Gila Surga

by -474 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Pertanyaan,”Apakah manusia hidup seteleh mati ?,” seakan menggugat keberadaan akhirat. Hal ini bisa dimengerti karena tidak seorang pun memiliki pengalaman mengenai akhirat. Memang kita mendengar kisah bahwa Nabi Adam pernah hidup di surga. Akan tetapi ; apakah surga yang ditempati Nabi Adam adalah surga akhirat ?.
Allah menyebut bahwa akhirat adalah alam sesudah kematian seluruh manusia, termasuk Nabi Adam (Q.S. Al-Mukminun[23] :102-104 ; Al-Hadid[57]:20; An-Nahl[16] :47 ; Al-Qashash[28]:77).

Sekiranya ada yang memiliki pengalaman akhirat, maka mereka yang terlanjur tidak beramal shalih di dunia akan kembali ke dunia untuk kehidupan yang baik di akhirat. Mereka akan berkata,” Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini. [TQ.S. Al-Fajr[89]:24].
Mereka yang terlanjur gila dunia, minta dikembalikan ke dunia agar bisa bersedekah dan beramal shalih.

”Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”(TQS. Al-Munafiqun[63] :10).

Ayat tersebut mengkhabarkan adanya penyesalan orang yang tenggelam dalam kehidupan dunia. Namun sia-sia, sebab mereka berada di tempat lain dan mustahil kembali ke dunia. Ayat ini juga mempertegas adanya kehidupan sesudah kematian.
Meskipun tak ada yang berpengalaman di akhirat, namun Allah memberi otoritas kepada para Nabi agar menjelaskan akhirat. Berdasarkan wahyu Allah, mereka memberitahu tetang dasar kebenaran alam akhirat. Pertama, akhirat itu ada. Kedua, ketika seseorang mati, ada dua alternatif tempat tujuan (surga-neraka). Ketiga, ada cara untuk memastikan bahwa akhirat dipenuhi kebahagiaan.

Alquran berulangkali menyebut kepastian adanya akhirat (Q.S. Al-Baqarah[2]:94,201; Ali Imtan[3]:85; Al-An’am[6]:32). Atas dasar firmanNya, Nabi memberi kabar gembira dan peringatan tentang sesudah kematian atau pun akhirat. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan memperoleh surga nan penuh kebahagiaan. Sedangkan orang-orang durhaka, mendapat hukuman .
Tidak peduli siapa kita dan seberapa rendah derajat duniawi kita ; asal beriman dan beramal shalih, niscaya memperoleh kehidupan yang baik di akhirat. (Q.S.An-Nahl[16]:97; Ghafir[40]:40; Fsuhilat[41]:46).

Maka, janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah dan RasulNya. Bila beriman dan beramal shalih, niscaya akan melihat janji-janji Allah berupa keberkahan, kehidupan yang baik, kebahagiaan, perlindungan dan rahmat (Q.S. Ar-Rm[30]:47; Al-Haj[22]:38,54; Al-Baqarah[2]:257; An-Nisa’[4]:141; An-Nur[24] :55 ; Al-A;raf[7]:96; Al-Munafiqun[63]:8; dan An-Nahl[16] :97).
Tak peduli seberapa besar atau mulianya derajat manusia di dunia, bila mengingkariNya ; niscaya akan memperoleh murka, kesengsaraan dan tempat yang buruk di akhirat (Q.S. Al-An’am[6] :160 ; Hud[10] :27. As-Sajdah[32] :22).
Alquran membahas nasib yang menanti di akhirat. Di dalam istilah mukmin dan kafir terdapat dikotomi tujuan atau tempat akhir. Orang beriman dan kafir sama-sama mati, tetapi orang kafir kembali ke tempat buruk/neraka (Q.S.Ali Imran[3]:176; dan orang mukmin ke tempat yang bagus (surga). Setiap orang akan menerima akibat keimanan dan kekufuran (Q.S. Ar-Rum[30]:44; Al-Bayyinah [98]:6-8; At-Taubat[9]:20-22).

Seperti apapun keadaan hidup, tokh akhirnya mati. Yang kaya mati ; yang miskin juga mati. Yang berkuasa mati, yang jelata juga mati. Yang gila dunia mati, yang tak dapat apa-apa di dunia juga mati. Yang kasar dan sombong mati ; yang berbudi luhur juga mati. Yang agitatif ya mati ; yang slow-down juga mati. Yang berbeda adalah tempat kembalinya. Setelah mati ; kita akan dikalkulasi amal perbuatannya. Tak ada yang membawa nama besar, popularitas, harta benda, kekerabatan dan statuta duniawi.

Pencapaian duniawi hanya sebagai tempelan sesaat. Setelah kematian, orang melupakannya. Bahkan saat masih hidup pun, tak semua orang peduli. Alih-alih diingat kebaikannya; justru keburukannya. Maka. akhirat adalah tempat yang paling baik dan nikmat bagi hamba Allah (Q.S. Al-An’am[6]:127; An-Nahl[16]:30.

Tempat tujuan kekal (QS. Ghafir[40]:39) manusia tersebut dipengaruhi oleh iman dan amalnya. Setiap orang yang beriman kepada-Nya dan beramal shalih akan mempeoleh tempat yang baik (surga) untuk hidup kekal.
Sedemikian besar kasih Allah pada manusia, maka Allah mengkaruniakan kenabian dan kitab suci. Tujuannya agar setiap orang tidak rugi dan celaka, melainkan mengetahui keselamatan dan keberuntungan pada tempat tujuan kekalnya. Allah mengutus para Nabi bukan untuk menghakimi, melainkan menyampaikan risalah keselamatan, kabar gembira dan peringatan.

Oleh sebab itu, barangsiapa beriman kepada-Nya; tidak akan dihukum. Barangsiapa yang mengingkari Allah, ia akan dihukum, (Q.S.An-Nisa’[4]:14; Al-Ahzab[33]:36; Al-Jin[72]:23). Adapun mereka yang bertobat, Allah akan mengampuni dan akan memenuhi nikmat karunia Allah selamanya (Q.S. At-Taubat[9]:12; Al-Furqan[25]:70).

Akhirat akan menjadi tempat penderitaan kekal bagi mereka yang mengingkari-Nya. Gambaran kehidupan kaum yang memberontak Allah atau tempat tujuan mereka adalah kegelapan yang paling gelap; atau seburuk-buruk tempat kembali (Q.S.Al-Baqarah[2]:126,265; Ali Imran[3]:162; Fushilat[41]:28).

Manusia adalah hamba Tuhan nan rendah dan tak punya apa-apa. Setelah sedikit menikmati kehidupan dunia, lalu mati. Kelak akan digiring ke tempat tujuan kekal (Q.S. Az-Zumar[39]:73-74) sesuai dengan amal perbuatannya (Q.S. Az-Zalzalh[99] :7-80). Sia-sia minta dikembalikan ke dunia. Sia-sia harta benda yang tidak dibelanjakan di jalan Allah (Q.S. Asy-Syu’ara[26] :88-89). Tak ada guna emas sebesar bumi untuk menebus penyesalan di akhirat (Q.S.Ali Imran[3] :91).

Kita menerima pemberitaan mengenai kehidupan setelah kematian melalui firmanNya. Dan para rasul-Nya menyediakan jalan supaya semua orang yang beriman menerima kematian sebagai awal kehidupan yang sempurna. Orang yang beriman kepada Allah tidak perlu takut kematian (Q.S.Fush-shilat[41]:30). Sebab setiap manusia pada akhirnya mati. Namun orang yang beriman dan beramal shalih akan memenangkan kematian. Kematian tidak akan membelenggunya dalam kesengsaraan. Akan tetapi membebaskannya dari keterbatasan duniawi.

Bagi orang yang beriman, maut hanyalah fase kehidupan berikutnya dan jalan menjemput semua karunia-Nya. Sebab Allah memenuhi semua janji-Nya di akhirat. Kita bersyukur atas janji keselamatan yang akan dianugerahkan kepada orang yang beriman dan beramal shalih. Juga janji pertolongan Rasulullah saw. kepada para pengikutnya.

Bila demikian, mengapa tidak memilih tempat kembali yang baik ? Mengapa tidak gila surga atau memilih tempat tujuan kekal yang membuat kita bahagia, bertemu dengan Tuhan dan orang-orang yang dikasihi. Namun; tidak berarti orang yang beriman harus mati konyol. Apalagi membunuh orang lain tanpa haq.
Wujud gila surga adalah teguh dalam keimanan, konsisten mensebarkan rahmat-damai, dan beramal shalih. Bukan menerakakan sesama muslim atau orang yang tidak sepaham; seakan-akan surga hanya miliknya. Bila pun ada hamba Allah yang pantas masuk neraka, biar saja Allah yang menghukumnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *