Misteri Kasih Ibu

by -729 views

Oleh : H Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Jean Fleming menulis buku, A Mother’s Heart atau Hati Seorang Ibu. Sebagai seorang Kristiani, ia memandang perlunya melihat peran ibu sebagai tugas Ilahiah. Prinsipnya seorang ibu harus merawat anak dengan nilai-nilai Ilahiah. Cara pandang ini memberikan satu gambaran bahwa domestikasi seorang ibu merupakan suatu posisi yang sangat agung dan mulia. Saya kira, pandangan Jean Fleming juga mewakili persepsi setiap agama terhadap ibu.

Kehadiran seorang ibu pada masa kecil dan seluruh tahapan sebelum bersekolah penting karena anak-anak memperoleh lebih banyak pengetahuan pada masa lima tahun pertama dari pada dalam periode kehidupan yang manapun. Para ahli berpendapat bahwa 85% dari karakter seorang anak dikembangkan dalam tahun-tahun pertama sebelum usia 5 tahun dan cara anak itu dibesarkan dalam tahun-tahun pertama paling sedikit menentukan 20 angka dari IQ-nya.

Melalui pengajaran yang berkesinambungan dan keterlibatan pribadi yang kuat seorang ibu dapat terus mengasihi dan menguatkan anaknya. Keterlibatan ibu juga dapat menafsirkan, mengubah, memperkuat, atau memperkecil pengaruh yang lain. Namun saat, ibu memilih tidak berada di rumah, tempat mereka di hati anak-anak bisa bergeser.

Di tahun 60-an orangtua (khususnya ibu) berada di urutan pertama dalam kehidupan anak-anak. Namun kemudian, teman-teman dan media elektronik memiliki pengaruh tertinggi dalam kehidupan mereka. Teman-teman, televise, dan musik semuanya telah memberi dampak yang semakin berpengaruh. Dan kini, ponsel semakin berpengaruh dalam kehidupan mereka.

Hal tersebut terjadi karena semakin sedikit orangtua yang terlibat dalam mengevaluasi kegiatan yang dilakukan anak-anak remaja mereka di waktu senggang dan dalam menyelidiki pilihan-pilihan yang bermanfaat terhadap kecenderungan-kecenderungan mereka.

Secangggih apapun, ponsel tak dapat menggantikan peran orangtua (khususnya ibu). Sekuat apapaun pengaruhnya, ponsel tetaplah benda yang bisa dimatikan oleh manusia. Maka, anak-anak perlu merasakan kehadiran, kasih sayang dan pertolongan orangtua pada waktu mereka mengambil keputusan sepanjang tahun-tahun mereka menginjak masa dewasa.

Setiap anak merupakan pribadi unik yang berasal dari kuasa Allah. Kita diperintahkan Allah untuk melihat “kasih-ibu” sebagai tanggung jawab. Seorang ibu seakan-akan adalah ‘gambaran’ sifat ketuhanan. Ia mengasihi, tidak cepat murka, mengampuni dan memahami dalam seluruh duka lara anak-anaknya. Ketika anak-anaknya berharta, dia tak ingin apa-apa.

Ketika anak-anaknya miskin, ia memberi tanpa batas. Bahkan ketika anak-anaknya durhaka, ia tetap mengampuni dan mengasihi. Seorang ibu tidak akan meneteskan air mata pada saat dirinya mendapatkan kedzaliman yang paling sadis sekalipun. Tetapi, bila anaknya disakiti, air matanya akan meretas menyusur celah-celah taman kasihnya.

Menjadi seorang ibu merupakan peranan penting yang dipercayakan Allah kepada banyak perempuan. Anak merupakan hadiah dari Allah. Dalam Bahasa Yunani terdapat kata “phileoteknos.” Kata ini secara khusus menyatakan “kasih-ibu.” Ide yang terkandung dalam kata ini antara lain “lebih menyukai” anak-anak kita, memperhatikan dan membesarkan mereka; memeluk mereka dengan kasih sayang, mencukupi kebutuhan mereka, dan berteman dengan lemah lembut.

Tuhan memerintahkan para ibu maupun ayah melakukan beberapa hal antara lain : berada di hadapan anak-anaknya, terlibat dalam hidup anak-anaknya (berinteraksi, berdiskusi, memikirkan dan memproses kehidupan bersama-sama); mengajar kebenaran firmanNya (pandangan dunia yang kitabiyah); mendidik (menolong anak mengembangkan keterampilan dan menemukan kekuatannya); mendisiplinkan (mengajarinya takut akan Tuhan, menentukan batas secara konsisten, penuh kasih dan ketegasan); membesarkan ( menyediakan lingkungan di mana anak bisa merasakan adanya dukungan secara lisan yang konstan, ruang untuk diperbolehkan gagal, adanya penerimaan, kemesraan, kasih yang tanpa syarat).; memberi teladan dengan integritas (hidup sesuai dengan apa yang diajarkan, menjadi teladan yang dapat dijadikan contoh oleh anak dengan “menangkap” esensi dari kehidupan yang saleh).

Mungkin tidak setiap perempuan menjadi seorang ibu. Namun demikian, mereka yang diberkahi Allah untuk menjadi seorang ibu harus menerima tanggung jawab itu dengan serius. Artinya, para ibu memiliki peranan yang unik dan krusial dalam hidup anak-anak mereka. Sebagaimana ibu mengandung, memberi makan, serta mengasuh anak pada masa bayinya; para ibu memiliki peranan yang berkelanjutan dalam hidup anak-anak mereka, ketika remaja, dewasa muda dan bahkan anak yang sudah dewasa. Sekalipun peran seorang ibu harus berubah dan berkembang seiring jaman; namun kasih, perhatian, perawatan, dan dorongan yang diberikan seorang ibu tidak pernah boleh berakhir.

Hati seorang ibu adalah sesuatu yang menakjubkan. Ia merupakan hasil karya-Nya dalam pembentukan hati ibu. Allah “menenun” sendiri para ibu dan hati mereka. Ucapan “Selamat Hari Ibu” dalam kartu dan media lainnya, menawarkan berbagai kategori tentang hal ini. Hollywood menghabiskan jutaan dollar untuk menggambarkan hal itu di layar film. Film-film India (Bollywood) juga sarat dengan kisah ibu. Juga teks-teks kehidupan keluarga mulai dari yang ortodoks sampai yang paling modern, bercerita tentang ibu, namun mata air dari hati seorang ibu masih misterius.

Seorang bayi yang lahir nan suci dan dalam kasih-Nya, menggambarkan hubungan kasih antara ibu dan anak. Hubungan ini juga merujuk bagaimana seorang anak sepenuhnya puas dan hanya menikmati kedekatan dengan ibunya. Anak tidak ingin yang lain lebih dari kehadiran ibunya. Dalam buaian sang ibu: adalah waktu tenang penuh kasih. Dan dalam seluruh kasih sayang ibu, tergambar kekuatan yang besar dari hubungan yang dekat. Dari sisi inilah barangkali mengapa Nabi memerintahkan penghormatan setinggi-tingginya kepada ibu.

Sedewasa apapun, manusia di hadapan ibu tetaplah seorang anak yang membutuhkan penghiburan. Ibu menjadi sumber penghiburan, Melalui kebaikannya, pengampunannya, dan belas kasihannya yang tiada akhir, anak bisa sepenuhnya mempercayai Tuhan. Rahmat Tuhan mudah dikenali dalam diri seorang ibu.
Keibuan jelas merupakan salah satu panggilan hidup yang paling kompleks dan sukar. Suatu pengumpulan pendapat di antara wanita menunjukan kesamaan pandangan bahwa membesarkan anak dengan tepat membutuhkan kepintaran dan dorongan seperti menjaga posisi puncak dalam bisnis atau pemerintahan. Dan tugas itu terutama jatuh dipundak ibu selama 6 tahun kehidupan anak. Bahkan setelah itu, hubungannya dengan anak tetap penting untuk berlanjut daripada ayah.

Walau ayah pemimpin dalam rumah, ibu yang mengatur coraknya. Banyaknya waktu anak-anak bersamanya memberi dampak seumur hidup atas hidup mereka. Mereka menjadi seperti apa yang diinginkan ibunya. Dia menghadapi tantangan mulia untuk membentuk hidup anaknya dikekekalan. Keibuan merupakan salah satu kehormatan hidup tertinggi, dan salah satu tanggung jawab terberat. (why)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *