Covid No, Vaksin Yes

by -3,034 views

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Tidak seperti beberapa Negara yang menerapkan lockdowan total akibat pandemic covid-19, Pemerintah Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini sangat tepat; sebab jika lockdown total, masyarakat kesulitan beraktivitas dan memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menghambat lagu perekonomian.

Keadaan serba sulit akan memicu sekelompok anti-Pemerintah memproduk narasi buruk supaya masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Jika masyarakat terus menerus digempur dengan narasi buruk, hoaks dan sejenisnya, niscaya akibat fatal. Gempuran ini akan merembet kemana-mana, dan membuat gaduh.

Namun dengan kesungguhan pemerintah dan stakeholders, keadaan terkendali. Sedikit demi sedikit masyarakat memaklumi dan bersama-sama melewati masa susah dengan kesadaran, kesabaran dan harapan.

Demikian halnya dengan vaksinasi. Langkah pemerintah ini dapat dikatakan sebagai jihad kesehatan dalam upaya melindungi hidup warganya (hifdun-nafs). Meskipun mungkin ada sedikit keraguan, penolakan dan juga narasi buruk mengenai vaksinasi, namun hampir dipastikan masyarakat menerima dengan ridha Apalagi vaksin covid-19 gratis, halal dan aman.

Bahkan secara simbolik Presiden memulai vaksinasi sebagai penerima vaksin pertama.
Semua langkah pemerintah bertujuan menjamin keberlangsungan hidup dan perlindungan masyarakat dari marabahaya. Hal ini, merupakan bagian dari jihad di jalan Allah. Sebab jihad tidak sekadar perang (qital) atau pertempuran bersenjata.

Jihad dalam arti perang memiliki ketentuan tersendiri, dalam konteks dan keadaan yang khusus dan ditentukan oleh otoriras walayat (kekuasaan). Tidak bras-bres semaunya sendiri. Menganggap jihad hanya perang, sama halnya ‘mengkorup’ makna jihad dan menyembunyikan keutuhan kebenaran agama. Pemaknaan sempit ini, berbahaya jika provokator dan penikmat kekacauan terus menerus menyuntikkannya ke dalam pikiran masyarakat.

Apalagi saat pandemic melanda dunia, sempat-sempatnya mikir perang dan membunuh sesama manusia karena perselisihan suku, agama, ras dan agama, bahkan madzhab. Kita justru harus saling menjaga keselamatan dari marabahaya, termasuk bahaya pandemic covid-19. Setiap orang butuh kesehatan, maka tidak perlu ego dengan merasa sehat sendirian.

“Perang” melawan virus corona tidak akan selesai dengan peralatan tempur yang paling canggih sekalipun. Juga tidak tahu kapan ‘menularkan’ dan ‘tertular’. Perang melawan virus corona, ya vaksin. Maka, seharusnya para pihak yang tidak mengerti tentang vaksin tidak perlu susah payah mengeksplor dalil-dalil kitabiyah; mencaci maki pemerintah, produsen dan pihak-pihak terkait vaksin. Keberhasilan membuat vaksin merupakan anugerah ilmiah dari Allah.

Tuhan memberikan anugerah akal pikiran untuk didayagunkan (ijtihad) mengatasi permasalahan, termasuk masalah pandemic. Dengan anugerah ilmiah di bidang kesehatan, Tuhan memampukan hamba-Nya menciptakan tentara dalam tubuh manusia untuk melawan berbagai jenis penyakit. Fakta ini seharusnya disyukuri oleh setiap hamba yang beriman kepada Allah.

Dahulu zaman Nabi Yusuf memerintah Mesir pernah terjadi keadaan sulit selama 7 (tujuh) tahun (Q.S.Yusuf[12]:43-47); bagaimana jika hal yang sama terjadi pada saat ini ? Namun, Allah menganugerahkan akal pikiran kepada manusia untuk mampu mengatasi setiap permasalahan.

Vaksinasi adalah upaya baik untuk keberlangsungan hidup umat manusia, terutama adalah perlindungan kesehatan. Jika membiarkan covid-19 membunuh manusia dan pasrah kepada Tuhan tanpa upaya; maka sama dengan berbuat kebinasaan dan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Padahal, Allah melarang berbuat demikian.

“Dan belanjakanlah harta bendamu di Jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (TQS.Al-Baqarah[2]:195).

Nabi pun menegaskan adanya larangan membahayakan diri dan dan orang lain (lā dhirāra walā dharāra).
Ratusan tahun yang lalu, Muhumad Syatha ad-Dimyathi, penulis I’anath-Thailibin, berpendapat bahwa menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran untuk semua manusia adalah termasuk jihad. Yakni “daf’u dharari ma’shumin musliman kāna au dzimmiyan bil ith’am fi halati idhrar wal ikhsya’i syatril aurat wal iskani tsamani dawa’ wal ujrati tamridh” (mememenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang harus ditanggung pemerintah baik untuk kaum muslim maupun non-muslim melalui penyediaan makanan saat dibutuhkan, sandang yang cukup untuk menutup aurat bagi setiap warga negara, tempat tinggal yang layak, obat-obatan dan biaya perawatan yang terjangkau oleh masyarakat).

Jihad tersebut sangat dibutuhkan masyarakat modern; masyarakat yang condong pada kerjasama, ketaatan hukum, peradaban dan terbuka terhadap keanekaragaman pemikiran; serta masyarakat yang ingin sejahtera lahir batin. Bukan masyarakat kekerasan, peperangan, perkelahian dan serba nyinyir.

Artinya jihad diorientasikan untuk menjamin kehidupan yang lebih baik sebagai sarana menunjukkan keberadaan dan kebesaran Allah sekaligus bentuk aktualisasi tujuan penerapan syariat yaitu mewujudkan kemaslahatan umat. Maka, yang dikedepankan adalah upaya menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup setiap umat manusia. Oleh sebab itu, vaksinasi mustahil dimaksudkan untuk merusak kesehatan warga. Kalau Negara hendak membinasakan warganya, untuk apa “berperang” melawan covid-19.

Yang terpenting adalah bahwa warganya terjamin mengkonsusmi atau menggunakan sesuatu yang halal dan thayyib (Q.S. Al-Baqarah[2]:128, 172). Jadi, Negara pun pasti menjamin kehalalan dan thayyib; sebagai bagian dari pelayanan Negara terhadap kehidupan beragama rakyatnya. Hal ini sesuai syari’at sebab tujuan adanya syariah adalah untuk mewujudkan maslahat dan mencegah mafsadat.

Maslahat membawa manfaat, sedangkan mafsadat mengakibatkan kemudaratan (bahaya dan sebagainya), maka terdapat kaidah :” adh-dhararu yuzal” (kemudaratan harus dihilangkan). Covid-19 adalah madharat, maka harus dihilangkan. Apabila pesoalan virus corona teratasi, maka keadaan aman, nyaman, sehat wal ‘afiyat sehingga segala sesuatu normal kembali, masyarakat kembali produktif, beribadah dan bermasyarakat pun kembali leluasa (Q.S. Al-Quraisy[106]:1-4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *