Klaster Surga

by -817 views

WONOSOBOZONE.COM – Tidak penting apakah surga di akhirat adalah surga tempat di mana dahulu Adam dan Hawa menjalani kehidupan sebelum turun ke bumi; ataukah Tuhan menciptkan surga baru. Namun bila berpijak pada janji Allah bahwa luas surga akhirat adalah seluas langit dan bumi (Q.S. Ali Imran[3]:133), maka dapat dipastikan surga cukup untuk ditempati milyaran manusia.

Bumi ada pada galaksi Bimasakti, berada pada jarak 30.000 TC (tahun cahaya) ke pusatya. Radius galaksi kita adalah 50.000 TC (tahun cahaya). Diameter bumi adalah 12.756 km, di bulatkan menjadi 12.000 km. Sedangkan diameter matahari adalah 1.392.000 km dibulatkan 1.200.000 km. Jadi perbandingan diamater bumi dan matahari = 12.000:1.200.000 > 1:1.000. Jika di bumi 1 cm, maka di matahari 10 m (1000 cm). Dibanding matahari, bumi yang kita tempati sangat kecil. Seberapa besar bumi di alam semesta ini ? sebutir debu ? Allah Maha Mengetahui.

Alam semesta adalah ruang dan waktu yang diisi oleh benda-benda yang kita kenal sebagai planet, asteroid, komet, bintang, galaksi, semua yang ada di ruang antar bintang dan galaksi serta seluruh materi dan energi. (Q.S. Ali Imran[3]:91-92; Shad[38]:27; Al-A’raf[7]:54) Kemampuan manusia sangat terbatas, maka tidak bisa mengetahui dengan pasti ukuran alam semesta (maksrokosmos).

Apa yang tampak oleh kecanggihan teknologi optik pun baru setitik dari seluruh alam semesta. Sebab masih ada ‘lubang hitam’ yang belum terjangkau manusia. Apa yang terlihat ‘ada’ baru dalam batasan alam semesta yang sudah berhasil diamati atau yang disebut sebagai alam semesta teramati. Misalnya oleh Teleskop Hubble. Itupun baru beberapa galaksi yang tampak. Setiap galaksi memiliki jutaan bintang. Dan masing-masing sistem bintang memiliki planet.

Jarak antar bintang dan galaksi diukur dengan kecepatan cahaya. Cahaya bergerak dengan kecepatan 299,792,458 meter/detik dalam ruang hampa (hampir 300.000 kim per detik). Jadi dalam satu tahun, cahaya menempuh jarak 9.467.280.000.000 km. Misalnya, matahari.. Jarak bumi dan matahari 150 juta km. Cahaya matahari butuh waktu 8 menit untuk bisa tiba di bumi. Atau dengan kata lain, jarak bumi – matahari itu 8 menit cahaya.

Jarak galaksi Bima Sakti ke galaksi Andromeda 2,5 juta tahun cahaya. Dan itu belum seberapa. Ada sekitar 2 Triliun Glaksi yang sudah teramati di alam semesta. Dan masing-masing galaksi diisi oleh jutaan sampai milyaran bintang. Berapa jarak antar bintang dan antar galaksi ? Seseorang menjawab :”Mbuhlah !.”

Sejauh ini, kita meyakini bahwa Allah adalah Pencipta (Q.S. Al-Anbiya[21] :30 ; Al-A’raf[7] :54 ) sekaligus Rabb (Pengatur) alam semesta (Q.S. Al-Fatihah[1] :2). Allah juga yang akan menghancurkan alam semesta (Q.S.Al-Ahqaf[46] :25).

Teori kosmologi menyebut bahwa alam semesta memuai atau mengembang. Pemuaian/pengembangan alam semesta ditandai oleh galaksi-galaksi yang bergerak saling menjauhi. Ruang antar galaksi semakin lebar. Namun lambat laun energi masing-masing benda langit semakin lemah. Mungkin itulah saat kehancuran alam semesta. Bintang-bintang, galaksi dan benda-benda langit hilang kesetimbangan, hingga akhirnya saling bertabrakan. Itulah,”bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip.” (Q.S. Az-Zalzalah[99]:1-2; Al-Anbiya’[21]:104; Al-Furqan[25]:25)

Secara teoirtis, setelah alam semesta hancur, maka perlu pemulihan (recovery) agar kembali seperti semula, atau bahkan lebih indah. Di dalam Alquran disebutkan bumi diganti dengan bumi yang lain (Q.S.Al-Kahfi[18]:47). Barangkali setelah pemulihan alam semesta inilah surga disiapkan Allah untuk orang-orang beriman dan beramal shalih. Mereka kekal di dalamnya selama dikehendaki Allah.

Sedemikian luasnya surga, apakah tidak mungkin Allah membuat kluster surga untuk manusia (Q.S. Ar-Rahman[55]:46,62). Artinya, manusia tidak menempati surga yang sama. Di dalam ajaran Islam ada beberapa nama surga antara lain Jannat al Firdaus,’Adn, Naim, Khuldi, Ma’wa, Qarar dan Dar al-Salam. Demikian pula pintunya memiliki nama-nama antara lain bab al-walid; bab sh-shadaqah, bab sh-shalat, bab ar-rayyan, bab al-jihad, dan sebagainya. Pintu ahli kebaktian kepada orangtua, sadaqah, shalat, puasa, jihad dan sebagainya. Pintu-pintu ini identik dengan amal perbuatan manusia.Seseorang yang sempurna dalam iman dan amal, niscaya masuk surga melalui semua pintu tersebut.

Rasulullah saw. juga menyebut bahwa surga memiliki banyak derajat. Di surga, terdapat perbedaan derajat di antara para hamba Allah menurut amal masing-masing. Jadi, bolehlah….kita meyakini bahwa Allah menciptakan surga dengan bermacam-macam kluster (kelompok, himpunan).

Ibarat perumahan di sebuah real estate, ada yang type 21,36,45, 90 dan seterusnya. Karakteristik bangunan, kamar dan model sebanding dengan harga dan daya beli. Mungkin galaksi-galaksi adalah kluster-kluster surgawi. Demikian halnya karakteristik taman, bangunan, kamar-kamar dan model surga sebanding dengan amal perbuatan. Ibarat taman ada yang 10 m2, 100 m2, sehektar, 2 hektar hingga ratusan hektar. Karakteristik dan estetika taman sebanding dengan jenis dan jumlah tanaman. Maka, demikian pula karakteristik taman surga sebanding dengan jenis amal shalih manusia di dunia.

Meskipun masing-masing kluster memiliki karakteristik tertentu (sesuai derajatnya) namun terhubung sedemikian rupa karena memiliki dasar yang sama, yaitu disediakan untuk orang yang beriman dan beramal shalih. Kluster surga tidak diperoleh karena harta, tinggi pangkat, popularitas, ras, suku bangsa dan identitas dunia lainnya. Kluster diperoleh hanya dengan keimanan dan amal shalih.

Hal tersebut menunjukkan keharusan konsistensi iman dan amal shalih, serta hati yang bersih dari syirik (Q.S. Al-Ashr[103]:1-3; Asy-Syu’ara[26]:88-89). Setiap orang memiliki tingkat keimanan dan amal perbuatan yang berbeda. Oleh sebab itu, sangat relevan jika ada tingkatan-tingkatan dan atau klaster-klaster yang berbeda dalam menampati surga.

Namun kluster-kluster itu saling berdekatan membentuk satu relasi keridaan Allah. Tentu dekatnya ‘waktu’ dan jarak ukhrawi berbeda mutlak dengan dekatnya ruang di dunia. Meski demikian, mereka bisa berhubungan satu sama lain. Mereka bisa saling menjenguk (Q.S. Ash-Saffat[37]:54-5).

Bisa saja dengan teknologi yang sangat canggih, atau berhubungan secara fisik dengan transportasi secepat cahaya. Penduduk surga bisa pergi ke kluster lain dengan kendaraan cahaya sebagaimana Nabi Isra’ Mi’raj.
Jika kita memilih arti jannah sebagai kebun atau taman yang penuh pepohonan (hadzqat dzat al-syajjar) ; maka seberapa indah kebun itu, adalah sebanding dengan seberapa banyak kita menanam pohon. Mosok, kita menanam sebatang pohon (di dunia); ingin tumbuh ribuan pohon dengan berbagai jenis di akhirat.

Para nabi, syuhada, shiddiqin dan muhsinin niscaya berbeda tempatnya dengan orang yang hanya shalat sekali setahun. Orang-orang seperti Abu Bakar Ash-Shidiiq, ‘Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf radiyallahu ‘anhum ; yang harta bendanya hampir semua disedekahkan untuk menegakkan agama Islam, niscaya berada di kluster yang megah dan luas. Orang-orang yang menanam banyak pohon (amal) niscaya akan tumbuh banyak pohon pula (Q.S. Al-Baqarah[2]:261; Al-An’am[6]:160).
Semoga kita memperoleh kluster surga yang terbaik, luas dan indah . Wallahu a’lam

Oleh H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *