Rindu Guangzhou

by -3,051 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Meskipun Masjidil Haram, Nabawi dan Aqsha merupakan tiga tempat yang harus berniat sungguh-sungguh mengunjunginya, tidak berarti dilarang mengunjungi mesjid di negeri lain. Misalnya di China. Negeri ini memiliki jejak sebaran agama Islam. Yang paling popular adalah delegasi yang dipimpin oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw., Sa’ad bin Abi Waqqas radiyallahu ‘anhu. Mereka diterima dengan baik oleh Kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683 M).

Saad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling bernilai di China. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan China. Usianya, ebih dari 13 abad dan masih tegak berdiri dengan keindahan artistic khas China.
Masjid Huaisheng kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad Saw. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini letaknya di jalan Guangta.

Guru saya, Mbah Muntaha Al-Hafeez pernah mengunjungi Guangzhou dalam rangka menziarahi maqbarah para penyebar Islam dan mesjid-mesjid bersejarah. Semasa hidupnya beliau memang sangat ingin mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan dalam Alquran dan Hadist atau pun yang terkait dengan sejarah Islam. Beruntung situs yang ada di China tersebut tidak dihancurkan oleh penguasa politik maupun ideologis, sehingga dapat dilihat sebagai bukti sejarah Islam.

Disamping itu, ada hadist riwayat Imam Baihaqi dan sangat terkenal, yaitu”Carilah ilmu walau di negeri China.” Meskipun hadist ini diperdebatkan keshahihannya, namun dari sisi maknawinya sangat bermanfaat. Di dalam hadist terkandung makna carilah ilmu walaupun berada di tempat yang sangat jauh dan sulit. Maka ulama zaman dahulu, mengembara untuk mencari satu-dua ‘nash” hadist serta menelusuri periwayatannya.

China memiliki peradaban yang lebih maju dan telah dikenal berabad-abad sebelum masehi dibanding bangsa-bangsa lain. Oleh sebab itu, hadist “carilah ilmu walau di negeri China” bisa diperluas maksudnya, yaitu mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan tidak saja yang berhubungan dengan urusan agama atau ibadah;, tetapi juga berbagai ilmu pengetahuan lain seperti misalnya kedokteran, farmasi, matematika, kimia, biologi sosiologi, teknik, astronomi dan sebaginya.

Jika pengertiannya hanya ilmu yang berkaitan dengan soal ibadah, niscaya hadist “ cerilah ilmu walau di negeri China kurang relevan; sebab penduduk China pada masa itu masih menyembah patung sehingga tidak mungkin dijadikan sebagai tempat atau sumber ilmu pengetahuan agama (tauhid).

Setelah masa Sa’d bin Abi Waqqas radiyallahu ‘anhu, Islam berkembang dengan pesat di China dibanding daerah-daerah lain di luar kawasan Arab. Selain Guangzhou, salah satu daerah yang menjadi pusat perkembangan Islam adalah Quanzhou. Kota yang menjadi titik awal jalur sutera ini juga menjadi bukti keindahan toleransi antar umat beragam. Di kota ini, pemeluk Islam, Hindu, Budha, Konghucu dan berbagai kepercayaan lain hidup damai dan berdampingan.

Bukti bahwa sebaran Islam ke China telah dimulai sejak masa sahabat Nabi Muhammad saw., menunjukkan alangkah gigih perjuangan, pengorbanan dan keluhuran perilaku mereka dalam menegakkan agama Islam dan membangun interaksi dengan sesama umat manusia. Mereka tidak serta merta menghancurkan ajaran yang telah ada, semisal ajaran Konfusius (551-479 SM) atau pun adat dan tradisi masyarakat setempat.

Hal ini bisa dimengerti, bahwa apa yang tidak terdapat dalam teks Alquran dan ucapan Rasulullahh saw., tidak serta merta salah total. Sangat mungkin Konfusianism pun memiliki bagian ajaran yang universal dan sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya tentang penghormatan, kejujuran, kepedulian, menjaga sesama, keseimbangan antara sesama, menjaga hubungan baik serta hal lain yang terkait dengan budi pekerti dan keshalihan sosial.
Oleh sebab itu, para penyebar Islam tidak melulu ‘perang suci” dan menghancurkan sehancur-hancurnya apapun yang ada di China. Mereka datang baik-baik dan diterima dengan baik. Mereka melakukan internalisasi nilai-nilai Islam dengan cara yang baik.

Hal ini dikarenakan interaksi sosial mesti didasari rahmah dan kelemah-lembutan (Q.S. Ali Imran[3]:, 83159; An-Nisa’[4]:36). Jika mereka datang dengan membawa pedang, main hantam dan menghancurkan system sosial, keagamaan dan politik; tentu Kaisar akan menolak dan melawan.

Sebaliknya, mereka datang membawa kebajikan, mengajarkan cara beribadah, al-kitab dan al-hikmah. Hal demikian, sesuai dengan kaidah perutusan Nabi Muhammad saw. yaitu membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah serta membersihkan jiwa (Q.S.Al-Baqarah[2]:129; Al-Jumu’ah[62]:2).
Mereka yang mensebarkan risalah kenabian ke China, niscaya dilandasi mengikuti sunnah Rasulullah saw.. Tidak berambisi merebut kekaisaran, mengumplkan harta benda dan mengunggulkan klan/sukunya.

Mereka notabenenya adalah bangsa Arab, namun tak berpijak pada chauvinism dan Arabisasi, sebab mereka mengajak menyembah Allah dan mensebarkan cara hidup Islam; bukan mengajak menjadi Arab (arabiy) ataupun kearab-araban (isti’rab). Mereka meyakini bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa (Q.S. Al-Hujarat[49]:13) dan berbeda warna kulit serta bahasanya (Q.S.Ar-Rum[30]:22).

Akhirul kalam, Selamat Tahun Baru Imlek. China berkembang menjadi Negara kuat dan produktif. Tentu sesama hamba Tuhan, tak perlu menghabiskan energy untuk membangun sikap antipati. Akan tetapi; membangun relasi dan mewujudkan dunia yang baik, berkompetisi maupun bekerjasama untuk mengurus dunia.

Oya, mungkin kelak akan tiba saatnya, isi dunia ini kalau bukan ciptaan Tuhan, ya buatan China. Saat haji dan umrah misalnya, kita menjumpai banyak produk China di Makkah-Madinah.
Dan…….entah mengapa saat menunaikan haji, saya selalu haru bila berpapasan dengan rombongan dari China, terutama yang renta. Di antara mereka, memanggul karton berisi Mushaf Alquran. Apakah saya teringat Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radiyallahu ‘anhu, Sang Penyebar Mushaf dan dibunuh saat membaca Alquran oleh kelompok haus kuasa dan dunia ? Entahlah….

Yang pasti ingin menyapa wajah tyrus dan mata indah khas Asia Timur mereka, tapi kelu. Tak bisa bahasa mereka, padahal milyaran orang menggunakan bahasa China (Mandarin). Ada juga rasa takut dibilang tidak syar’i, bila berbahasa selain Arab. Beruntung saya bisa mengucapkan “Assalamu’alaikum,” dan mereka menjawab “wa’alaikum salam” seraya tersenyum tulus.
Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb [] .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *