Guru Kehidupan

by -2,159 views

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Dalam pendidikan perikehidupan, tidak semua orang bisa menjadi guru. Belajar hidup, bisa diperoleh dari siapapun. Terutama dari orang yang telah memiliki pengalaman hidup. Namun demikian, pengajar atau pendidik di lembaga pendidikan, juga bisa ‘menyatakan’ diri sebagai guru kehidupan. Kemampuannya memberikan visi kehidupan dan menjalani kehidupan pribadinya, dapat menjadi pelajaran berharga bagi murid-muridnya.

Bagi seorang murid. Anggap saja kita semua adalah murid ; perlu mempelajari perikehidupan orang-orang terdahulu. Misalnya, kita pelajari kehidupan para Nabi, Tujuannya, untuk mengambil pelajaran dalam menjalani kehidupan. Kita belajar sejarah para Nabi untuk mengerti pribadi dan kehidupan mereka, khususnya Nabi Muhammad saw..

Beliau adalah seorang guru berotoritas. Bukan hanya sebagai pengajar biasa, melainkan pembimbing rohani (spiritualitas). Nabi Muhammad saw. membimbing sahabat-sahabat (murid-muridnya) dengan Kitab Suci yang berisi ajaran hidup yang sangat komprehensif. Dengan Kitab Suci yang disampaikan melalui ucapan, sikap dan perbuatan rasul-Nya, kita menerima informasi mengenai cara hidup.

Nabi Muhammad saw. mengajar para sahabat (muridnya) untuk mengenal, mengerti, memahami bahkan mengalami relasi yang indah dengan Allah. Mula-mula adalah tentang tauhid (keyakinan tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah). Ajaran ini merupakan ajaran semua utusan Allah. tidak berubah sampai hari kiamat. Dalam situasi apapun, guru seharusnya mengajarkan murid-muridnya menyembah hanya kepada Allah. Bukan lainnya (berhala, jabatan, dunia, kekayaan, nama diri dan sejenisnya).

Nabi Muhammad saw memperjelas arti, dimensi dan dinamika tentang kehidupan dunia dan akhirat. Yakni, melalui pengajaran langsung, perumpamaan, kisah umat terdahulu, logika, tanda-tanda kekuasanNya di alam semesta, bahkan melalui perbuatannya sehari-hari.

Nabi Muhammad saw sangat menekankan pentingnya iman dalam kehidupan manusia. Beliau mengajarkan keimanan dan amal shalih.
Nabi juga mengajarkan banyak perkara mengenai manusia; keadaan, asal mula dan tujuan akhir dari kehidupan. Mengajak manusia mengenal kekuatan dan kelemahannya serta menerima kasih Allah agar bermakna dan berharga.

Manusia harus mengutamakan Allah dalam hidupnya, serta menjadikan-Nya di depan setiap langkahnya, agar hidupnya menjadi terarah dan berarti. Manusia tidak hanya diperintah menaati Allah tetapi juga mengasihi dan menghormati sesamanya sebagaimana pada diri sendiri.

Ajaran Nabi tidak saja menyangkut soal dogma atau doktrin. Beliau memberikan pengajaran berkaitan dengan ibadah seperti misalnya doa, memberi sedekah, shalat, berpuasa, dan kehidupan bermasyarakat. Nabi tidak menginginkan orang beribadah hanya secara lahiriah; namun batiniyah.

Nabi mengajarkan umatnya agar tidak membatasi ibadah kepada hal-hal ritual melainkan juga pada perbuatan baik secara nyata. Relasi yang baik dengan Tuhan, juga harus mewujud dalam relasi yang baik dengan sesama.

Dengan cara itu pula, beliau mendidik para sahabat bagaimana menggunakan harta, kekayaan, dan waktu secara kreatif bagi Allah dan sesama hambaNya. Beliau tidak mengajarkan agar orang diperbudak harta, kekayaan dan sejenisnya, melainkan memahami nilai harta (uang) dari sudut pandang Ilahiah. Harta (uang) harus digunakan untuk menyatakan tanggung jawab terhadap Tuhan. Dunia bukan tujuan, tetapi jalan menuju akhirat.

Hubungan antara diri dengan para sahabatnya bagaikan pohon dan buahnya. Beliau ingin besemayam di hati murid-murid. Sebaliknya para murid harus menempuh jalannya, dalam sunnah dan firman-Nya sehingga hidup mereka berbuah banyak (bermanfaat) Seorang guru seharusnya memahami hal ini sehingga dapat menyatakan kepada murid-muridnya bahwa jiwa mereka ada di tengah-tengah kehidupan mereka.

Ada ungkapan ruh al-mudarris ahammu min kulli syai-in (jiwa seorang guru lebih penting daripada semuanya). Hal ini menunjukkan bahwa murid hendakanya merasakan kehadiran jiwa guru pada dirinya dalam segala keadaan. Metode dan materi pelajaran penting, namun jiwa yang terpusat pada Tuhan, merupakan spirit pendidikan kemanusiaan. Jadi, jiwa guru memang idealnya berpusat pada Tuhan.

Sebagai pedoman hidup guru, Kitab Suci pasti menyatakan, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harus bernilai ibadah. Dengan demikian para guru patut memahami, bahwa perannya sebagai pendidik dan pengajar mestilah untuk ibadah. Hasratnya yang paling dalam ialah menuntun anak didik mengenal Allah dan ciptaanNya. Sekali pun bukan guru agama, namun kerinduannya ialah anak didik dapat mengenal Allah serta memahami perkataan, sikap dan perbuatan rasulNya. Jadi jangan menyerahkan pelajaran ini hanya kepada guru agama. Sebab kehidupan yang dialami guru adalah juga pelajaran bagi murid-muridnya.

Sang Nabi adalah Guru Kehidupan sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan. Dialah sosok ideal yang harus kita tiru; pembimbing rohani dengan cahaya Ilahiah untuk membantu menjernihkan arah ke mana pribadi-pribadi (dan umat) melangkah. Jadi, seorang guru idealnya juga menyatakan spiritualitas. Yaitu, hidup berdasarkan nilai-nilai Ilahiah (berdasarkan firman-firmanNya), mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih. Spiritualitas diperlukan sebagai usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan ke dalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman kepada Allah. Spiritualitas atau kehidupan rohani mencakup seluruh kehendak orang beriman dan tampak sebagai buah  keimanan dalam doa, kegembiraan, pengorbanan dan pelayanan sesama manusia.
Bukan hanya menjadi teladan kita (Q.S. Al-Ahzab[33]:21);

Rasulullah juga adalah pribadi sempurna yang mampu menanamkan benih kesempurnaan dalam diri kita, agar kita hidup sempurna sebagaimana kehendak Allah. Di dalam kehidupan Rasulullah kita menemukan keutuhan hidup. Melalui rasul-Nya kita mengerti dan memahami makna sesungguhnya menjadi manusia. Bahwa kita mampu mengerti hal demikian karena rasul-Nya merupakan Guru Kehidupan.

Tugas mengajar kehidupan, bisa ada pada orangtua serta guru-guru di sekolah/lembaga pendidikan. Dan guru kehidupan yang terdekat adalah orangtua.Wallāhu a’lam bi al-shawāb[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *