Pasca Kematian Ikan Secara Masal, Masyarakat Diminta Jaga Kelestarian Lingkungan Dan Alam

by -41 views

WONOSOBOZONE – Peristiwa kematian masal ikan di Waduk Wadaslintang yang terjadi beberapa waktu lalu, ternyata turut menyita perhatian yang serius bagi Pemkab Wonosobo. Atas peristiwa tersebut, Bupati Wonosobo Eko Purnomo mengajak masyarakat Wonosobo untuk mendukung, menjaga dan melestarikan keberadaan alam sekitar.

Saya mengajak seluruh warga Wonosobo untuk mendukung, menjaga dan melestarikan keberadaan alam yang bersih dan hijau, termasuk Waduk sebagai sumber daya alam yang wajib kita lindungi kehidupan dan keberlangsunganya,” kata Bupati Wonosobo Eko Purnomo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Prespektif Pengelolaan Waduk Wadaslintang, pasca Kejadian Kematian Massal Ikan dalam rangka usaha budidaya Karamba Jaring Apung (KJA) di Pendopo belakang, Selasa (27/8) pagi.


Dalam sambutannya Bupati menuturkan, pada awalnya salah satu tujuan pembangunan Waduk Wadaslintang adalah, untuk mendukung program swasembada pangan. Namun seiring berjalannya waktu, pemanfaatan Waduk Wadaslintang telah berkembang dan semakin variatif, salah satunya yakni sektor perikanan.

Dengan luas genangan sekitar 1.465,6 Hektar, memiliki arti penting secara ekonomi bagi masyarakat sekitar waduk, terutama untuk kegiatan perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya,” terangnya.

Terkait acara FGD tersebut Bupati berharap, dapat memberikan solusi yang tepat untuk mengurai permasalahan yang terjadi, baik dari sisi teknis perikanan maupun ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat, tanpa menimbulkan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan.

Bupati Wonosobo Eko Purnomo SE MM berharap kematian masal ikan di Karamba Waduk Wadaslintang tidak terjadi lagi


Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Abdul Munir menyampaikan, perikanan tangkap yang ada di Waduk Wadaslintang, meliputi penangkapan ikan oleh nelayan jaring, nelayan jala dan pemancingan. Sedangkan untuk perikanan budidaya berupa, pembudidaya ikan dengan sistem Karamba Jaring Apung (KJA), yang dikelola oleh pihak perusahaan swasta dan masyarakat.


Budidaya ikan dengan sistem KJA ini, sudah berlangsung lebih dari 20 tahun, yang memberikan manfaat diantaranya penyerapan tenaga kerja, dan industri olahan ikan skala rumah tangga, dimana hal tersebut membawa multiflyer effect ekonomi yang signifikan,” ungkap Munir.

Lebih lanjut munir menjelaskan, dibalik nilai positif kegiatan usaha budidaya dengan sistem KJA ini ada konsekuensi logis yang terjadi, yaitu adanya degradasi kualitas perairan berupa timbunan sisa metabolisme ikan di dasar perairan waduk. Hal tersebut berpotensi menimbulkan up welling (pembalikan masa air), yang mana beresiko sebagai penyebab terjadinya kematian ikan secara massal.


Dan adanya kematian ikan secara masal dalam usaha budidaya ikan sistem KJA beberapa waktu lalu, dimungkinkan ada benang merahnya dengan penurunan kualitas perairan. Ditinjau dari berbagai barometer, baik dari fisik, kimia, maupun biologis dengan munculnya up welling yang menyebabkan gagalnya usaha budidaya ikan karamba tersebut,” tandasnya. (W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *