Puisi untuk Menghormati Nabi

by -3,398 views

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM – Di antara ragam ekspresi untuk menghormati Nabi adalah dengan membacakan puisi pada saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Pembacaan puisi untuk menghormati Nabi, sangat lazim dilakukan di berbagai belahan dunia muslim. Mereka membaca Al-Burdah (kumpulan syair tentang pujian kepada Nabi Muhammad yang ditulis oleh Imam al-Bushiri dari Mesir), shalawat dan puisi dalam berbagai majelis. Bahkan konser-konser musik mengiringi perayaan Maulid Nabi seperti dilaksanakan di Rusia, Turki, Bosnia dan sekitarnya serta komunitas-kominutas muslim di Eropa dan Amerika.

Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah Al-Burdah juga digelar di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan Al-Burrdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah Pada setiap bab al-Burdah dibawakan dengan lagu khusus dan banyak pula majelis khusus untuk pembacaan Al-Burdah dan penjelasan bait-baitnya.

Tak henti-hentinya muslimin di seluruh penjuru dunia menjadikannya sebagai luapan kerinduan pada Nabi. Al-Burdah bukan sekadar karya puitis. Ia dibaca karena keindahan kata-katanya. Dr. De Sacy, seorang ahli bahasa Arab di Universitas Sorbonne, Prancis, memujinya sebagai karya puisi terbaik sepanjang masa. Salah seorang ulama Nusantara, Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani juga menggubah bait kelahiran Nabi Muhammad berjudul Al-Ibrȋz al-Dānȋy fȋ Maulidi Sayyidinā Muhammadin al-Sayyid al-‘Adnānȋy.

Beberapa masjid di Tiongkok yang dibangun atas perintah Kaisar Hongwu (Zhu Yuanzhang 21 Oktober 1328-24 Juni 1398; Kaisar pertama Dinasti Ming ) memiliki semacam plakat yang bertuliskan puisi dan ditulis oleh Kaisar Hongwu. Sang Kaisar menyanjung Nabi Muhammad dalam naskah yang dikenal dengan The Hundred Words Eulogy (Pujian 100 Kata) atau Baizian. Isinya antara lain sebagai berikut :
//Sejak penciptaan alam semesta,// Allah telah menunjuknya sebagai //pemimpin keyakinan yang agung,//Dari Barat ia lahir, //Menerima Kitab Suci, //Buku dari tiga puluh bagian, //Untuk memandu semua ciptaan,//Tuan dari semua Penguasa, //Pemimpin di antara orang-orang yang suci//Dengan dukungan dari langit, //Untuk melindungi umat-Nya,//Yang mengerjakan ibadah lima waktu, //Dalam diam berharap perdamaian,//Hatinya terpaut ke Allah,//Memberi kekuatan masyarakat miskin//Menyelamatkan mereka dari malapetaka//Membawa kegelapan menuju cahaya//Mengajak jiwa dan ruh menjauhi kesalahan//
//Sebuah rahmat bagi semesta alam//Meninggalkan ketertinggalan menuju keagungan, //Menaklukkan segala kejahatan//Agama-Nya murni dan benar,//Muhammad Sang Agung dan Mulia.//
Pujian kepada Rasulullah dalam bentuk puisi bukanlah suatu hal baru.

Imam Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir meriwayatkan bahwa Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib berkata: “Wahai Rasulullah, aku ingin memujimu.” Rasulullah saw. menjawab: “Allah akan memberimu kehidupan dengan gigi-gigi yang sehat.”

Lalu Abbas radiyallahu anhu berkata:
//Wahai Rasulullah, engkau telah harum sebelum diciptakan di bumi, dan ketika engkau berada dalam tulang rusuk Adam, ketika ia dan Hawwa menempelkan dedaunan surga ke tubuh mereka.//

//Engkau harum ketika Adam turun ke bumi engkau berada dalam tulang rusuknya, ketika engkau bukan seorang manusia, bukan gumpalan daging dan bukan gumpalan darah.//

//Engkau harum ketika berada pada tulang rusuk Nabi Ibrahim sang kekasih Allah, ketika ia dilemparkan ke sekumpulan api, sehingga tidak mungkin ia terbakar.//

//Sampai kemuliaanmu yang tinggi yang menjadi saksi akan keutamaanmu memuat dari suku yang tinggi dan di bawahnya terdapat lapisan gunung-gunung.//


//Ketika engkau dilahirkan, bumi menjadi bersinar dan cakrawala menjadi terang berkat cahayamu.//

//Maka Kami menerobos dalam sinar, cahaya dan jalan-jalan petunjuk itu.//

Memuji Nabi Muhammad saw. juga bukanlah perbuatan buruk dan menyimpang dari ajaran agama. Seorang Nabi mustahil gila pujian, namun tidak berarti kita terlarang memujinya; atau secara ekstrem menganggap memuji sama dengan menjadikannya sesembahan.

Menyanjung Rasulullah adalah mengakui dan menghirmati Nabi Muhammad saw. sebagai manusia pilihan. Memuji apa yang sepatutnya kita puji. Sebab kedudukan Nabi Muhammad saw. dalam agama Islam sangat penting. Sang Nabi tidak butuh pujian, maka kita yang butuh memujinya. Sang Nabi tidak membutuhkan kita, tetapi kita yang membutuhkannya.

Allah memuji Rasulullah saw. dengan menyatakan bahwa Muhammad saw. sebagai rahmat bagi alam semesta (Q.S. Al-Abiya’[21]:107), Allah pun bershalwat serta memerintahkan orang-orang yang beriman bershalawat kepada nabiNya (Q.S. Al-Ahzab[33]:56).

Perintah bershalawat merupakan perintah yang luar biasa. Allah perintahkan shalat, apakah Allah shalat ? Allah perintahkan haji, apakah Allah berhaji. Namun saat Allah perintahkan orang-orang beriman mambaca shalawat, Allah menyatakan bahwa Dia dan para malaikat bershalawat ke atas Nabi Muhammad (Q.S. Al-Ahzab[33]:56).

Demikian pula, Allah memuji Nabi dengan kata-kata indah,” “Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” (Q.S. Al-Qalam[68];4). Allah tidak memanggil namanya langsung, seperti “Hai Muhammad”, melainkan “Hai Nabi” (Q.S.Al-Anfal[8]:64,65,70); At-Taubat[9]:73; Al-Ahzab[33]:39-32,50,53,59; Al-Mumtahahanh[60]:12; Ath-Thalaq[65]:1 At-Tahrim[66]:2,9); “hai Rasul” (Q.S.Al-Mukminun[23]:51), “hai pria yang berselimut” (Q.S.Al-Mudatsir[]:1; Al Muzammil[]:1)..
Dengan firman-firman tersebut, Allah mengajarkan etika memanggil orang lain, apalagi tatkala menyebut nama nabi-Nya. Tidak layak memanggil nabi tanpa etika (Q.S.An-Nur [24]:63).

Selayaknya, menyebut namanya dengan menyanjung, sopan dan berharap agar rahmat dan keridhaan Allah tercurah kepadanya serta menjadi perantara syafaat untuk umatnya.
Jika sang Nabi tidak pantas dipuji, maka siapakah yang pantas ?.
Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammad wa ‘alā āshābihi wa ashābihȋ ajmaȋn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *