Menjaga Sensitifitas Umat Beragama

by -2,512 views

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Umat Islam sepakat bahwa Nabi Muhammad saw. telah meletakkan dasar-dasar politik kenegaraan dan keumatan yang sangat penting bagi keutuhan masyarakat. Beliau membangun etika dan tanggungjawab bersama dalam masyarakat Madinah yang dikenal dengan Piagam Madinah (Mitsaq Al-Madinah). Piagam ini memuat tentang wawasan kebebasan, kebangsaan, tanggung jawab warga dalam pembelaan negara dari ancaman musuh, dan penguatan serta pemberdayaan komitmen sosial, politik, dan hukum.

Namun di kemudian hari, umat Islam saling memperebutkan kekuasaan. Dalam situasi ini agama dan kepentingan politik terkadang tidak jelas batasannya. Alih-alih agama sebagai moralitas berpolitik, justru dijadikan komoditas politik. Lahirnya dinasti-dinasti yang berkelahi, menunjukkan bahwa ambisi kekuasaan mengalahkan persaudaraan, kehormatan umat beragama dan nalar keagamaan.

Dalam perebutan kekuasaan, ada kalanya mengusung isu-isu perbedaan pemikiran keagamaan atau ikhtilaf. Isu-isu diolah sedemikian rupa, dicarikan pembenaran untuk saling mengutuk, melaknat dan akhirnya berkelahi.

Dunia Islam, yang sama-sama mengakui bahwa Nabinya diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin dan konsep ideal bangunan masyarakat telah dipraktikkan di Madinah. Namun peperangan hampir tidak pernah berhenti, terutama di Timur Tengah. Umat manusia sepertinya tidak siap dengan konsep masyarakat sipil (civil society) atau pun masyarakat madani yang digagas Nabi Muhammad saw.

Robert Neelly Bellah menyebut, “Masyarakat Madinah yang dibangun Nabi merupakan masyarakat modern, bahkan terlalu modern sehingga setelah beliau wafat (idealitas ini), tidak bertahan lama. Saat ini, Timur Tengah dan umat manusia belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti yang dirintis Nabi saw.”

Dalam politik kekuasaan yang rumit, perselisihan antar kelompok bahkan Negara memiliki sejarah tersendiri. Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu dibunuh oleh Piruz Nahwandi atau Abu Lu’luah al-Majusi, seorang Persia yang berambisi membalas dendam kekalahan Persia (Kekaisaran Sasaniyyah) di tangan pasukan Umar bin Khatab. Abu Lu’luah menjadi agen khusus yang menyusup ke Madinah untuk memuluskan dendamnya. Sehari-hari ia menjadi budak Al-Mughirah bin Syukbah, salah seorang sahabat Rasulullah yang memimpin Bashrah.

Utsman bin ‘Affan radiyallhu ‘anhu dibunuh secara tragis oleh demonstran Banu Sadus. Mereka mencekik leher dan menebas utsman dengan pedang, hingga darahnya menetes pada mushaf yang sedang dibacanya. Sang pembunuh berkata,”Demi Allah, aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih lembut dari lehernya. Aku telah mencekiknya, hingga aku melihat nafasnya seperti jin yang mengalir di tubuhnya.”

Di kemudian hari fitnah di kalangan umat Islam silih berganti antara yang diklaim pro Utsman dan anti-Utsman. Di kemudian hari, ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu dibunuh oleh Abdurrhman bin Muljam di Masjid Agung Kufah.

Dalam konteks ambisi kekuasaan, para Khalifah yang adil dan sederhana; yang merelakan hidupnya untuk Allah; Umar bin Khatab, Utsman bin ‘Affan, ‘dan ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhum dibunuh. Bahkan cucu kesayangan Rasulullah saw., Hasan dan Husain juga dibunuh. Mereka adalah keluarga Rasulullah saw. Di masa hidupnya Rasulullah saw. mengalami pelecehan, penghinaan dan perendahan dari kaum msuyrik. Sesudah wafatnya, keluarga beliau dibunuh.

Disamping itu juga disebabkan provokasi kaum munafik yang pengadu domba dan memcah belah serta dendam pribadi seseorang atau kelompok tertentu. Ustman bin ‘Affan adalah sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw., ‘Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah saw., Mu’awiyah bin Abu Sufyan adalah sepupu Utsman bin Affan ; namun akibat fitnah yang sangat keji dari kaum Khawarij mereka berselisih ; Bahkan kelak Yazid bin Mu’awiyah berperang dengan Hasan-Husain hingga kedua cucu kesayangan Rasulullah saw. ini syahid di Karbala.

Fakta ini dapat dipastikan bukan untuk kemuliaan agama; akan tetapi lebih pada kekuasaan. Alangkah bahaya gila kekuasaan dan dunia, provokasi dan fitnah kaum munafik. Alih-alih membela agama, justru merusak dan menghancurkan umat beragama. Ironisnya, kaum munafik ini sangat sulit dikenali. Sebab, kaum munafik mampu melakukan aneka kamuflase dalam dinamika sosial-politik. Kaum pemecah belah menggunakan sensitifats keagamaan untuk memancing amarah kelompok agar terjadi kekacauan dalam masyarakat maupun Negara.

Sekarang pun bisa saja isu-isu agama diolah sedemikian rupa untuk kepentingan politik kekuasaan. Tak peduli olahannya itu benar atau salah, asal sesuai dengan nafsu kekuasaan. Bila tidak hati-hati pasti menimbulkan kebencian, permusuhan dan perlawanan. Sensitifikas keagamaan ini sangat mengerikan akibatnya. Bukan hanya antara kelompok; antara Negara pun bisa berantem dikarenakan isu-sisu agama. Apalagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang luar biasa ini, sangat rentan apabila kita tidak sungguh-sungguh menjaga sensitifitas suku, agama dan ras (SARA)..

Oleh sebab itu wajib (i) menghindari apapun hal-hal yang menyinggung perasaan umat beragama. (ii) meningkatkan ilmu agama; memahaminya secara utuh didasarkan karena Allah.; (iii) menghindari pemahaman agama untuk claim truth (klaim kebenaran) atas pendapat dan aliran pemikirannya sendiri; (iv) menggunakan agama untuk mengontrol dan mendasari kehidupan; (v) menggunakan agama sebagai dasar menaati Allah dan rasulNya, bukan untuk merebut dan meraih kekuasaan..

Kalaupun terdapat sekolompok orang yang memancing amarah dengan sentiment keagamaan; maka satu-satunya cara adalah meneladani sikap Nabi Muhamad saw. Sangat penting memberi pelajaran untuk menghormati perasaan umat beragama agar peradaban tidak dikuaasi oleh pemuja kebebasan mutlak atau kaum pemuja kekuasaan.

Hal tersebut bisa dimengerti karena kelompok-kelompok yang mengandalkan ‘sentiment’ agama tanpa ilmu, akan sangat mudah ‘termakan’ isu-isu keagamaan. Apalagi yang menyatakan isu-isu adalah para tokoh yang dinggap panutan; sedangkan kaum pengikut tidak menyadari apa sesungguhnya motif dan tujuan tokoh yang diikuti.

Generasi ilmiah zaman dahulu sejak memberi contoh yang sangat luar biasa. Sekalipun firksi dan perbedaan pemikiran keagamaan sangat dahsyat, namun tidak sampai menimbulkan kehancuran. Justru semakin memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Hal ini menjadi rancu, ketika kaum gila kekuasaan mempergunakan agama sebagai alat untuk merebut kekuasaan atau pun membalas dendam karena kekalahan dalam perebutan kekuasaan.

‘Alā kulli hāl, Allah perintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunah Rasulullah saw. (Q.S.); waspada dan jauhi provokator, penebar fitnah, hoax (Q.S.), jaga damai saat berselisih (Q.S.) dan jadikan agama untuk menempuh ketaqwaan kepada Allah; bukan meraih kekuasaan duniawi (Q.S.Al-A’raf[7]:51) jangan bikin kerusakan di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah[2]:11-12; Al-A’raf[7]:56).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *