Sunnah Menghindari Wabah

by -421 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Mungkin karena virus corona tidak terlihat, sehingga banyak orang yang tidak percaya keberadaan dan merasa aman dari paparannya. Namun dunia medis telah memperlihatkan bahwa virus tersebut nyata. Puluhan juta orang di seluruh dunia meninggal disebabkan wabah covid-19.

Di Kabupaten Wonosobo per tanggal 5 Februari terkonfirmasi 4.764 orang 260 diantaranya meninggal, 301 dalam perawatan dan 4.203 sembuh (corona.wonosobokab. go.id).

Keberadaan virus bagai iblis. Tidak kelihatan, tapi merupakan musuh yang nyata. Saat Tuhan berfirman bahwa setan adalah musuh yang nyata (Q.S. Al-Baqarah[2]:168; Al-An’am[6]:142; Al-A’raf[7]:22) sedangkan manusia tidak bisa melihat setan (Q.S. Al-A’raf[7]:27; Al-Anfal[8]:48); maka apakah dengan demikian keberadaannya tidak ada ? Padahal orang yang beriman wajib percaya adanya makhluk ghaib (Q.S. Al-Baqarah[2]:3).

Virus juga dapat dibilang sebagai makhluk ghaib, setidaknya ghaib nisbi sebab dengan ilmu dan teknologi virus dapat dilihat. Allah memperlihatkan keghaiban nisbi kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dengan ilmu, manusia mampu melihat/mengetahui adanya virus dan sukses mengendalikan penularan covid-19.

Kesuksesan dalam mengendalikan pandemi covid-19 memang memberikan rasa optimis. Namun, akhir-akhir ini, sejumlah Negara menghadapi gelombang lanjutan pandemic; yang ditandai dengan ditemukannya sejumlah klaster baru penularan covid-19. Kebangkitan virus bukan satu-satunya kekhawatiran, tapi rasa puas dirilah yang dikhawatirkan. Rasa puas diri ini berpotensi menjadikan banyak pihak abai terhadap protocol kesehatan  dan seoalah-olah sudah aman. Bahkan ketidakpercayaan adanya covid-19.

Adanya varian baru dan meningkatnya paparan covid-19 menunjukkan bahwa kenyataan buruk pandemic belum berakhir. Kehidupan ‘new normal’ bukan tanpa konsekuensi. Penerapan protokol kesehatan, meliputi memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tidak serta merta menghilangkan Covid-19. Maka, diperlukan jihad kesehatan yang lebih massif, sistematis dan terstruktur.

Dari sisi akidah, covid-19 adalah takdir. Namun Allah juga punya takdir dan ketentuan lain; yaitu berikhtiar menghindari secepat mungkin, optimis dalam menghadapinya dan maksimal mencari jalan keluar. Maka, wajar bila Negara seperti Arab Saudi mulai tanggal 3 Februari 2021 melarang kunjungan dari 20 Negara, termasuk Indoenesia. Bahkan kabarnya, pemerintah menghukum pelanggar prokes dengan denda 3.000 riyal (sekitar Rp.12 juta) atau penjara 2 (dua) bulan. Hal ini tidak lain merupakan bagian dari ijtihad dan jihad dalam bidang kesehatan, sekaligus menegakkan tujuan hukum, yaitu “keselamatan jiwa.”

Bentuk wabah dari masa ke masa memang berbeda; tetapi inti perlawanannya sama; yaitu harus menghindarinya sejauh mungkin, tidak keluar masuk zona wabah, mengurangi interaksi langsung dalam kehupan sehari-hari serta berdoa kepada-Nya. Allah memberi peluang untuk menghindari dan mengatasi wabah tersebut sesuai dengan masa yang dialami umat manusia serta perkembangan ilmu dan teknologi di bidang medis.

Maka, disamping adanya protokol kesehatan selanjutnya adalah vaksinasi, yakni sebagai upaya mencegah dan menghilangkan penyakit. Hal ini sesuai dengan kaidah “al-daf’u ashalu min al-raf’i (pencegahan lebih mudah daripada menghilangkan). Faktanya, tatkala virus mewabah, maka semua pihak dilanda kesulitan yang bertubi-tubi. Pencegahan dan pengobatan memungkinkan hilangnya bahaya dan kerusakan yang diakibatkan virus, sehingga kehidupan kembali benar-benar normal. Namun, jika wabah hanya dihadapi dengan “menyerah” pada takdir, maka takdirnya adalah kebinasaan dan kesulitan yang tiada akhir.

ada hakikatnya, menghindari dan melawan bahaya serta mengatasi wabah; merupakan sunnah Rasulullah saw. Misalnya, saat terjadi wabah lepra, beliau perintakan “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.” (HR. Bukhari).

Rasulullah saw. juga bersabda sebagai berikut : “Tha’un (penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Swt. untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari (keluar) daripadanya.” (HR. Muslim).

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Siapapun yang membuat suatu bahaya maka Allah akan membalasnya, dan siapapun yang mempersulit orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.” (HR. Baihaqi).

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla.” (HR. Muslim)
Sebelum ada pemeriksaan kita tidak tahu siapa yang terpapar dan tidak. Boleh jadi kita termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG), yang berpotensi memaparkan virus kepada orang lain (keluarga, jemaah, komunitas, tetangga dan semua orang yang berinteraksi dengan kita). Maka ikhtiar yang terbaik adalah menaati prokes agar “saling menyelamatkan” satu sama lain serta menerima vaksin agar imunitas tubuh maksimal.

Untuk itu umat Islam disunnahkan menghindari wabah; bukan mendekat apalagi menantang. Protokol kesehatan sesungguhnya merupakan ajaran agama. Kita dinasehati oleh orang-orang yang berkompten agar kita tehindar dari wabah.
Kita diminta memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menhindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Apalagi kegiatan adat dan keagamaan masyarakat sangat massif; mulai dari hajatan, kenduri, upacara keagamaan maupun adat, festival, pengajian umum dan sebagainya.

Prokes dimaksudkan untuk menjaga keselamatan manusia; jangan sampai jatuh banyak korban disebabkan hal-hal yang tidak kita sadari. Sebab keberadaan manusia berada di atas segalanya. Prokes juga bukan sesuatu yang asal atur, akan tetapi melalaui kaidah keilmuan. Ketaatan, atau bila kepengin gagah—pengorbanan menaati prokes, niscaya merupakan perkara baik (al-ma’ruf). Bila tidak, sama halnya dengan “mendukung” virus untuk semakin merajalela.

Umat Islam seharusnya memberi contoh dalam mensikapi wabah ini. Mematuhi protokol kesehatan, merupakan bagian dari ketaqwaan. Hal ini bisa dimengerti bahwa dalam “taqwa” terkandung “wiqayatan” yang berarti hati-hati, waspada dan menghindari bahaya. Seumpama ada duri/pecahan kaca di jalan yang dilalui, tentu kita akan berhati-hati dan menghindar. Demikian halnya; berhat-hati, waspada dan menghindari paparan covid-19.

Jadi apa ruginya, bila melaksanakan sunah, menaatai pemerintah dan mempercayai orang-orang yang kompeten mengenai covid-19. Keadaan ini niscaya tidak akan lama apabila bersama-sama ikhtiar dan memohon kepada Allah dalam mengatasi wabah. Adalah suatu kebaikan bila tidak membahayakan diri dan orang lain serta saling menopang keselamatan jiwa, saling menjaga kesehatan. Hal ini semacam saling memberi syafaat (pertolongan untuk tujuan baik)[Q.S.An-Nisa’[4]:85).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *