Takbir, Tapi Takabur

by -397 views

Oleh : H Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Takabur (sombong) muncul ketika seseorang merasa diri mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Dia pun tidak menyadari bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah. Dengan kelebihannya, juga timbul perasaan bangga berlebihan.

Misalnya ketika memiliki popularitas yang tinggi, pengikut yang banyak, tak ada yang berani menasehati, dieluka-elukan banyak orang, tepuk tangan yang gemuruh atas kehebatan, penghormatan umat, kekayaan dan sebagainya.

Demikian halnya seseorang bisa menjadi sombong ketika membandingkan dengan orang lain; karena penampilan fisik, kemampuannya dalam bidang tertentu, prestasi, posisi, relasi dan sebagainya Ironisnya ilmu agama pun berpotensi menjadikan orang sombong, merasa lebih suci dan tahu pada perkara rohani; apalagi saat memiliki pengikut atau jemaah yang banyak. Pendek kata, setiap orang rentan dengan kesombongan.

Dalam kenabian ‘Isa al-Masih dikisahkan sekelompok orang yang meninggikan dirinya. “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Padahal Allah membenci orang yang sombong dan akan merendahkan orang yang sombong ((Lukas 18:9-14)).

Hal tersebut tampak suatu keshalihan; namun sejatinya merupakan kesombongan. Oleh sebab itu, hati-lah yang mengetahui keadaan diri sendiri. Meskipun mulutnya mengatakan,”Saya menyampaikan kebenaran,” bisa jadi sesungguhnya ada getaran hati untuk menunjukkan kesombongan. Maka, penting melihat diri sendiri apakah ada getaran sombong atau tidak. Diri sendiri (hati) bisa mengakui apa yang tergetar dalam hati dan dilakukan anggota badannya (Q.S. Al-Qiyamah[75]:14-15; An-Nur[24]:24).

Kesombongan merasuki banyak orang.  Mereka yang berhasil di berbagai bidang; terjebak dalam kebanggaan diri. Bangga terhadap kekayaan, uang, jabatan, kepemimpinan dan sebagainya sehingga muncul kesombongan.  Kebanggaan diri ini tidak hanya terjadi pada orang-orang yang tidak beriman, tetapi juga melanda banyak orang yang beriman. Bahkan tidak sedikit para “Pelayan Tuhan” juga merasa diri sangat penting (bangga) di tengah-tengah jemaah.

Berbagai karunia yang ada pada diri seseorang bisa jadi menggunung sebagai suatu ‘kebesaran’ dan ‘kemuliaan’, hingga lupa bahwa semua itu mungkin bukan kemuliaan tetapi suatu ‘jebakan’ dari Allah. Dia lupa mengembalikan semua karunia sebagai pemberian Allah dan menjadikannya untuk semakin merendah di hadapan Allah dan manusia. Sebaliknya, untuk kebanggan diri dan merendahkan orang lain baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Kita menjumpai banyak orang yang memperoleh karunia lebih dibanding orang lain; dengan mudah berubah hati, sikap, ucapan dan perilakunya. Semula sangat baik, rendah hati, ramah, kemudian berubah menjadi kasar dan sombong, lupa kebaikan dan jasa orang lain; tidak lagi ramah, suka mencela, mencemooh, mengumpat, melaknat dan melihat orang lain berdasarkan kelas sosial. Bila tidak sekelas dan selevel; abai, menghindar bahkan merendahkan, mengolok-olok, menghina dan semacamnya.

Yang sangat disesalkan, banyak hmba Allah yang berilmu tinggi juga turut hanyut dalam keangkuhan ini. Lebih-lebih yang secara luar biasa diposisikan sebagai ‘wakil Tuhan’ dengan berbagai karunia yang dimiliki seperti ilmu agama, ketokohan, dan sejenisnya. Akhirnya (tergoda) untuk merasa paling besar dan diberkahi dengan jumlah jemaah, murid, nama besar, kekuasaan dan sebagainya.

Kita lupa bahwa apa pun yang kita kerjakan tidak akan berhasil jika Tuhan tidak turut bekerja di dalamnya. Kita lupa bahwa semua kenikmatan yang kita terima diminta pertanggungjawabnya (Q.S. At-Takatsur[102]:1-7].

Kita lupa bahwa kita hanya seorang hamba Allah (‘abdullah) yang hina. Orang yang sombong mengagumi dirinya secara berlebihan. Orang yang memiliki sifat ini tidak mengembalikan karunia, keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki tersebut kepada Allah SWT” Sifat ini tercela di hadapan Allah, meskipun hanya ada di dalam batin (hati).

Bagaimana kita mengetahui kalau dalam diri kita sudah mulai timbul kesombongan?
Sombong selalu berpusat pada diri dan senang kalau orang lain mengalami kehinaan. Kesombongan selalu berusaha menarik perhatian pada diri sendiri dalam pembicaraan atau situasi, sering dengan mengorbankan orang lain. Kesombongan melihat orang lain lebih rendah. Kesombongan bahkan membuat orang tidak menghormati Tuhan dan mencuri kemuliaan-Nya.

Kita memerlukan kepekaan dari Tuhan untuk menyadari dosa ini.  Seorang muslim yang takbir (mengagungkan Allah) seharusnya merasa rendah dan hina di hadapan Allah. Hanya Allah yang pantas sombong karena Allah Pemilik langit dan bumi beserta apa yang ada di antaranya.

Kepunyaan Allah segala yang ada di langit dan di bumi; dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. (Q.S Al Imran[3] : 109), Maka, “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.,S. Luqman [31]:18).

Maka, semakin sering takbir, seharusnya semakin tersungkur di hadapan Allah dan rendah hati di hadapan sesama manusia. Untuk apa mengagungkan diri, tokh belum tentu agung di hadapan Allah. Bahkan ketika amal shalihnya banyak, belum tentu juga Allah menerima ibadahnya.

Manusia sering lupa diri di hadapan Allah.  Lupa bahwa semuanya berasal dari Allah, dan Allah bisa mencabut semua karunia seketika. Para Nabi mencontohkan bagaimana seharusnya kita merasa hamba Allah. Hina di hadapan Allah. Hanya Allah Yang Maha Agung.

Contoh Nabi Daud. Meski sebagai raja, Nabi Daud sepenuhnya sadar dan tidak lupa akan hal ini sehingga dia mengakuinya. Ia berkata, “Ya Tuhan, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!”  (1 Tawarikh 29:11).

Manusia hanyalah ‘hamba’ Allah. Tugas kita adalah menghamba kepada Allah dengan melayani sesama hambaNya; menjadi setara di antara hambaNya; bukan menjadi ‘besar’ sebagaimana Allah.  Keturunan, suku, bangsa, ras dan kemuliaan tak ada artinya apapun di sisi Allah (Q.S. Al-Hujarat[49]:13). Semua keturunan Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Jangan sampai kita sombong, apalagi mencari pujian hormat bagi diri sendiri.

Nabi merupakan teladan betapa rendah hatinya. Padahal Nabi pantas menyombongkan diri, sebab dia memiliki otoritas rohani dan kesempurnaan. Allah memilih, memuji, memuliakan dan menganugerahkan wahyu. Tetapi Nabi terkadang tampak hina di antara orang yang terhina, melayani dengan sepenuh hati, rela mengorbankan diri untuk keselamatan pengikutnya.

Percuma gelar setinggi langit, status kemuliaan seluas samudera, populaitas membentang cakrawala dan pengikut berjubel bagai butiran pasir, bila di dalam hatinya tumbuh kesombongan (takabur). Sungguh rugi, bila kita takbir tapi takabur. Rasulullah saw. bersabda, ”Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i). Iblias termasuk makhluk yang hebat, namun akhirnya dilaknat Allah.

Orang yang sombong akan direndahkan Allah di akhirat.”Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali; bahkan sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau.” (Obaja 1:4-5).

Dan saat kematian tiba, semua manusia disebut sebagai ‘jenazah.” Tak seorang pun yang disebut dengan statusnya. Kemudian dikubur, dibiarkan tergeletak di liang lahat dan dilupakan orang. Kesepian di dalam kubur; menunggu tibanya Hari Perhitungan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *