Takdir 2021

by -725 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, Mspa

WONOSOBOZONE.COM – Saat akhir tahun, banyak orang mulai merencanakan berbagai hal baru yang akan dilakukan. Lumrah, tahun baru adalah momentum yang memungkinkan kita untuk merespon atau pun memulai hal-hal baru sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup. Kita juga diproses untuk tumbuh dan semakin maju. Sedangkan akhir tahun hanyalah satu fase, bukan representasi dari keberhasilan hidup.

Memasuki tahun 2021 rasanya seperti akan meninggalkan suatu masa yang penuh dengan pergulatan hidup sepanjang tahun 2020, terutama wabah virus corona. Mungkin juga tahun-tahun berikutnya akan semakin berat. Namun, dalam keadaan seperti apapun, Tuhan melarang putus asa (Q.S. Yusuf[12]:87). Tuhan mengajarkan kita penuh pengharapan menanti rahmat ngan tetap tekun dalam iman dan pekerjaan.

Allah menyuguhkan kesempatan besar bagi kita untuk melakukan hal-hal baru setiap saat. Dia Maha Luas rahmatNya (Q.S.Al-Baqarah[2]:261; Ali Imran[3]:73). Termasuk kesempatan untuk melakukan pemulihan rohani. Dia akan membuka jalan kepada siapapun yang berusaha mendewasakan iman, mengubah keadaan dan memprkuat komitmen dengan Tuhan (Q.S. Al-Ankbaut[29]:69; Ar-Ra’d[13]:11; An-Nahl[16]:110; Al-An’am[6]:162).

Segala pikiran dan perbuatan manusia (mikrokosmik) mempengaruhi keadaan alam semesta (makrokosmi). Maka, kita juga mesti memperhatikan pemulihan rohani. Sebab rohani merupakan penyebab aktif (active cause) setiap gerak kehidupan. Dalam hal ini, sangat penting memohon pada Tuhan agar memberikan hati yang baru atau menjadi manusia baru.

Ada dua hal penting dalam momentum ini.
Pertama, hidup menjadi manusia baru adalah sebuah kehormatan yang dianugerahkan Tuhan. Menjadi manusia baru berarti menanggalkan hati lama yang dipenuhi dengan pemberontakan kepada Allah, kesesatan dan kegilaan pada dunia Tujuannya adalah agar Allah memperbaharui jiwa dan pikiran kita sehingga gerak hidup, bahkan sejarah kemanusiaan bisa selaras dengan kehendakNya. Sebab, Allah menciptakan manusia di dalam kebenaran dan fitrah.

Pada prinsipnya, kapanpun bisa melakukan pembaruan (menjadi manusia baru). Kita tidak harus menunggu tahun baru untuk memulai sesuatu yang baru, membuaat resolusi, komitmen dan harapan. Hal ini dikarenanan janji Allah tidak terbatas pada tahun baru. Namun, segala rahmat dan kasih sayangNya sudah dijanjikan menurut qudrat dan iradahNya kepada kita setiap hari. Setiap hambaNya akan mengalami hal baru setiap hari. Tak habis-habisnya rahmat Tuhan ; selalu baru tiap saat.

Kedua, tekun dalam iman, tetap teguh dan berpengharapan.

Iman timbul melalui pendengaran kita akan suara Tuhan (firman Tuhan). Oleh sebab itu, hari-hari yang akan datang seyogyanya menyisihkan waktu dengan membaca Kitab Suci. Mendengar, memperhatikan dan membaca Kitab Suci merupakan perintah Tuhan dan rasul-Nya (Q.S. Al-A’raf[7]:204). Rasulullah saw. pun bersabda,”Bacalah Alquran, dia akan menjadi penolong kelak di Hari Kiamat” (HR, Bukhari).

Dalam bacaan Kitab Suci, kita berharap petunjuk Tuhan dan kita dapat merasakan pentingnya kehidupan. Lebih baik berani hidup daripada berani mati. Juga pengharapan akan kehidupan nan kekal yang dijanjikan Tuhan. Adalah tugas malaikat-malaikat agar menyediakan hati untuk mengerti Firman Allah sehingga kita terpesona akan keindahannya, memperoleh nasehat, digerakkan atau dikuatkan oleh janji-janjiNya.

Semua firman Allah bermanfaat untuk mengajar, memperbaiki perilaku, mendidik hambaNya dalam kebenaran dan memperkuat harapan akan kehidupan yang lebih baik (Q.S. Al-Baqarah[2]:2, 129,151; Al-Jumu’ah[62]:2; Ali Imran[3]:14; Al-Isra’[17]:21 Ad-Dhuha[93]:4).

Stay at home di masa pandemi memberi pelajaran tersendiri bahwa hendaknya menyambut tahun baru dengan berdoa minta akal budi, hikmat, dan jiwa rendah hati. Diberi kemampuan melihat segala sesuatu secara positif, rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Selalu akan ada banyak hal yang tidak disukai; entah itu bencana, fitnah dan ujian.

Hanya mereka yang telah membentengi pikiran dengan kebenaran firmanNya yang akan bertahan melewati hal tersebut. Dan hanya Kitab Suci, sebagai standar semua doktrin sekaligus dasar segala pembaruan jiwa, ketekunan iman, harapan dan tindakan.

Allah telah memberikan kepada kita Firman-Nya supaya kita menjadi terbiasa dengan ajaran-ajaran-Nya, dan mengetahui apa yang Dia kehendaki. Kita harus mempelajari Kitab Suci itu dengan tekun setiap hari; menimbang setiap pemikiran, membandingkan ayat dengan ayat lain serta peristiwa di dalam hidup kita. Dengan lain kata, kita harus tekun dalam iman, tetap teguh dan berpengharapan. Ada satu ungkapan bagus,” Dalam tempaan takdir, jiwaku tak terpatahkan.

Terima kasih Tuhan, Engkau mengajariku berpengharapan”
Mustahil tidak ada ujian. Bahkan 2021 bisa saja ujian semakin bertubi-tubi; ekonomi, sakit-penyakit, konflik keluarga dan sebagainya. Masalah semakin bertambah, maka ilmu dan keteguhan jiwa harus semakin bertambah. Kalau tidak; bagaimana menghadapi rasa sakit dan derita ? Setiap jatuh ke dalam berbagai cobaan dan ujian terhadap iman seharusnya menghasilkan ketekunan dan kekuatan, sehingga jiwanya menjadi matang, sempurna dan utuh.

Tahun-tahun kehidupan dunia mungkin semakin penuh tipuan. Kegilaan pada dunia, menghalalkan segala cara demi meraih tujuan, kuasa, amarah, cinta diri (ego) mungkin seaja semakin besar. Hal ini disebabkan hati kita terlalu tertambat pada keindahan dan kemuliaan dunia. Namuan mereka yang menjadi pelajar Kitab Suci, tekun dan rajin serta telah menerima anugerah kebenaran, akan dilindungi dari pesona dan penipuan dunia. Karena hidayah dan rida akan kebenaran Kitab Suci, mereka akan mengenali penipu (dunia) dalam apapun penyamarannya.

Asal berdiri teguh di hadapan Tuhan (Q.S. Ali Imran[3] 200) tetap teguh, dan  tidak bergoncang (tsubut al-nafs atau sabar) [Q.S AlBaqarah(2):45, 153-156,177,249; Ali Imran[3]:142, 156,186,200; Al-Anfal[6):66).. niscaya imannya tak akan goyah karena kesusahan-kesusahan. Segala sesuatu sudah ada ketentuanNya. Jika seseorang tidak bahwa ada kasih sayang Allah dalam diri, maka seseorang tidak akan tahan uji. Orang yang tahan uji mempergunakan akal pikirannya untuk mengambil pelajaran dari masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mencari solusi atas apa yang terjadi. Dia tidak menggantungkan apa yang dimilikinya saat ini, tetapi menggantungkan segalaNya kepada Allah.

Dengan demikian, waktu boleh berubah, tahun boleh berganti, tapi jangan menjadi hamba dunia. Jadilah hamba Tuhan, tetap bertekun dalam iman, sujud, ruku’, dan -membaca Kitab-Nya. Setelah itu,  menjadi pelaku firman, dan bukan hanya menjadi pendengar firman (Q.S. Al-Hajj[22]:77).
Ambil pelajaran saja dari tahun lama (Q.S. Al-Hasyr[59]:18), meksipun tak seorang pun yang mampu memastikan apa yang akan terjadi di tahun berikutnya (Q.S.Luqman[31]:34; Al-Kahfi[18]:23 ). Saatnya kita menyongsong tahun baru yang penuh dengan misteri, kejutan dan juga harapan. Tuhan tidak berhenti bekerja. Dia bekerja dan mewujudkan apa yang menjadi kehendakNya (Q.S.Al-Buruj[85]:16)[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *