Sebaik-Baiknya Doa

by -1,818 views

WONOSOBOZONE.COM – Terdapat doa yang dibaca umat Islam setiap hari dalam berbagai momentum maupun kegiatan. Apapun doanya, sering diakhiri dengan doa : “Rabbanā ātinā fi al-dunyā ḥasanah wa fi al-ākhirati hasanah wa qinā ‘aẓab al-nār (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Al-Baqarah[2]: 201).

Doa tersebut dianggap sebagai doa sapu jagad karena mencakup semua perkara dunia dan akhirat. Manusia membutuhkan kebaikan di dunia dan akhirat. Namun kebaikan dunia belum tentu baik untuk akhirat. Dan manusia tidak mampu menanggung keburukan di dunia apalagi di akhirat.

Alkisah, seseorang berdoa agar Allah segera menimpakan ‘siksa’ kepadanya di dunia daripada di akhirat. Orang tersebut kemudian sakit parah dan tergeletak tak berdaya. Ketika Nabi menjenguk, beliau mengingatkan agar tidak mohon keburukan, meskipun untuk menghindari keburukan (siksa) di akhirat. Akan tetapi hendaknya mohon kebaikan (hasanah) di dunia dan akhirat serta dipelihara dari neraka.

Ḥasanah dalam doa tersebut, bermakna al-‘afiyah wa al-kafaf (kesehatan prima dan kecukupan). Makna ini menunjukkan bahwa kita sangat membutuhkan kesehatan prima ( al-shihat al-tammat). Juga kecukupan rezeki (sesuai dengan kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang). Kesehatan dan kecupuan adalah dua hal yang baik dalam kehidupan kita. Banyak hal yang bisa dilakukan jika tubuh sehat. Serta, nyaman dan tenteram bila Allah mencukupi kebutuhan. Tidak perlu rakus, dengki dan merasa sangat kekurangan.

Kata al-‘afiyat terkadang juga dimaksudkan perlindungan dari segala macam keburukan serta kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi bahaya. Allah akan melindungi hambaNya apabila mengikuti petunjuk dan menaati perintahNya. Maka, al-‘afiyah juga dimaknai keadaan tubuh yang sehat nan prima untuk melakukan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini bisa dimengerti, sebab banyak orang yang sehat namun malas beribadah, bantu orang lain, bergerak untuk kebaikan dan sebagainya.

Adapun kebaikan di dunia antara lain harta, pangkat, kedudukan, anak-anak, ilmu, kesehatan, kecukupan, petolongan dari permusuhan, dan sahabat yang banyak. Secara lahiriyyah itulah kebaikan duniawi yang sempurna. Namun tidak mutlak, dalam arti bahwa kebaikan di dunia tidak akan menjadi kebaikan yang sempurna tanpa pertolongan Allah. Bahkan ‘kebaikan’ dunia itu bisa membawa malapetaka di akhirat.

Semua ‘kebaikan yang sempurna’ di dunia itu adalah pintu kebaikan di akhirat; atau gambaran kebaikan di akhirat apabila mendapat pertolongan Allah. Oleh sebab itu pada doa “wa fil akhirati hasanah” yang dimaksudkan adalah keselamatan dari kesulitan di hari perhitungan amal (hisab) atau selamat dari hisab yang buruk, serta memperoleh kenikamatan yang sedap dipandang mata dan dirasakan hati, hingga kelezatan ‘melihat’ Allah.
Dengan kata lain, maksud kebaikan di dunia dan akhirat adalah memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat, atau rahmat dan ihsan (segala hal baik) yang menyelamatkan atau mendatangkan kebaikan di akhirat, sehingga masuk surga Adalah percuma jika memperoleh kebaikan di dunia, namun berakhir buruk di akhirat.

Maka penting juga memohon kepada Allah dijaga dari api neraka. Yaitu memperoleh ampunan dan dimasukkan surga dengan lancar atau tanpa diazab terlebih dahulu. Hal ini bisa dimengerti karena saat ‘kebaikan dunia’ menjadi jalan durhaka kepada Allah, niscaya akan mencelakakan di akhirat. Kedudukan, harta benda dan semua karunia duniawi sama sekali tidak berguna apabila tidak mendatangkan kebaikan di akhirat.

Nabi Ibrahim berdoa,”Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,(TQ.S. Asy-Syu’ara[26]:87-88).

‘Kebaikan dunia’ itu sungguh sangat kecil dibandingkan ‘kebaikan akhirat’ Tidak ada satu celupan pun dibanding luasnya samudera. Hanya butiran debu yang melayang di dalam jutaan galaksi. Hanya satu hembusan nafas hidup dibandingkan dengan nafas kekal di kehidupan akhirat.

Kebaikan dunia bersifat sementara dan fana. Apa yang kita makan; jadi kotoran. Apa yang kita simpan, jadi rebutan. Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kehebatan dan kekayaan semuanya sekadar hiasan. Menempel sekejap, kemudian lenyap bahkan dalam hitungan detik.
Semua yang digenggam di dunia, ada waktu dan ruang terbatas. Membosankan dan pasti berakhir. Akan sangat rugi dan celaka bila hanya bergantung pada kebaikan dunia. Maka, orang yang meyakini ‘kampung akhirat’ akan memilih ‘kebaikan akhirat.” Dia akan memanfaatkan kebaikan dunia, untuk ‘membayar’ kebaikan dan keselamatan di akhirat. Karunia ‘afiyah lebih baik setelah al-yaqȋn,.

Nabi saw. bersabda,
“Mohonlah ampunan dan ‘afiyah. Sesungguhnya seseorang tidak diberi karunia yang lebih baik yang lebih baik setelah al-yaqȋn, (yaitu) ‘afiyah” (HR. Tirmidzi)
Dan beliau saw. mengajarkan doa ‘afiyah :
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon maaf kepada Engkau, dan ‘afiyah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon maaf kepada Engkau, dan ‘afiyah pada agama, keluarga dan hartaku” (HR. Abu Daud)..^[w@]^

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *