanya berdasarkan pada kedua hal itu. Romantika dan rasa saling tertarik, tentu penting, tapi belum cukup. Nilai penting dari cinta roamantis harus dibawa ke dalam perspektif dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih luas dalam pernikahan.

Dalam ajaran Kristiani disebutkan bahwa, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja,” (Kejadian 2:18). Banyak orang memilih konsep ini dan mengambil sikap dalam hidupnya untuk menikah. Menurut ayat ini, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, satu untuk yang lainnya untuk saling melengkapi. Dalam agama Islam, juga disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi (Q.S.Al-Baqarah[2]:187)


Hal tersebut bermakna, keputusan untuk menikah sehrusanya memiliki alasan positif, yaitu : menikah merupakan mandat kultur dari Allah bagi manusia, karena pentingnya relasi kasih, panggilan untuk menjadi teman dalam meraih ketaqwaan dan mewujudkan nilai-nilai Ilahiah di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah[2]:30; Hud[11]:61). Jadi tidak sekadar alasan sudah mencapai umur, bapak dan mamak merindukan cucu, terlanjur hamil, memerlukan seks dan sejenisnya.

Pernikahan menunjukkan adanya kesiapan suami-istri memikul tanggung jawab. Saat memutuskan untuk menikah, pasangan harus siap menanggung segala beban yang timbul akibat pernikahan, terutama menyangkut pemberian nafkah, pendidikan dan pengasuhan anak. Dengan demikian, pernikahan hakiki mengacu pada tugas Ilahiah. Dalam agama Islam, pernikahan disebut sebagai ikatan perjanjian yang kokoh (Q.S. An-Nisa’[4]:21) Bukan perjanjian biasa, apalagi kontrakan.

Adapun pernikahan usia anak, cenderung mengacu pada alasan negative. Banyak di antara mereka “terpaksa” menikah disebabkan tidak melanjutkan pendidikan, salah gaul, terlanjur hamil, tuntutan seks dan romantisme. Dalam hal ini, pihak yang paling sering dirugikan adalah perempuan. Banyak masalah timbul ketika perempuan yang belum cukup umur; dewasa psikis dan siap mental; memiliki anak dan berkewajiban mendidik serta mencari nafkah.

Dalam agama Islam, usia pernikahan secara tersirat dinyatakan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud. Dia berkata,” Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda.”Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian mencapai ba’ah (mampu menikah), kawinlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan kemaluan. Dan barang siap belum mampu melaksanakanya, hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya puasa itu akan meredakan gejolak hasrat seksual” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw. menggunakan kata syabab yang bermakna seorang yang telah mencapai masa aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun (pemuda). Adapun ba’ah makna asalnya adalah hubungan seks, namun secara luas bermakna mampu menempatkan isterinya di rumah (bertempat-tinggal), memberi mahar ataupun beban lain yang terkait dengan pernikahan. Jadi, tolok ukur mampu menikah tidak sebatas kemampuan biologis (seksual), akan tetapi juga meliputi psikis dan pikiran.

Jika ukurannya adalah kemampuan biologis, maka masa aqil baligh umumnya telah dialami oleh tiap orang pada usia sekitar 14-17 tahun. Dan generasi millenial banyak yang telah memiliki kemasakan seksual, tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir. Sehingga, dapat dimengerti bahwa usia 14-17 tahun secara umum adalah mampu secara biologis dan belum dewasa penuh untuk menikah atau balaghun-nikah (Q.S.An-Nisa’[4]:6).

Kedewasaan seorang perempuan dalam mendidik anaknya tentu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Dan ditinjau dari aspek kesehatan, calon ibu yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan reproduksi akan mengalami berbagai kesulitan dalam merawat kandungannya. Hal yang amat dikhawatirkan adalah mengenai kualitas anak yang akan dilahirkan.

Demikian pula kedewasaan pria, yang notabenenya sebagai pemimpin keluarga (Q.S.An-Nisa’[4]:34). Maka lebih tepat; kesiapan yang harus dimiliki adalah mental dan ruhiyah untuk menanggung beban dan tanggung jawab pernikahan. Artinya secara mental, seseorang siap menjalani kehidupan rumah tangga dengan segala konsekuensinya.

Kedewasaan psikis dan kesiapan pengetahuan mengenai seluk beluk pernikahan adalah sangat penting. Adapun kedewasaan secara psikologis umumnya tidak dimiliki oleh perempuan di bawah umur. Selain itu, banyak dijumpai pernikahan anak yang berujung pada perceraian.

Oleh sebab itu, keluarga dan institusi pendidikan harus memberikan pemahaman yang tepat mengenai pernikahan. Misalnya terkait bahaya nikah. Orang dewasa pun bisa bahaya, apalagi anak-anak. Di antara bahaya nikah adalah lemah dalam mencari nafakah yang halal ; tidak mampu bersabar memenuhi hak-hak  keluarga; lemah dalam menmenuhi hak-hak istri ; tidak mampu mendidik istri dan anak-anak dalam urusan agama.

Bahaya yang timbul akibat pernikahan usia dini cukup besar utamanya terkait kehidupan rumah tangga yang akan dijalani serta kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu pula, sebagai pemegang otoritas; pemerintah berhak membuat persyaratan batas minimum usia pernikahan (19 tahun) sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat (1) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 15 ayat (1).

Tujuannya adalah menjaga kemaslahatan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul maslahah mursalah yaitu dengan asumsi bahwa hukum ini merupakan alat, sedangkan tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia.

Sedemikian pentingnya kematangan dan kedewasaan usia menikah, sehingga diperbolehkan hidup melajang (tidak menikah). Yaitu, apabila kebutuhan hidup sulit di peroleh kecuali dengan jalan durhaka kepada Allah. Artinya, lebih baik tidak berkeluarga daripada menjerumuskan keluarga dalam kehinaan akhirat disebabkan cara mencari nafkah yang tidak benar atau durhaka kepada Allah. Maka, Allah memperingatkan hambaNya agar tidak meninggalkan anak keturunan yang lemah dan amburadul (Q.S. An-Nisa’[4]:9).[]

Foto : kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *