Museum Kematian

by -442 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Ketika melewati usia 40 tahun pertama, sampaikah kita pada usia 40 tahun kedua ? Mungkin tidak. Rata-rata umur adalah 60-70 tahun. Kata Nabi,”Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sangat sedikit dari mereka yang melewatinya.” (HR Ibnu Majah).

Seberapapun banyak usia kita, pada dasarnya hari-hari yang dijalani adalah mengurangi ‘jatah usia.” Pada saat yang sama, Allah Swt. pun mengambil sedikit demi sediki nikmatNya. Seiring berkurangnya umur; kekuatan fisik semakin berkurang, penglihatan mulai buram, kulit mengendur dan keriput, rambut memutih, dan ingatan tak lagi tajam.

Dalam rentang usia itu, setiap orang memiliki bagian kehidupannya sendiri. Bagian-bagian itu kadang bertambah dan berkurang. Bila mati. tinggallah kenangan; tubuh membujur tak berguna. Meskupun seorang raja, hartawan, selebritas atau apapun; semua mati dan disebut jenazah. Kemudian dikubur dan jadi santapan cacing tanah. Namun demikian, setiap orang memiliki jejak kehidupan yang tersimpan dalam sebuah museum kematian.

Museum itu menyimpan peninggalan amaliyah saat kehidupan. Sang penipu, koruptor, pemuja dunia, pesohor, gelandangan, bahkan orang suci; sama-sama mati. Namun tentu bebeda situs amaliahnya di dalam Kerajaan Allah. Menurut Rasulullah saw, hal utama yang patut ditinggal adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih.

Kuburan yang kita ziarahi, adalah sketsa museum kematian, yang berguna sebagai tempat introspeksi setiap fase kehidupan. Dan kematian yang kita saksikan adalah nasehat penting dalam kehidupan. Puncak introspeksi adalah saat kita mengakui bahwa God is Everything.

Saat penuh dengan kemewahan dan segala kehebatan, iblis bisa saja merasuki jiwa-jiwa agar berkata I’m something. Namun saat menjadi biasa-biasa saja, sebagai hamba yang lemah dan tak kuasa apa-apa, barulah menyadari keterbatasannya sampai pada titik nol. Hatinya mulai mengakui I’m nothing.
Saat seperti itu Allah memberikan pengharapan dengan segenap rahmatNya, sampai akhirnya harus mengaku God is Everything. Allah adalah segala-galanya. Hanya bergantung pada Allah dalam segala hal (Q.S. Al-Ikhlas[112]:2).

Sebenarnya, untuk mengakui God is Everything, seseorang tidak harus mengalami titik nol. Sebab dalam keadaan apapun, manusia adalah hamba Allah. Aneh saja, bila Allah menganugerahi sesuatu (jabatan, harta benda, nama mulia dan sebagainya), kemudian berubah menjadi rasa tuan. Seakan-akan Allah tak kuasa mencabut semua karuniaNya dalam hitungan detik. Inilah yang disebut lupa diri. Lupa bahwa Allah adalah Everything.

Saat Allah adalah segala-galanya, kehinaan duniawi akan biasa-biasa saja. Tak bernama pun tak akan menyusahkannya. Miskin saja bersyukur, apalagi kaya. Hina saja beribadah, apalagi mulia. Menjadi karyawan saja melayani; apalagi menjadi bos. Miskin saja bahagia, apalagi kaya. Tak ada jabatan pun tetap rendah hati, apalagi ada jabatan. Artinya, semakin mulia, seharusnya semakin hina dan lemah di hadapan Allah. Semakin tinggi kedudukannya, seharusnya semakin rendah di hadapan Allah.

Di dalam museum itu juga ada catatan segala sesuatu tentang pribadi kita masing-masing. Maka jangan jadikan museum kematian kita kosong melompong. Tanpa lukisan, kaligrafi dan ornament dan jariyah kehidupan. Maka, sungguh merupakan keahlian yang luar biasa untuk dapat mengingat hari-hari kita dengan benar sehingga tidak keliru menghitung bagaikan orang yang menyangka masih akan berumur panjang tetapi malam itu juga nyawanya diambil.

Semua manusia adalah hamba Allah yang bekerja di dunia. Manusia menempelkan atau menyimpan satu demi satu jejak kehidupan dalam museum kematian. Jejak itu akan terbaca saat dibangkitkan ke hadiratNya, dan Allah berkata,” Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung terhadapmu” (TQ.S. Al-Isra[17]:14 )
Oleh sebab itu, ada beberapa kesadaran hati (heart-consciousness) yang diperlukan untuk membangun museum kematian.

Pertama, menjalani kehidupan dengan memperhitungkan betapa singkat dan tidak pastinya hidup ini, serta betapa kematian semakin dekat. Kita juga harus menghitung hari-hari kita untuk dibandingkan dengan ‘pekerjaan’ yang telah kita lakukan.
Kedua, bahwa orang-orang yang mampu menghitung hari-harinya harus berdoa untuk memperoleh pengajaran Ilahi. Maka, harus mendekat dan memohon kepada-Nya agar senantiasa mengajarkan dan memampukan kita dalam mengingatNya, serta memberi pemahaman yang baik atas kehidupan.

Ketiga, menghitung hari-hari kita demi tujuan yang baik adalah apabila hati kita tertuju dan terlibat dengan hikmah sejati, yakni menjalani kesalehan dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah dan sesama.

Keempat, hidup beragama berarti hidup bijaksana. Hal ini perlu kita terapkan di dalam hati. Sering memikirkan ketidakpastian kelangsungan hidup kita di dunia dan menyadari bahwa kita pasti mati; akan sangat membantu memahami betapa tidak bergunanya kehidupan kita, bila tidak ditujukan untuk Allah.

Kelima, percuma mengharapkan keabadian pada dunia (cinta, kebahagian, kerinduan dan kasih sayang), sebab dunia tak mampu memenuhi hasrat keabadian. Hanya Allah yang Maha Mencukupi.

Keenam, waktu adalah milik Allah yang diberikan kepada manusia dengan jangka waktu tertentu sehingga dalam mengunakannya harus mentaati Allah dengan motivasi murni (ikhlash). Mengunakan waktu sebaik-baiknya adalah mengunakan waktu sesuai kehendak Allah dalam hidup ini dan tetap menggunakan sisa waktu yang ada menurut kehendak Allah
Kita hanya punya waktu sesaat untuk membangun museum kematian, maka kita perlu memaksimalkan kesempatan ini. Apabila ketika kita mengisi waktu yang ada dengan memanfaatkan kekuatan dan anugerah Allah, maka kita akan termasuk golongan orang yang mempengaruhi zaman ini dengan dampak yang kekal (ukhrawi).

Ya Allah, Engkau telah memberi kami waktu yang kami butuhkan untuk menjalani apa yang Engkau kehendaki. Kiranya kami mempergunakan waktu yang ada dengan cara-cara yang memuliakan-Mu. Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Tuhan-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi).

Jadi, sangat penting sesekali ke kuburan. Duduk bagaikan sedang menikmati waktu teduh bersama Allah. Mengamati skesta kematian, seraya memahami bahwa seberapa pentingnya hidup kita, tokh akhirnya akan kembali ke bumi. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *