Bukan Soal Menang Kalah

by -767 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Rabu, 9 Desember 2020 sebagian besar pemilih telah mencoblos pilihannya masing-masing. Sebelum mencoblos di TPS, beberapa teman ada yang menucapkan “Selamat Mencoblos,” Ada juga yang mengucapkan, “Selamat Menusuk”.

Sama saja, mencoblos atau menusuk. Prinsipnya memilih pemimpin melalui pemungutan suara rakyat yang direpresentasikan dengan mencoblos salah satu pasangan calon pemimpin.

Mencoblosnya cukup satu kali. Kalau lebih dari satu kali, tidak sah. Kalau berkali-kali kesannya ; pemilih tidak tahu, terlalu bernafsu, terlalu benci atau mungkin gemes pada gambar pasangan calon kepala daerah ; sehingga ‘membabi buta’ mencoblos. Demikian pula yang tidak dicoblos ; mungkin bingung. Padahal, lebih membingungkan bila tidak ada pemimpin dan pemerintahan.

Lojiknya; bila tidak tahu, bingung, terlalu benci dan cinta memang tidak baik ; bahkan secara hukum tidak sah. Itulah sebabnya, rakyat harus tahu, tak perlu terlalu bingung, benci dan cinta pada calon pemimpin. Terlalu benci dan cinta pada calon tertentu tidak baik.

Bila ada perbedaan pandangan, ya hanya satu yaitu perbedaan memilih pasangan pemimpin. Tidak perlu dibawa kemana-mana. Dalam kehidupan sehari-hari akan ada ratusan hal yang harus dijalani. Misalnya berjemaah shalat, berdagang, menjenguk orang sakit, mengantar anak sekolah, bekerja dan sebagainya. Apakah akan membawa perbedaan pilihan itu sampai menimbulkan kebencian sampai mati ?

Kehidupan sehari-hari tidak melulu coblosan. Kalau pun kita memilih salah satu pasangan calon pemimpin ; ini bukan soal kalah menang. Tetapi soal keberpihakan dan kepercayaan untuk memberikan amanat mengurus rakyat (kita semua) dalam urusan kehidupan bermasyarakat.

Bagi yang terpilih berarti dia mendapatkan amanat dan dianggap mumpuni melaksanakan amanat dan harus bertanggungjawab kepada Allah. Padahal soal tanggungjawab ini, pun tidak melalu sebagai pemimpin. Semua hamba Allah bertanggungjawab atas taklif (beban) masing-masing.

Maka, alat ukur ‘kepemimpinan’ sesungguhnya bisa dilihat pada dua hal yaitu kemampuan kita dalam melaksanakan amanat (kewajiban) agama (Q.S. Al-Anfal[8] :27) ; dan menuanikan kepercayaan yang diberikan orang/pihak lain.
Ibadah kepada Allah merupakan amanat yang sangat besar pada diri kita. Apapun status kita, kedudukannya sama, yaitu sebagai hamba Allah yang harus beribadah kepadaNya (Q.S. Al-Baqarah[2] :22) ; Q.S. Adz-Dzariyat[51] :56) dan mewujudkan nilai-nilai Ilahiah di muka bumi. Oleh sebab itu, selain manusia tidak ada yang sanggup melaksanakan amanat ini (Q.S.Al-Ahzab[33]:72).

Apalagi, urusan ibadah kepada Allah bukan sekadar doa, melainkan semua aspek kehidupan. Maka, jika manusia tidak beribadah kepada Allah, berarti ia khianat.

Dalam hal kita memperoleh kepercayaan dari orang lain, kita pun wajib menunaikan amanat, yaitu memberikan kepada yang berhak (Q.S. An-Nisa’[4]:58. Takaran dan ukuran yang harus diberikan kepada yang berhak, harus tepat (Q.S.Al-A’raf[7]:85).

Bila tidak, berarti dzalim (khianat). Amanat demikian, terkait dengan amanat dalam setiap aspek hubungan manusia sehari-hari (mu’amalah) dalam pekerjaan, transaksi, perdagangan, urusan harta benda dan sebagainya.

Kedua hal tersebut pada prinsipnya melekat dalam diri kita. Nabi Muhammad saw, menyatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin, dengan tanggung jawabnya masing-masing. Seorang pejabat, direktur, manajer, seorang ayah sekaligus suami, seorang ibu sekaligus isteri, tuan dan rakyat; semua akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat atas apa yang dipimpinnya.Maknanya adalah setiap orang akan diminta pertanggungjawabnya menurut kapasitas, beban dan tanggungjawabnya.

Pemimpin mengemban kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin mengemban tanggungjawab dan amanat besar. Betapa tidak, karena upaya mewujudkan cita-cita menuju kesejahteraan dan keadilan itu ada pada kebijakannya. Nasib bawahan terletak pada kebijaksanaan dan kearifan seorang pemimpin.

Nasib rakyat ada pada kebijakan pemimpinnya. Di sinilah letak jihadnya, yaitu bagaimana mencegah bahaya (madharat) orang-orang yang ada dalam perlindungannya (daf’un ma’shumun an al-dharuri). Sebaliknya bila kepemimpinan justru membahayakan, merugikan dan menimbulkan kedzaliman niscaya akan mendapat murka Allah dan kesulitan di akhirat.

Rasulullah saw, bersabda,” Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.”(HR. Baihaqi).

Dan suatu ketika ‘Aisyah radiyallahu anha mendengar Rasulullah saw, berdoa,” Wahai Allah, siapa pun yang mengurus urusan umatku kemudian ia bersikap lembah lembut terhadap mereka, maka sayangilah ia, dan siapa pun yang mempersulit (urusan) mereka, maka persulitlah ia. (H.R Muslim). Adapun ridha dan rahmat Allah bagi siapapun yang melaksanakan amanat.

Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat kedudukannya dari Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan manusia yang paling Allah murkai dan paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang  zalim. (HR  Tirmidzi).

Dalam pemilihan pemimpin, pemimpin yang ditetapkan hanya satu dan pada akhirnya harus menjadi pelayan public; pelayan untuk semua. Merujuk pada kepemimpinan para salafussalih, menjadi pelayan publik pada hakekatnya penting bagi setiap pemimpin. Pelayanan bagi publik dari seseorang yang terpilih serta merta harus melandasi tindakannya pada sikap etis, tanggungjawab dan akuntabel.

Kita sudah mencoblos (atau menusuk) dan harus kembali kepada kehidupan sebagaimana biasanya. Dengan ini maka apapun latar belakang dan pilihan kita, kita tetap harus berpatisipasi menurut kapasitas yang dianugerahkan-Nya. Allah perintahkan kita untuk tetap beribadah dan berbuat baik dalam keadaan apapun dan dengan siapapun.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (TQ.S. Al-Hajj[22]:77)
Kita mengerti bahwa menjadi pemimpin bukan soal menang kalah; berkuasa atau tidak; melainkan soal tanggungjawab kepada Allah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *