Sang Pengetuk Pintu Surga

by -626 views

WONOSOBOZONE.COM – Sekiranya surga telah ada di hadapan kita; ternyata kita tidak bisa langsung masuk. Ibaratnya, meski teman kita mempersilakan masuk rumahnya setiap saat, namun bila tak ada yang membukanya; kita tak bisa masuk. Bahkan ketika sudah di depan pintunya. Apalagi, saat kita berada di tepi jurang neraka dan butuh pertolongan sedangkan amal-amal kita tidak cukup. Amal-amal kita sudah habis untuk menebus orang-orang yang pernah kita dzalimi dan kita rampas hak-haknya.

Apakah kita masuk surga tanpa hambatan, sedikit hambatan atau sangat terlambat, kita tak bisa langsung membuka pintunya. Kita akan berada di depannya selama pintu belum terbuka. Kita tetegun, sebab tak kuasa masuk surga tanpa sang pengetuk pintu. Ada seseorang yang diberi otoritas oleh Allah untuk mengetuknya. Bila seseorang itu belum mengetuknya, para malaikat penjaga pintu surga tetap akan berdiam diri. Tidak akan membukanya.

Sebelum masuk, rombongan surgawi akan berhenti terlebih dahulu. Mungkin di halaman atau emperan surga seraya menunggu pintu surga diketuk oleh kekasihNya. Bukan karena rombongan surgawi tidak bisa membuka sendiri pintu surga. Akan tetapi ada seseorang hamba Allah yang hendak menghormati rombongan surgawi. Dia sangat menyayangi dan merindukannya sehingga dia ingin membukakan pintu surga kepada rombongan yang datang. Tidak sopan bila kita nylonong sebab merasa sudah diijinkan masuk. Ada sang Nabi, kekasih Allah yang akan mengetuknya.
Bilapun kita pantas masuk surga; maka apakah dan siapakah akan memantaskan serta mengetuk pintunya untuk kita ?.

Sahabat nabi yang bernama Thalhah ra., dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw. Jaminan itu tidak serta merta didapat. Akan tetapi karena cintanya yang besar kepada Nabi, sehingga dia rela menjadi perisai Nabi dari tebasan pedang dan bidikan anak panah orang-orang kafir Makkah.

Suatu ketika sahabat Thalhah bermimpi berada di pintu surga bersama dua sahabat dari suku Qudha’ah. Kedua sahabat yang kaya raya ini sangat dermawan dalam perjuangan. Yang satu mati dalam peperangan, yang satu mati karena sakit. Thalhah bermimpi keduanya dipanggil masuk surga. Namun yang dipanggil adalah sahabat yang mati karena sakit terlebih dahulu daripada yang mati karena perang.

Di kemudian hari Rasulullah saw. menjelaskan bahwa si sakit dipanggil ke dalam surga terlebih dahulu karena si sakit mati setahun setelah peperangan. Di mana dalam setahun setelah peperangan itu, dia tekun beribadah, puasa bulan Ramadhan dan sebagainya. Hal ini menegaskan bahwa masuk panggilan masuk surga tetap beradasarkan ketekunan dalam ketakwaan.

Sahabat yang mati karena sakit, mengalami perjuangan hebat dengan mempertaruhkan nyawa dan harta saat peperangan. Namun dia diberi kesempatan umur lebih panjang untuk menambah amal pasca peperangan. Kaya raya, dermawan, dan rela ikut berdarah-darah dalam penderitaan menegakkan agama Allah; maka untuk mereka surga.

Nabi pun bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umur dan baik amalnya. Dan seberapa baik amal kita ? Tidak tahu. Kita pikir baik, ternyata penuh kepalsuan. Tidak benar-benar untuk Allah, tetapi untuk nafsu egonya. Kita pun tidak tahu amal mana yang menjadi penyebab masuk surga. Mungkin saja mengunjungi seseorang yang lemah di antara penduduk bumi ini; menjadi penyebab masuk surga. Mungkin saja tegur sapa kita kepada sesama manusia; membuang sampah pada tempatnya, membersihkan mesjid, sopan santun dan amal-amal kecil yang tampak remeh.

Maka, masuk surga terkait dengan kulitas hidup. Tak ada rumah besar atau kecil, tak ada kedudukan, status duniawi, tak ada nama besar atau kecil; bila saatnya mati manusia hanya disebut dengan nama tunggal, yaitu jenazah.

Karena tidak tahu amal apa yang akan menjadi penyebab masuk surga, maka Tuhan bilang; yang penting jalani ujian hidup, beramal dan niatkan karena menaati Allah saja. Dan jangan terlalu yakin bahwa amalnya pasti diterima (Q.S.Al-Mulk[67]:2).

Yang akan ditimbang adalah amalnya. Surga akan diperoleh menurut mawazin (bobot) amal ibadah. Sesungguhnya timbangan Allah adalah haq (adil), tanpa ada kekurangan dan manipulasi (Q.S,Al-A’raf[7]:8-9).

Oya, siapakah sang pengetuk pintu surga tersebut ? Bahkan malaikat penjaga surga tak membukakannya sebelum diketuk oleh beliau.
Dialah Rasulullah saw. Beliau mengetuk pintu surga. Kemudian para penghuni surga masuk sesuai pintu masing-masing.

Beliau bersabda, ‘Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, kemudian aku mengetuknya. Para penjaga surga bertanya, ‘Siapakah Anda?’ Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Mereka berkata, ‘Aku diperintah tidak membuka pintu surga untuk seorang pun sebelum engkau mengetuknya,’” (HR. Muslim).

Setelah pintu dibuka oleh Rasulullah SAW, kemudian para malaikat penjaga surga mengucap salam penghormatan kepada rombongan surgawi. “Kesejahteraan terlimpah untuk kalian. Berbahagialah kalian semua !.” (Q.S. Az-Zumar[39] :73).

Rasulullah saw. juga bersabda, ”Surga itu tak boleh dimasuki seluruh Nabi sampai aku memasukinya. Surga pun tak boleh dimasuki umat nabi manapun sebelum umatku memasukinya.” (HR Daruqutni).

Namun, apakah bila tak meneladani akhlaknya, kita pantas sebagai umatnya ? Apakah bila tidak pernah bershalawat untuknya, kita pantas sebagai umatnya ?

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling saya cintai dan paling dekat dengan tempat saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Sementara orang yang paling saya benci dan tempatnya paling jauh dari saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong.”

(HR. Tirmizi) Nabi saw. juga bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian yang paling dekat dariku di hari kiamat adalah yang paling banyak bersalawat terhadapku.” (HR. Baihaqi)

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Foto : Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *