Satu Masalah Dua Solusi

by -383 views

WONOSOBOZONE.COM – Dahulu, Nabi Ibrahim ‘alahissalam tidak dikaruniai putra hingga usia renta. Kemudian dia menikah dengan Hajar. Dari pernikahannya, dia dikarunia seorang putra bernama Ismail. Di kemudian hari, Sarah yang renta juga melahirkan anak, yakni Yitzhaq (Ishaq).

Masalah yang sama terjadi pada Nabi Zakariya. Isterinya, Elizabeth (Elyshiba binti Faqudza, mandul. Dia pun sudah renta (Q.S.Maryam[19]:8). Tetapi akhirnya juga dikarunia anak, bernama Yohannes (Yahya).

Kondisi Nabi Zakariya tersebut dinyatakan dalam Alquran sebagai berikut,”(Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu pada hamba-Nya, Zakariya. Yaitu tatkala dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku. Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya, aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, padahal istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. (TQ.S,Maryam [19]: 2-5).

Yang dimaksud mawali adalah orang yang akan melanjutkan misi ajaran agama sepeninggalnya, yaitu misi keluarga besar nabi Ya’qub ‘alaihis-salam (Bani Israel) yaitu imamat (kepemiminan keagamaan) dan risalah Ilahiah (mengajarkan agama Allah). Maka, dia memohon pewaris (putra) yang akan membimbing, membina dan mendidik ajaran Allah kepada Bani Israil. Hal ini bisa dimengerti, sebab dalam usia renta dan isteri mandul; hampir mustahil mendapatkan putra.

Dalam keluarga, anak merupakan harapan terbesar, terutama untuk melanjutkan misi keluarga. Maka, memperoleh karunia anak, melebihi karunia lainnya. Apalagi bagi Zakaria dan Ibrahim ‘alahimassalam. Mereka sangat gelisah mengenai siapa yang akan meneruskan misi kenabiannya. Namun demikian, Allah bekerja tidak menurut kehendak kita. Bahkan seorang Nabi pun, tidak kuasa mendikte-Nya. Allah bekerja menurut kehendakNya. Ketika Allah tidak menghendaki keturunan bagi hambaNya, maka tidak ada keturunan. Sebaliknya, bila Dia berkehendak pasti terwujud; meskipun perwujudannya tidak seketika. Akan tetapi melalui proses tertentu, dalam waktu dan ruang takdirNya (Q.S. Yasin[36]:82).

Zakaria ‘alaihissalam adalah seorang utusan Allah yang menjadi imam Bani Israil. Isterinya, Elisabeth juga wanita shalihah. Di dalam Bible disebutkan,“Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”(Lukas, pasal 1 ). Namun kedekatan dengan Allah, tidak berarti tanpa ujian. Justru ujiannya sangat berat.
Nabi Zakariya terus berdoa agar Allah menganugerahi putra. Terwujud atau tidak, Allah Maha Bekehendak.

Namun, seseorang yang beriman harus tsiqah (kukuh) pada keyakinan pada kehendak dan kekuasaanNya. Allah Maha Mengatur segala kejadian. Dengan ilmuNya, segala sesuatu terwujud. Termasuk penciptaan manusia, kehamilan dan kelahiran (Q.S. Fathir[35]:11; Fushilat[41]:42).

Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.
Melalui kitabiyah, kita mengetahui apa yang dilakukan Zakariya ‘alaihissalam. Yaitu, dia tidak berhenti pada keadaan. Akan tetapi fokus doa dan melihat rahmat Allah. Dalam tempaan takdir; sesulit apapun tetap harus menyandarkan harapan dan baik sangka kepada Allah. Hal ini penting bagi hidup seorang yang beriman. Tanpa iman, kita tidak bisa melihat kuasa Allah.

Kegelisahan Zakariya ‘alaihissalam, sama sekali tidak terkait dengan jabatan, kedudukan dan rezeki, akan tetapi soal kelanjutan misi kenabian. Dia mengharapkan pewaris (putranya); sebagai pembimbing dan pembawa masyarakat kepada jalan yang lurus (agama Allah). Hal ini bisa dimengerti karena tugas kenabian tidak menarik, dibanding dengan statuta duniawi lainnya berupa jabatan dan kedudukan.

Namun bila tidak ada kepemimpinan keagamaan dan misi kenabian terputus, maka umat manusia akan tersesat. Satu-satunya jalan bagi Zakariya ‘alaihissalam adalah mempersiapkan keturunannya menjadi penerusnya.

Untuk itu, dia memohon kepada Allah tanpa putus asa. Dia ingin melihat Kuasa Allah nyata dalam hidupnya. Dia menyadari keadaan dirinya yang tua dan istrinya yang mandul. Seccara teoritis mereka mustahil berketurunan. Namun dia yakin, rahmat dan kekuasaan Allah jauh di atas semua teori dan nalar manusia. Lagi pula ketika seseorang berada di titik nadzir, buntu dan mengalami hal yang tak mungkin mampu terpikirkan (impensable); maka cara terbaik adalah mengembalikan urusan kepada Allah Swt. Sang Maha Pengurus.

Dia yakin sesuatu yang mustahil, dapat wujud atas Kuasa Allah. Sebagaimana tatkala dia mengunjungi mihrab keponankannya, Maryam. Disitu dia sering melihat Allah menganugerahi rezeki kepada Maryam (Q.S. Ali Imran[3]:37)..

Setiap dia masuk mihrab Maryam, dia mendapati rezeki (makanan). Padahal tak seorang pun mengirimnya. Dia melihat kuasa Tuhan nyata. Maka, dia tidak berputus asa. Iman adalah percaya dulu baru melihat. Berbeda dengan akal. Akal melihat dulu, baru percaya.
Zakariya menggunakan iman sebagai kekuatan. Dia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, maka dia melihat kuasa Tuhan nyata. Dia mengulang terus permohonannya kepada Tuhan. Memanfaatkan waktu, tempat dan momentum untuk munajat kepadaNya (Q.S.Maryam[19]:4). Di Mihrab pula, Zakariya berdoa (Q.S.Ali Imran[3]:38).

Dia meyakini di Mihrab tempat Tuhan menurunkan rezeki; sebagaimana telah diberikan kepada Maryam. Di kemudian hari Zakariya memperoleh kabar gembira tentang anugerah seorang putera. Dan Allah menamakan puteranya itu, Yahya/Yohannes (Q.S.Maryam[19]:7).

Zakariya dan Ibrahim ‘aliahismassalam memiliki masalah yang sama. Yaitu tidak dikaruniai anak hingga usia renta. Namun solusinya beda. Ibrahim ‘alaihissalam menikah lagi, sedangkan Zakariya ‘alaihissalam memilih terus berdoa. Apakah Ibrahim ‘alaihissalam tidak berdoa ? Tentu berdoa. Ibrahim ‘alaihissalam poligami untuk mendapatkan keturunan. Sedangkan Zakariya monogami. Apakah dia salah ? Tidak. Dia mencari solusi atas masalahnya. Bahkan, Sarah menyetujui suaminya, agar menikahi Hajar.

Kedua Nabi tersebut secara historis memberi pemahaman kepada kita bahwa masalah yang sama, bisa saja solusinya berbeda. Namun hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah tetap pada jalur-Nya, meyakini kuasa Tuhan akan nyata pada waktuNya dan tidak berhenti pada masalah, apalagi putus asa.

Manusia diberi pilihan untuk mengatasi masalah. Selalu ada pilihan solutif dalam suatu masalah. Solusi itu bisa dari dukungan dan inspirasi orang lain, inspirasi, pengalaman atau pun ilham. Nabi Ibrahim memilih menikah, dan Zakariya memilih berdoa sepanjang hayat. Kedua-duanya baik di sisi Tuhan. Terus menerus berdoa menunjukkan bahwa seseorang seharusnya menghadirkan Tuhan dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun sosial.
Hal lain yang perlu kita pahami adalah kedua Nabi tersebut memiliki visi yang sama, yaitu membangun kemanusiaan pada jalur Tuhan.

Keduanya mengkhawatirkan kelanjutan peradaban manusia. Bukan pada warisan harta, kedudukan atau statuta. Mereka mengharapkan keturunan yang mampu mengemban risalahNya; mengaktualisasikan dan mewujudkan nilai-nilai Ilahiah di muka bumi.
Jadi, ada tugas keilahian pada setiap kelahiran manusia. Yaitu, kepemimpinan ke jalan benar (Q.S. Ali Imran[3]:39; Al-Furqan[25]:74).

Kepemimpinan pribadi, keluarga dan masyarakat yang mewujudkan nilai-nilai Ilahiah di muka bumi. Kepemimpinan yang membangun peradaban manusia di atas jalan Ilahi. Sehingga; harta, jabatan dan statuta duniawinya adalah sebagai sarana mengabdi kepada Tuhan (Q.S.Al-An’am[6]:162).. [wajihsay@]

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *