Menggambar Kesempurnaan Nabi

by -573 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Gambaran fisik Nabi Muhammad saw. banyak ditulis di dalam sejarah kenabiannya. Namun tidak dengan lukisan atau gambar, apalagi patung. Bahkan, menjadi masalah besar bila ada yang menggambar atau melukisnya; apalagi menjadikannya kartun dan olok-olok. Maka meskipun seni lukis dan patung telah sangat berkembang pada masa Nabi Muhammad saw., namun tak seorangpun yang pernah melukis wajah atau pun posturnya. Bahkan melukis beliau sangat dilarang.

Dengan demikian, deskripsi tentang penampilan dan wajah Nabi Muhammad saw. baik postur tubuh, rambut, dahi, bola mata, bulu mata dan lainnya hanya bisa diketahui melalui tulisan.

Larangan melukis Nabi Muhammad saw. terkait dengan keharusan menjaga kemurnian ‘aqidah kaum muslimin. Sejarah munculnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah ketika kaum Nabi Nuh melukis orang-orang shalih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr. Pada awalnya, lukisan tersebut sekadar untuk mengenang keshalihan mereka. Namun di kemudian hari, generasi berikutnya menjadikan mereka sesembahan. Hal ini bertentangan dengan ajaran seluruh nabi mengenai taauhid.

Di samping itu, gambaran atau lukisan Nabi membuka peluang seseorang untuk menistakannya. Para pembenci dan pemuja kebebasan kreasi-ekpresi tidak bisa membedakan sosok begundal dengan seorang Nabi yang sangat dimuliakan umatnya. Mereka menganggap Nabi hanya-lah manusia biasa. Persepektif mereka tentang manusia hanyalah seonggok daging (fisik) atau hewan yang bisa berbicara (hayawan natiqun). Sehingga moralitasnya lebih pada estetika tubuh; daripada nilai luhur manusia.

Dengan persepktif tersebut, mustahil seseorang mampu memahami kedudukan Nabi di sisi Allah dan umatnya. Apalagi, ditambah dengan motif kebencian. Jangankan seorang manusia biasa, seorang nabi pun akan diolok-olok dan dinistakan sedemikian rupa. Dahulu pun, Nabi Muhammad saw. biasa mendapatkan penghinaan dan tuduhan menjijikan.

Misalnya, Al-Walid bin Mughirah. Sebagai tokoh kaum Quraisy Makkah, dia pernah mengumpulkan masyarakat untuk membuat isu terhadap Nabi Muhammad. Mereka bersepakat menuduh Nabi sebagai orang gila, penyair, dan tukang sihir. Atas konspirasi ini, Allah menurunkan surat Al-Mudatsir[74]:17-22. Ayat-ayat berikutnya dalam surat ini juga menceritakan kebencian kaum Quraisy terhadap Muhammad saw.

Banyak firman Allah yang menyebutkan bahwa kaum kafir menuduh dan melecehkan Nabi sebagai tukang sihir (Al-Maidah[5]:110; Ash-Shaaft[37]:15; Q.S.Shad[38]:4; Az-Zukhrf[43]:30; Al-Mudatsir[74]:24), pendongeng (Q.S. Al-An’am[6]:25; Al-Anfal[8]:31; An-Nahl[16]:24; Al-Mukminun[23]:63; An-Naml[27]:68; Al-Qalam[68]:15; Al-Muthaffifin[83]:13) dan gila (Q.S. Adz-Dzariyat[51]:39,52).

Sudah jamak; bila seseorang benci ditambah iri, maka akan muncul dugaan buruk. Untuk melampiaskan kebencian, bisa saja gambar seseorang yang dibencinya tersebut diludahi, dirobek, diinjak-injak, dibakar dan sebagainya. Bagaimanapun gambar atau lukisan adalah imajinasi yang tidak menggambarkan keaslian, dan belum tentu kebenaran. Bisa dipandang dan diperlakukan sesuai kehendak si pemandang dan pembuatnya.

By the way, kita tidak tahu persis, ketika Walid bin Mughirah, Abu Jahal dan Abu Lahab membenci nabi; apakah karena nabi dianggap menghancurkan ideologi syirknya; ataukah karena takut kekuasaannya di tanah Makkah tercerabut dengan pengaruh Nabi; ataukah karena cemburu Nabi Muhammad memperisteri Khadijah—wanita cantik, kaya raya dan penderma.

Hal yang dapat kita lihat pada sosok Nabi Muhammad saw, antara lain adalah saat penduduk Thaif melemparinya dengan batu dan malaikat Jibril marah hingga ingin meledakkan gunung untuk menghancurkan mereka. Nabi hanya bilang,”Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak tahu.” Nabi justru berdoa agar keturunan penduduk Thaif beriman. Saat Nabi dilempari kotoran unta, rumah nabi dikencingi dan dilempari sampah oleh tetanggannya yang musyrik, Nabi biasa saja. Sebab masih banyak tetangga yang baik dan tidak sombong kepadanya.

Walid bin Mughirah sangat membenci Nabi Muhammad saw, namun puteranya yang bernama Khalid bin Walid merupakan panglima perang Islam yang sangat hebat dan memimpin kemenangan pasukan Islam hingga ke Syam. Dia memperoleh julukan pedang Allah (Saefullah). Jengis Khan, pemimpin Bangsa Mongol adalah penghancur peradaban Islam, tetapi sejarah juga mencatat bahwa dari cucu-cucu Jengis Khan inilah terjadi penyebaran Islam yang begitu luas di dunia.

Salah seorang keturunannya, Batu Khan, meski bukan muslim, namun sangat dekat dan mengasihi umat Islam. Keturunan Jengis Khan lainnya, Hulagu Khan meski kejam kepada umat Islam, namun di akhir hayat dia mempercayakan putra keduanya, Taghudar Khan dalam pendidikan Islam. Tatkala putra pertamanya, Abaqa Khan meninggal, Kerajaan beralih kepada adiknya, yakni Taghudar Khan. Di dalam kekuasaan Taghudar Khan inilah Bangsa Mongol menyebarluaskan Islam ke Persia, China, Asia Tengah dan Eropa Timur.
Akan selalu ada penghina dan pembenci Nabi Muhammad sampai hari kiamat. Tetapi Allah takdirkan akan selalu ada pecinta Nabi Muhammad saw, hingga hari kiamat. Bahkan dari mereka mungkin lahir dari keturunan pembenci. Allah menyatakan bahwa kita akan temukan orang-orang yang memiliki rasa cinta kepada Muhammad saw, dan Islam (Q.S.Al-Maidah[5]:83).

Seandainya pun melukis Nabi Muhamad diperbolehkan, pelukis paling hebat pun tidak akan mempu menggambarkannya secara sempurna. Bagaimana mungkin mampu menggambarkan secara sempurna kekasih yang tak terlihat ? Hanya bayangan saja. Dan bayangan itu sangat mungkin salah. Sedemikian cintanya seorang pelukis kepada yang dicintainya, sampai kapanpun tak akan mampu melukis cintanya dengan sempurna.

Tuduhan menjijikan, pelecehan, cibiran dan penghinaan dari pihak luar, pihak yang tidak mengerti dan belum mendapat hidayah; memang sangat menyakitkan. Tetapi sesungguhnya hal tersebut tidak lebih menyakitkan bila umat Islam tidak sungguh-sungguh mencintai Muhammad saw.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *