Sisakan Cinta untuk Sesama

by -480 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Jika kita membenci seseorang karena beda agama, suku, ras dan golongan; maka sisakan sedikit cinta, siapa tahu pada suatu saat kita membutuhkannya. Kita tidak tahu kapan, dimana dan dalam momentum apa kita bertemu dengan seseorang. Sebab, sudah merupakan titah Tuhan bahwa manusia pasti membutuhkan pertemuan, pergaulan dan perhubungan.

Kita bisa hidup tanpa pesawat terbang, ponsel, mesin dan robotic, tetapi kita tak bisa hidup tanpa sesama manusia. Kita sudah merasakan betapa jenuh dan ‘tersiksa’ saat segala sesuatu harus on-line dan virtual. Kita merasa seperti dalam kabin besar atau ikan besar dalam akuarium. Teknologi adalah alat bantu ciptaan manusia. Dia tak bisa menggantikan manusia sesungguhnya. Kehidupan manusia butuh ruang, momentum dan jiwa.

Dalam situasi ‘butuh’, kita tidak mempertanyakan apa agama, suku, ras dan golongan. Misalnya, saat kita melihat seseorang nyaris tenggelam di sungai, apakah kita akan segera menolong atau bertanya terlebih dahulu apa agama, ras, suku dan golongannya ?

Jika instalasi listrik kita di rumah rusak, apakah kita akan menunggu orang yang seagama dengan kita, untuk membereskan instalasi tersebut ? Saat ini kita butuh vaksin covid-19, apakah juga kita harus memperoleh vaksin produksi ilmuwan yang segolongan dengan kita ? Jadi, ini bukan soal nasib kita kelak di akhirat, tetapi soal membangun hubungan sesama manusia atau kehidupan sesama manusia di muka bumi.

Hal tersebut juga bukan tentang seberapa lama kita tinggal di dunia ini dan apa yang sudah kita capai. Tetapi ini masalah hubungan dan bagaimana kita membangun hubungan dengan dunia dan segala isinya? Kalaupun memang ada manusia yang pantas memperoleh siksa karena tidak seagama, suku, ras dan golongan; biarlah Allah saja yang menyiksa.

Ketika kita lahir di dunia, kita tidak hanya berhubungan dengan orang tua, tetapi ada banyak hal. Kita menjalani hidup di dunia dan berhubungan dengan banyak hal secara dinamis (dosa, kecurangan, kedurhakaan, tipu-menipu dan sebagainya); berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri dan sekitarnya.

Tidak selalu mudah menjalaninya, itulah mengapa sebagai orang beragama kita harus memahami prinsip dan bagaimana kita merespon serta membangun hubungan tersebut.

Pertama, terkait dengan kedurhakaan kepada Tuhan, Dalam berbagai firman-Nya Allah memberi kita nasehat yang baik, yakni segera menjauh ketika kita menghadapi hubungan yang penuh dosa seperti tipu menipu (Q.S. An-Nisa’[2]:142, judi dan alkohol/narkoba (Q.S. Al-Baqarah[2]219; Al-Maidah[5]:90,91), korup/ mengurangi timbangan dan takaran (Q.S. Al-A’raf[7]85; Hud[84,85; Al-Isra’[17]:35; Asy-Syu’ara[26]:181), makan harta secara dzalim, suka menimbun dan kikir (Q.S. Al-Baqarah[2]:188; Al-Fajr[89]:19, Al-Humazah[104]:2 Ali Imran[3]:180) dan sebagainya.

Kedua, hubungan sesama manusia “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” (Efesus 4:2-3).

Setiap orang mungkin memiliki preferensi yang berbeda mengenai hubungan satu sama lain sehingga mengapa kita memerlukan kasih agar bisa menerima perbedaan satu dengan yang lain. Tuhan saja menerima kita dengan segala perbedaannya, maka kita juga harus demikian.
Sebagai orang beragama, kita harus berjuang untuk persatuan dan ikatan perdamaian. Dan ini akan terjadi ketika kita tetap rendah hati, sabar dan saling berhubungan satu dengan yang lain dalam kepedulian, kasih-sayang dan kerelaan. Kita memandang sesama dengan baik sangka, cinta dan ridha.

Kita berbeda dalam hal tertentu. Lagipula memang Tuhan menciptakan perbedaan ukuran (takdir), bagian (nasib) warna kulit, suku dan sebagainya (Q.S.Al-Furqan[25]2; Asy’Syu’ara[26]:80; Ad-Dukhan[44]:4; Al Isra’[17]:21; An-Nahl[16]:71 Al-Qamar[54]:49; Al-Baqarah[2]:245; Ar-rum[30]:22; Al-Hujarat[49]:13) Tetapi ketika kita melihat manusia sebagai sesama ciptaan Allah, maka di titik itulah kita merasakan hal yang sama. Apalagi jika melihat keharusan kita untuk saling membantu, menguatkan, dan menopang dalam urusan dunia; tentu kita memerlukan sesama manusia.

Kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama hambaNya, berkeadilan terhadap sesama (Q.S. Al-Mumtahanah[60]:7,8,9; An-Nisa[4]:135; Al-Maidah[5]:8; Al-Furqan[25]:72). Kita dilarang memaksa sama dalam agama (Q.S. Al-Baqarah[2]:256), sebaliknya kita sepakat untuk saling menghormati (Q.S.Al-Kafirun[109]6).

Oleh sebab itu, dengan segenap hati dan jiwa; serta kekuatan akal budi; kita komitmen dalam iman. Di antaranya adalah dengan mengasihi sesama manusia.Dalam banyak sabda Rasulullah saw, kita mendapati bahwa mengasihi sesama; bahkan terhadap orang yang telah berbuat buruk kepada kita; merupakan karakteristik orang beriman. Maka berlomba-lomba sajalah dalam kebaikan (Q.S.Al-Baqarah[2]:148; Al-Maidah[5]:48] daripada membuat gelap dan kisruh dunia,
Iya, kita telah mendapatkan pelajaran dari para utusan Tuhan agar kita menjadi manusia baik.

Kita berusaha menjadi terang dunia. Perkataannya adalah kebenaran (Q.S. An-Nisa’[4]:8,9,63), perbuatannya manfaat dan maslahat (Q.S. Al-Ahzab[33]:70-71; Al Hajj[22]:77); dan itulah identitas kita yang sebenarnya. Hendaknya terang kita bercahaya di tengah manusia, meski sekadar lilin yang sangat kecil.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *